Kisah Mimpi seorang Hamba Sahaya

“Setiap diri kita adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin”

suatu saat khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita dari seorang hamba sahaya tentang mimpinya.

Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat.Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apa yang engkau lihat?” tanyanya.

Read More »

Advertisements

Belajar dari Shafiyah binti Abdul Muthalib

Suatu hari terdapat perbincangan antara Hamzah, Shafiyah,dan anaknya, Zubair.

Shafiyah               : Wahai abangku, Hamzah.. Ini  pertamakalinya hatiku merasa gembira..  Setelah  wafatnya al awwam di Perang Fijar, kegembiraan dan kebahagiaan menaungi rumah tangga Muhammad dan Khadijah. Kebahagiaan mereka juga bertambah dengan lahirnya Qasim,

Hamzah                : Semoga Tuhan pemilik Ka’bah menjaga Muhammad, istri dan anaknya. Semoga dengan menikahi Khadijah, Muhammad melupakan kesusahannya sewaktu kecil..

Shafiyah               : begitulah pamanmu, wahai Zubair

Hamzah                : (sembari tertawa menyampaikan kepada Zubair) Aku berharap kelak engkau jadi kesatria seperti ayahmu..

Zubair                   : tentu saja, wahai pamanku 🙂

Hamzahpun tertawa riang.

Read More »

Collaborative Planning – belajar dari Kang Emil

belajar dari Kang Emil: Collaborative Planning

(dalam Diskusi Kampung Wajah Kota – Gaung Bandung)

1380746_10200943450451395_318017997_n

“Jadi begini, di dalam teori kekuasaan, pemerintah itu bisa merubah sebesar 25%, jadi saya, dan jajaran saya, juga anggaran, itu hanya bisa merubah 25%. Berikutya, capital, itu bisa merubah 25%, civil soceity 25%, dan media 25%. Dulu saya mencoba membuat apa yg bisa saya lakukan dengan BCCF, Indonesia Berkebun, dsb tapi itu kekuatannya hanya 25%. Sekarang kita berada disini, ini kekuatannya 50%.”

Read More »

Ketika Khalid Menang (Lagi)

Siapa tak mengenal Khalid?

Ijinkan saya menuliskan kembali alasan Abu Bakar menunjuknya sebagai Panglima Perang ummat Islam masa itu.

Demi Allah, aku tidak tahu apakah Abu Ubaidah lebih baik dari Khalid. Jasanya begitu banyak. Akan tetapi Khalid bagaikan mushibah bagi orang yang berperang dengannya. Bukan Abu Ubaidah, dan bukan pemimpin yang lain. Adapun Abu Ubaidah, dia adalah seseorang yang lembut hatinya dan tidak takut mati. Ia hanya sering terburu-buru dan itu akna membawa kerugian bagi pasukan muslim. Itu akan memperlambat. Amr bin Ash, punya strategi dan cara berpolitik yang baik. tapi kadang perhitungannya kurang matang, maka itu kurang baik. Ikrimah bin Yazid, Surakhbil; semuanya bagus. Tetapi tidak seperti Khalid dalam mengatur dan menjalankan strategi. Adapun Khalid, seperti yang dikatakan banyak orang-orang; jeli seperti elang, buas seperti singa, cepat dan cekatan, tanpa kompromi. Mempunyai strategi yang bagus dan bagus dalam berperang.

-Abu Bakar Ash Shiddiq, Tentang Khalid bin Walid

Suatu hari ketika terdengar kabar bahwa Khalid menang lagi dalam pertempuran, Abu Bakar, Umar, dan Utsman sedang duduk-duduk bersama. Mereka pun berbincang demikian.

Abu Bakar mengatakan, “Abu Sulaiman belum pernah mengecewakanku. ALhamdulillah. Aku selalu berdoa kepada Allah agar tujuannya bisa tercapai sebelum pasukan Romawi mengalahkan kita. Dan sekarang aku lebih tenang.”

Read More »

Sikap Umar di Masa-masa Awal Kepemimpinan

Masih dari serial belajar kepemimpinan ala nabawiyah ya sahabat. Catatan ini saya lanjutkan berkaitan dengan catatan sebelumnya, masih dari bilik kepemimpinan Umar ibn Al Khattab. Sila disimak 🙂

Masih ingat ketika Umar berpidato di hadapan rakyatnya di catatan yang lalu? Di momen yang sama, Umar juga menyampaikan wasiat Abu Bakar yang disampaikan kepadanya sebelum beliau wafat. Umar mengatakan,

Wahai manusia, dengarkanlah. Berdirilah, Mutsanna. Ini adalah saudara kalian… Mutsanna bin Harits As-Saybani. Aku telah mengetahui ujian yang diterimanya di Irak. Orang-orang muslim di sana hanya sedikit dan lemah. Mereka takut akan orang Persia yang ingin merebut kembali tanah kelahirannya Irak. Sebelum Abu Bakar meninggal beliau berpesan kepadaku agar tidak melupakan dan terlambat untuk mengembalikan pasukan kepada Mutsanna. Demi Allah, ini adalah Jihad, dan pengorbanan.”

Seketika itu, apa yang terjadi? Terjadi kasak kusuk diantara rakyat yang dipimpin oleh beliau.

Read More »

Pidato Pertama ‘Umar ibn Al Khattab sebagai Khalifah

Terbacakan surat dari Abu Bakar di hadapan kaum muslimin:

Bismillahirrahmanirrahiim. Ini adalah akhir masa Abu Bakar bin Quhafah sebelum meninggalkan dunia dan permulaan menuju akhirat. Balasan bagi orang-orang yang beriman, orang-orang hina yang bertaubat, dan para pembohong yang mengatakan kebenaran. Jika Umar bin Khattab memerintah setelahku, maka dengarkanlah ucapannya, dan taatilah perintahnya. Aku tidak memilihnya berdasarkan hawa nafsuku. Aku memilihnya karena Allah dan RasulNya dan untuk kebaikan umat muslim. Jika ia berbuat adil, maka itu adalah prasangka baikku. Jika tidak, setiap orang akan mempertanggungjawabkannya. Hanya kebaikan yang aku inginkan, dan aku tidak mengetahui hal yang ghaib. Dan akan diketahui siapa yang berbat dzalim nanti di hari ketika bumi dibolak-balikkan.

Seorang shahabat yang membacakan surat tersebut, kemudian mengatakan, “Mendekatlah Umar. Ulurkan tanganmu, kami akan membaiatmu.”

Read More »

Memilih ‘Umar sebagai Pengganti

“Menyelami sirah, menemu makna, meniru teladan, meresapi dan menerapkan seperti yang diajarkan”
-roihanah, 2014-

Suatu hari Abu Bakar menyampaikan dalam majelisnya,
“Ya Allah, aku telah memilihnya, demi kebaikan umatMu. Adapun sikap keras dan kekakuannya adalah karena ia melihatku lemah. Jika diberikan kepadaku perintah, maka banyak yang tidak dikerjakan. Hai manusia, kebanyakan kalian telah dibutakan oleh urusan dunia. dia seperti apa yang telah rasulullah sabdakan,
Demi Allah, aku khawatirkan jika kalian itu miskin. Akan tetapi, aku lebih mengkhawatirkan jika kalian tergoda oleh dunia seperti kaum-kaum sebelummu. kalian sibuk dengannya seperti yang disibukkan mereka dan kalian akan hancur seperti kehancuran mereka‘.
Tidak ada diantara kalian orang seperti Umar. Zuhud akan dunia, keras dalam hal kebenaran, tidak takut dicaci dan dihina. Aku telah menyerahkan urusan ini pada kalian, agar kalian memilih diantara kalian. Dan kalian mengembalikannya kepadaku sambil berkata, ‘Pendapat kami adalah pendapatmu.’  Ketika aku memilih yang terbaik menurutku, seolah ribuan orang meragukannya.”

Kemudian seorang shabat menyampaikan, “Demi Allah, ia (‘Umar) adalah orang yang shalih.”
Read More »