Shahabat Nabi pun meminta dilihat sebagai manusia biasa

Seringkali kita merasa harus menjadi yang paling baik, menuntut yang paling baik, meminta akhlaq terbaik; sedang siapakah kita?

Kita hanya manusia biasa.

Saat saya menempa diri saya pribadi untuk menjadi lebih baik, berusaha lebih keras, tidak selalu hal itu berjalan mulus, juga karena keterbatasan diri belajar istiqamah. Tetapi kita tidak boleh berhenti begitu saja, bukan? Kita dicipta Tuhan yang kita cinta bukan untuk menyerah kalah, tetapi memang menjadi Khairu Ummah.

Saya hendak bercerita kembali, ada konteks perbincangan antar shahabat Nabi, yang jarang kita temui di Sirah, bahkan saya mendapatkannya dari serial Omar; yang mana perbincangan ini semoga menyadarkan kita, bahwa sekelas Shahabat Nabi, yang majelisnya langsung dipimpin oleh Rasulullah saw juga menyadari keterbatasan diri: hanya hamba biasa.

Perbincangan itu terjadi setelah wafatnya Rasulullah. *sejujurnya saya sedih sekali setiap kali mengingat momen wafatnya Rasulullah, walau saya bukan siapa-siapa, dan tidak melakukan apa-apa*. Simak baik-baik ya, sahabat.

Read More »

Advertisements

Kasih sayangMu, Rabbana…

di posting di facebook pada tanggal February 15, 2015 at 11:37pm

10982454_10204119336686566_1161225058674609293_n

Petang ini seseorang menyampaikan kurang lebih seperti ini,

“Mba, kamu sakit gini aja juga masih banyak rezekinya, aku kemarin sakit tidak ada yang menjenguk.. Aku kesini membawakan pesananmu, aku niatkan jadi pemberian, tapi justru ktika aku datang, engkau sudah menyiapkan bekal untuk kubawa pulang, aku semakin merasa tidak berharga di depanmu. Kok bisa mba seperti itu?”

(kurang lebih seperti rangkuman ungkapannya, dengan editing redaksional)

Read More »