Apa itu Home Education? Bagaimana Home Education Berbasis Fitrah

​*Resume Kulwap HEbAT Nasional*

📆Hari/Tanggal: Jum’at, 26 Agustus 2016

⏰ 14.00-17.00 wib

Admin     : Bunda Deasy (Bandung)

Host.       : Bunda Umi (Jogja)

Co Host. : Bunda Dini (Sulawesi) dan ayah Muji (Bekasi)

Peresume  : Bunda Farda (Surabaya)
💖 Apa itu Home Education? Dan bagaimana HE berbasis fitrah?💖 

👳🏻Narasumber : Ust. Harry Santosa

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Assalamualaykum.wr.wb 

Ayah bunda apa kabar, tetap semangat ya 🙂

🙏

Ayah Bunda yg baik, 

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kepada siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kepada anak2 kita. Namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pada galibnya mengenal dan merindukan sosok Rabb.

2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati.

3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifiknya di muka bumi.

4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqil baligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke-4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke-4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat. 

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif. 

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya. 

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia. ✅

+—————————————————–+

💖 Bagaimana Memulai Home Education? 💖

Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita. Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.

Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu. Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik. Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya. Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya. Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya. Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.

Silahkan dibuka surat 62:2.

Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 – Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya. 

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka,

yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan

kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta

mensucikan mereka.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.

Doa Nabi Ibrahim as adalah “pembacaan”, “pengajaran” , “pensucian”

Jawaban Allah adalah “pembacaan” dan “pensucian” sebelum memulai proses “pengajaran” (ta’limunal-Kitaba walHikmah). Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge. Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE :)🙏. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya. Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran. Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses “inside out”, membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan “outside in”. Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll)…. namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (مَا بِأَنْفُسِهِمْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous. Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2. Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya… Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini. Sampai sini, silahkan jika ada masukan dan pendapat :)🙏

📜Tanya Jawab

1⃣ Bunda Ririn,Jogja

Apa korelasi antara fotrah bakat orang tua dan fitrah bakat anak? dikatakan bahwa ORANG TUA perlu MENGAWALI dengan MENGEMBALIKAN fitrah2 baiknya dahulu, sehingga nanti fitrah baik anak akan bertemu fitrah baik orang tua.Nah bagaimana dengan orang tua yang “terlanjur” tidak berkembang potensi bakatnya? bekerja tidak sesuai dengan potensi bakatnya. apakah ortu yang seperti ini tidak bisa maksimal mengekplore potensi bakat anaknya? apakah ortu harus fokus menggali (mengembalikan) potensi bakatnya dulu sebelum akhirnya menggali potensi bakat anak?

1⃣ bunda Riri yang baik di Jogja,

Ada ungkapan yang bagus yaitu “raise your child, raise your selves”. Betapa banyak kita temukan di banyak keluarga, ketika ayah dan bunda serius mendidik fitrah anaknya, maka pada saat bersamaan Allah berikan begitu banyak manfaat diantaranya adalah diberikan hikmah yang banyak dalam mendidik dan juga potensi2 fitrah dirinya semakin muncul ke permukaan.

Ketika menyadari bahwa anak anaknya memiliki misalnya fitrah bakat, banyak orangtua kemudian mulai merefleksikan ke dirinya untuk menemukan fitrah bakatnya. Ketika menyadari bahwa fitrah keimanan anak nya memerlukan keteladanan dan atmosfir keshalihan, lalu banyak orangtua yang kemudian menjadi berupaya mengenal Allah lebih baik dari sebelumnya agar bisa menggairahkan cinta anaknya kepada Allah. 

Lakukan saja dengan paralel, dengan menyambut panggilan Allah untuk fitrah peran mendidik anak, insyaAllah akan Allah kembalikan banyak fitrah fitrah kita yang tersimpangkan atau terkubur.

Memang ada kendala ketika fitrah bakat orangtua baru ditemukan di saat fase mendidik anak, misalnya harus berubah karir, berubah bisnis dsbnya yang tentu bisa beresiko waktu dan finansial bagi keluarga. Tapi di banyak kasus lainnya justru orangtua bahkan menemukan karir yang lebih sesuai dengan fitrah bakatnya karena mulai belajar dari bagaimana anak anak mereka berbahagia menjalani bakatnya. 

Ini juga berlaku untuk semua aspek fitrah lainnya ✅

2⃣ Cahya, Bekasi

Pak Harry, idealnya Ayah berperan penting dalam proses HE ini. Namun banyak kita temui sosok Ayah hanya brperan di ranah mencari nafkah saja sampai ada ungkapan Indonesia sebagai fatherless country. Jika karena satu dan lain hal sang Ayah belum bisa diajak bekerja sama dan menjalankan fungsi pembangun peradaban dengan baik, bagaimanakah kemudian langkah kita? Atau seberapa mungkinkah seorang ibu menjalankan HE seorang diri? Terima kasih

2⃣bunda Cahya yang baik di Bekasi,

Idealnya HE melibatkan seluruh anggota kelurga, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, ayah, ibu, kakak dstnya. Para ayah di zaman ini umumnya memang disibukkan mencari nafkah, kehidupan di luar rumah luarbiasa kerasnya bagi para ayah sehingga banyak yang meninggalkan posnya dalam mendidik anak. 

Langkah praktisnya adalah bunda dan anak anak asik saja membuat beragam program yang seru, sehingga lama kelamaan semoga ayah menjadi sadar untuk terlibat dalam mendidik. 

Namun, jika ayahnya sudah sadar akan peran mendidiknya yang penting namun tetap tidak bisa terlibat penuh maka sesekali minta agar ayah mengambil cuti dan menyusun misi dan visi keluarga bersama. Peran ayah yang utama bukan mencari nafkah, tetapi merancang misi visi dan mendidik.

Ayahlah yang sebaiknya find the way, lead the way dan show the way. Sebagai contoh Nabi Ibrahim AS, beliau punya misi dan visi yang kuat yang diabadikan alQuran dalam doa doanya untuk anak dan keturunannya.

Dari misi dan visi inilah bunda bisa menurunkan menjadi kurikulum HE bagi anak anak dan peran ayah diperlukan sebagai penasehat dan pengatur strategy. 

Tentu perbanyaklah berdoa agar keluarga kita diberikan jalan terbaik dalam mendidik generasi dan menemukan serta menjalankan misi visi keluarga ✅

3⃣ Yusuffajar, Jogja Assalamua’alaikum

Pak Harry bisa dijelaskan tentang struktur insan (manusia)?

Apa hakikat dari manusia itu sendiri jika diliat dari strukturnya tersebut?

Apa persamaan dan perbedaan makna nafs (bhs arab) dan psyche?

3⃣ayah Yusuf Fajar yang baik di Jogja,

Jika merujuk pada Ma’rifatul Insan maka manusia itu terdiri dari Aql, Ruh dan Jasad. Hakikat yang membedakan manusia dari makhluk lain adalah diberikannya Aql dan Ruh, ini terkait maksud penciptaan spesifik manusia yaitu sebagai khalifatullah fil ardh. Nafs dalam bahasa Arab adalah jiwa. Saya tidak tahu perbedaan makna nafs (jiwa) dan psyche (dalam perspektif barat), yang jelas pendekatan psikologi barat menolak adanya ruh dan fitrah manusia. Barangkali ustadz Adriano bisa menjawabnya ✅

4⃣ Risna – Bekasi

Ustadz saya mau bertanya, HE diawali dgn proses tazkiyatunnafs utk orang tua. Lalu bgmn cr kita mengetahui kpn kita bs memulai HE? apakah bs dimulai HE dgn beriringan proses tazkiyatunnafs..? terima kasih 🙏

4⃣bunda Risna yang baik di Bekasi,

Menjalankan HE sesungguhnya sudah inherent ketika kita berumah tangga dan diamanahkan anak. Mengapa ada tazkiyatunnafs (pensucian jiwa), karena banyak orangtua yang menikah tanpa memiliki kesiapan lahir bathin untuk menjalankan fitrah peran keayahan dan keibuannya sehingga memerlukan upaya penyadaran kembali melalui tazkiyatunnafs. Tazkiyatunnafas ini bukan di awal saja, namun sepanjang kita mendidik anak bahkan sepanjang hidup kita senantiasa diperlukan, diantaranya agar Allah berikan Qoulan Sadida, yaitu tutur dan ucapan yang berkesan mendalam sampai ke hati anak, fikiran dan idea yang bernas yang mampu mengisnpirasi dan menggairah anak, serta sikap dan tindakan yang pantas dan layak diteladani.

Tazkiyatunnafas itu terdiri dari 5 M:

Mu’ahadah, yaitu mengingat kembali akan janji dan sumpah serta tugas/misi kehidupan kita.

Muroqobah, yaitu senantiasa mendekat kepada Allah, bermunajat dan berdoa untuk anak anak kita

Mujahadah, yaitu bersungguh sungguh menjalani peran peran kita

Muhasabah, yaitu terus menerus mengevaluasi potensi dan problematika

Mu’aqobah, yaitu tidak sungkan bertaubat dan menghukum diri jika ada kelalaian  ✅

5⃣ Rahmaniar-Baubau

Assalamu’alaikum ust harry yg dirahmati Allah,saya baru mengenal konsep HE sekitar 3 bulan ini.sy masih bingung dalam menentukan arah yg sesuai dgn bakat anak saya dan memberi hak&kewajiban sesuai usia dan gaya belajarnya.catatan:anak sy laki2 umur 12 thn dan bergaya belajar kinestetik.anak tsb sangat suka membaca,namun disatu sisi sangat terampil merangkai kepingan puzzel,lego dsb.dia juga sangat tertarik dgn semua jenis alat transportasi,dan bercita2 keliling dunia.mohon pencerahannya,ut talent mapping sy arahkan ke profesi apa dan magang pada maestro bakat apa?

5⃣bunda Rahmaniar yang baik di BauBau,

Sejujurnya saya tidak bisa memastikan bakatnya (strength) nya apa. Sepintas seperti traveler dan engineer. Saya kira perlu pendalaman dan pengamatan lebih banyak. Di usia sebelumnya dianjurkan untuk Tour de Talents untuk memperbanyak wawasan dan aktifitas yang relevan dengan sifat unik nya.

Jika ini belum dilakukan, sebaiknya juga dilakukan sebelum memastikan.

Tetapi memang usia 11-14 tahun memang tahapan yang baik untuk mengembangkan bakat anak dengan serius. Kalau di pendidikan sepakbola FIFA, usia 11 tahun (U11) sampai U13 sudah wajib melakukan match (pertandingan) 36 kali dalam setahun, kemudian U14-U16 wajib 48 kali match setahun begitu seterusnya sampai menjadi pro di U17. 

Di zaman Nabi SAW, beliau sudah mulai magang berdagang bersama pamannya di usia 11-12 tahun. Di Indonesia, anak anak lelaki Minangkabau sudah malu tidur di rumah sejak usia 9 tahun dan mulai rantau di usia 14 tahun.

Jadi saran saya, bunda dan suami sebaiknya melakukan

0. Tour de talents jika belum dilakukan (kunjungan ke berbagai profesi dan maestro)

1. Talents Mapping untuk memastikan bakatnya apa atau ke psikolog untuk pendalaman jika diperlukan

2. Pembuatan personal kurikulum berbasis fitrah, termasuk bakatnya.

3. Pemagangan jika sudah jelas Bakatnya (diberikan Maestro Bakat)

4. Pendamping Akhlak.

5. Evaluasi dan monitoring

6⃣ Lani- Kendari

Bagaimana jika, passion orang tua berada di bidang yg tidak memungkinkan nya utk mnjadi ortu full timer? Bahkan part timer pun mungkin sangat sedikit waktunya. Krn jam kerja nya 7 hari seminggu, 24 jam sehari. Jika memilih meninggalkn bidang yg jd passion ny trsebut, dan kmudian itu jd hasrat trpndam yg tak trtunaikan, apkh akan brdampak pd pengasuhan anak saat mndampingi mrk mnumbuhkembangkan fitrahnya?

6⃣bunda Lani yang baik di Kendari,

Mendidik anak, idealnya adalah cerita tentang kita sebagai orangtua harus selesai dengan diri kita dan mengutamakan mendidik anak. Konflik banyak terjadi jika kita tidak selesai dengan diri kita. Namun jalan tengahnya adalah mensinergikan semua potensi dan passion di dalam rumah tangga dan menuangkannya di dalam MISI / peran keluarga dan distrategikan prioritasnya. Semua makna dan potensi di dalam keluarga harus dapat disinergikan dan diprioritaskan ✅

7⃣Inna – bekasi 

Maaf ustad, mhn penjelasan ttg macam aspek fitrah yg harus dibangkitkan pada diri anak.terutama utk anak usia 7 th? Manakah aspek fitrah yg kita dahulukan? apakah memungkinkan semua aspek fitrah dibangkitkan bersama? Jazaakalloh

 7⃣bunda Inna yang baik di Bekasi, 

Usia 0-7 adalah golden age bagi fitrah keimanan, namun bukan berarti fitrah lainnya diabaikan, tetap ditumbuhkan sesuai tahapannya. Dalam prosesnya tentu bisa bersamaan, misalnya bunda bisa outing bersama anak ke alam, mengenalkan Allah dengan ciptaannya di alam semesta, menginspirasi gairah fitrah belajarnya dengan memancing ananda bertanya. Mengajaknya meraba, menyentuh, merasakan dll untuk senso motoriknya, bermain melompat dll untuk fitrah jasadnya. Memeluk mencium dsbnya untuk menguattkan attachment bagi fitrah seksualitas dan cintanya Mengamati aktifitas yang disukai lalu mencatatnya untuk fitrah bakatnya dstnya.✅

8⃣Yenni – Baubau

Assalamu’alaikum wr wb

Ustadz sy mau nanya, apakah HE dgn mengembalikan fitrah pd anak dgn gg psikologis hiperaktif (ADHD, sedang proses terapi) sm dengan anak tanpa gangguan psikologis? Karena gangguan ini menyebabkan anak jauh tertinggal perkembangan emosi dan prilakunya.

8⃣bunda Yenni yang baik di BauBau,

Secara prinsip sama, dalam pendidikan berbasis fitrah yang diperlukan adalah keyakinan, kebersyukuran penuh para orangtua bahwa tiada anak yang Allah ciptakan tanpa peran istimewa kelak, dan itu semua dimulai dari fitrah yang ada dalam setiap anak yang lahir. Tentu ada beberapa hal yang memerlukan terapi untuk bisa berkomunikasi dan bersosial dengan lebih baik. Keyakinan dan kebersyukuran orangtua akan potensi fitrah anak anaknya yang membuat mereka tetap optimis dan rileks dalam mendidik, telaten dan shabar dalam mengobservasi dan memberikan hal yang diperlukan. Mohon maaf, anak anak down syndrome pun punya peran istimewa kelak, karena tiap keterbatasan tentu memiliki kekuatan di sisi lain. Itulah kesempurnaan ciptaan Allah.

Dengan pendidikan berbasis fitrah maka orangtua akan fokus dengan kekuatan anaknya bukan keterbatasannya ✅

 9⃣Inggrid – Bekasi

5 M tahapan tazkiatunnafs, poin terakhir Mu’aqobah, ak sungkan bertaubat dan menghukum diri ketika kita lalai. 

Contoh menghukum diri yg spt apa? 

9⃣Inggrid yang baik di Bekasi,

Kalau Umar bin Khattab ra, menginfaqkan seluruh kebunnya karena lalai pada Allah SWT. Tetapi bagi kita, dalam hal kelalaian dalam mendidik anak, cukuplah bertaubat pada Allah dan meminta maaf pada anak dengan tulus. Memeluk anak dan berbisik di telinganya untuk meminta maaf merupakan hal amazing bagi anak dan dikenang seumur hidupnya. Banyak kasus anak menjadi berubah perilakunya menjadi baik dengan segera ketika orangtua meminta maaf dengan tulus atas kesalahannya selama ini dalam mendidik ✅

🔟 Ayah Wasis-Banyumas

Assalamualaikum.. Pak Harry..terima kasih atas sharing kulwapp materi pokok 1 nya. Pak yg pengin saya tanyakan apakah nanti ada panduannya buat pensucian diri atau seperti apa ya spy kita sebagai ortu tahu betul dan sadar keempat fitrah dr diri kita mana yg sdh baik sm yg belum, sehingga nanti saat mendidik anak, sdh jelas arah dan batasannya?

Terima kasih.

🔟Ayah Wasis di Banyumas yang baik,

Sesungguhnya Allah SWT punya mekanisme untuk kembali ke fitrah setiap tahun, yaitu bulan Ramadhan. Ini adalah bulan yang harus dijalani dengan imanan dan ihtisaban sehingga kita kembali kepada titik kesadaran potensi fitrah tepat ketika 1 Syawal. Ramadhan adalah momen terbaik, walau kita bisa juga membuat momen sendiri bersama pasangan (dan anak anak jika sudah berusia 7 tahun ke atas) untuk bertekad kembali kepada titik kesadaran potensi fitrah kita.

Ukuran sederhananya kembali ke fitrah adalah gairah dan cinta. Jika kita bergairah dan cinta kepada Allah maka itu pertanda fitrah iman sudah kembali merekah indah. Jika kita bergairah dan cinta belajar dan bernalar sampai melahirkan berupaya melahirkan karya inovasi bagi alam dan kehidupan, itu pertanda fitrah belajar kita kembali merekah indah. Jika kita bergairah dan cinta kepada suatu aktifitas yang produktif yang baru ditemukan sehingga memberi banyak manfaat, itu pertanda fitrah bakat kita mulai kembali merekah indah. JIka kita kembali bergairah dan cinta untuk mendidik anak sendiri dengan sungguh sungguh itu pertanda fitrah keayahan dan fitrah keibuan kita kembali merekah indah  ✅

1⃣1⃣Onish-Surabaya

Assalamu’alaikum Ustadz, Alhamdulillah dan terima kasih  dpt ksmptn bertanya.

Sy ibu 2 anak. Hampir 3 thn ini dg HE. Pertanyaan sy: Anak pertama co (3th) sesuai fitrah prekmbngnnya sngat demand aktivitas fisik, bermain di alam dan kluar rumah, sdg anak kedua msh bayi(2bln) dan menuntut tempat yg tenang dan fokus bahasa. Terlintas ingin menyekolahkn kakak saja. Bagaimana baikny? 

Trimakasih sblmnya

1⃣1⃣ bunda Onish yang baik di Surabaya,

HE tidak pernah mempermasalahkan apakah anak bersekolah atau tidak, namun HE menuntut tanggungjawab orangtua terhadap pertumbuhan seluruh aspek fitrah anak anaknya. Karenanya sekolah hanya opsi dan tidak dapat menggantikan kewajiban mendidik ayah dan bunda. Jika harus bersekolah maka pastikan sekolah mendukung kurikulum HE di rumah untuk menumbuhkan fitrahnya, bukan rumah yang mendukung sekolah.

Beberapa sekolah bisa bekerjasama untuk mengembangkan fitrah, beberapa sekolah tidak bisa bekerjasama. Saya bicara dengan kepala dinas PAUD, ternyata tidak ada tupoksi nya bekerjasama dengan orangtua.

Perlu disadari ada banyak fitrah yang anak perlu ditemani untuk merawat dan menumbuhkan fitrahnya, dan itu hanya bisa dilakukan oleh orangtua. Misalnya fitrah seksualitas, ini memerlukan attachment kedua orangtua. Fitrah bakat, ini memerlukan pengamatan sungguh sungguh dan pendokumentasian dari orangtua. Fitrah belajar dan bernalar, ini juga memerlukan orangtua yang rajin menginspirasi dan memberikan idea.

Fitrah estetika dan bahasa, ini juga memerlukan kehadiran penuh orangtua, dalam bahasa ibu (mother tongue) dsbnya. ✅

📜Penutup:

Alhamdulillah, ayah bunda dan teman2 HEbAT atas pertanyaan pertanyaan yang luar biasa. Home Education atau Home based Education sebagaimana bunda Septi dan ust Adriano bilang, bukanlah hal yang luar biasa, karena memang kewajiban para orangtua sejak zaman Nabi Adam AS. 

Dengan banyaknya kasus penyimpangan generasi selama beberapa dekade ini dan semakin lama semakin parah, ternyata masalahnya adalah pada ketidakhadiran peran ayah dan ibu dalam mendidik. Maka kami bertekad untuk mengembalikan peran ayahbunda dalam mendidik anak, sebagaimana diamanahkan oleh alQuran dan alHadits serta telah dilakukan oleh para orangtua sejari selama berabad abad sejak zaman Nabi Adam AS. 

Semoga Allah SWT mudahkan kita untuk mengembalikan fitrah peran kita sebagai orangtua sejati yang mampu mendidik fitrah dan adab anak anak kita agar kelak mereka bisa menjadi generasi dengan peran peradaban terbaik dan adab termulia. Allah ridha dan cinta pada mereka, merekapun ridha dan cinta pada Allah SWT.

Mari kita bergandeng tangan mewujudkan ini secara berjamaah, saling menasehati dalam ., kebenaran dan kasih sayang. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Allahumma aaamiin.

Terimakasih kepada para kordinator HEbAT di seluruh Indonesia, jazakumullah khoiron jazaa :)🙏✅

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Nice Home Work #1 Adab Menuntut Ilmu

📚NICE HOMEWORK #1📚

ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU” kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmsuh shalihaat, rabbi zidni ‘ilman, warzuqni fahman.

  1. Jurusan Ilmu yang akan saya tekuni dalam universitas kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim. Jurusan ilmu yang akan saya tekuni dalam universitas kehidupan adalah jurusan arsitek peradaban. Ilmu menjadi arsitek, menjadi perancang peradaban. Artinya, saya ingin mengambil jurusan yang mendidik saya menjadi pemeran peradaban, baik di lingkungan domestik yakni rumah tangga (sebaga anak, istri, dan ibu, serta nenek nantinya), dan lingkungan publik yakni kontribusi kepada masyarakat.

  1. Alasan terkuat ingin menekuni ilmu tersebut

Alasan saya ingin menekuni ilmu tersebut, pertama dan utama adalah menyadari fungsi penciptaan saya di dunia ini, setelah 26 tahun ini, akhirnya tertakdir saya berprofesi sebagai arsitek. Kedua, seiring berjalannya masa pembelajaran dalam kehidupan saya menyadari bahwa sesungguhnya saya tidak hanya diutus menjadi semata-mata arsitek bangunan/hunian/lingkungan binaan, tetapi saya juga kemudian belajar bagaimana menjadi arsitek sesungguhnya yang memiliki peran terhadap jalannya peradaban ini.

Sesuai dengan visi seorang hamba, yang terlahir untuk ibadah dan menjadi khalifah, lalu menjadi bagian ummat terbaik yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, saya ingin mampu mengoptimalkan peran tersebut dalam diri saya, bagaimana mendidik diri menjadi sebaik-baik hamba, lalu kemudian menjadi sebaik-baik manusia bagi sekitarnya, sebagaimana diajarkan dalam hadits. Oleh karena itu, saya ingin menekuni dengan sungguh-sungguh peran tersebut agar mampu merealisasikan tugas saya sebagai seorang hamba Allah yang sudah diberi tupoksi oleh Allah.

  1. Strategi menuntut ilmu yang direncanakan di bidang tersebut

Strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan adalah dengan menentukan step-step yang harus saya lalui dalam menuntut ilmu, diantaranya:

  1. Selalu berniat dan menjaga niat menuntut ilmu, lalu menentukan ilmu-ilmu yang akan dipelajari (membuat to do list dan prioritynya) dan tujuannya
  2. Memilih guru yang dijadikan rujukan pembelajaran dan metode menuntut ilmu yang disepakati agar dalam menuntut ilmu mampu berkomitmen serius menjalani setiap tahapannya
  3. Mendokumentasikan ilmu yang telah diperoleh dengan membuat catatan ringkasan ilmu tersebut, menulisnya kembali agar menempel dalam ingatan sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib bahwa ilmu harus diikat dengan tulisan
  4. Mengamalkan agar ilmu tidak hanya sekedar menjadi tumpukan tulisan, tetapi dapat dikaji trial errornya dan diambil hikmahnya
  5. Mengajarkan dan menularkan ilmu tersebut kepada orang-orang dekat, partner utama yakni suami, baru kemudian teman dekat dan kepada publik melalui akun-akun pribadi saya
  6. Mengulang-ulang menerapkan ilmu, mengupgrade kapasitas, melengkapi pengalaman-pengalaman tambahan yang ditemukan, dan mendokumentasikannya kembali agar menjadi pembelajaran bersama.

4. Perubahan sikap yang saya perbaiki dalam proses mencari ilmu diantaranya adalah

  1. Memperbaiki niat dan adab secara simultan, barangkali ini bukan hal mudah karena pasti ada naik turunnya. Karena ini kaitannya dengan pekerjaan ruhiyah, sehingga, saya secara perlahan harus memulai kembali menata hati dan ibadah agar proses menuntut ilmu menjadi barokah
  2. Tidak mudah berputus asa dan tidak boleh berorientasi mencari pujian makhluk, atau tergiur karena makhluk.
  3. Semangat mengumpulkan dan menyaring ilmu-ilmu yang diperoleh, lalu kemudian menarasi-ulangkan ilmu tersebut dengan lebih baik
  4. Melibatkan partner utama yakni suami dalam proses pembelajaran kehidupan agar diperoleh masukan dan saling saran dalam implementasi ilmu yang diperoleh.

Demikian jawaban atas NHW #1 ini, semoga Allah meridhoi setiap niat baik, dan Allah mampukan untuk beramal lebih baik dari yang diniatkan.

Materi perdana kuliah matrikulasi IIP batch 2 ini mengingatkan saya pada sebuah resume pembelajaran saya beberapa waktu silam, dapat dilihat dalam link berikut: Guru: antara ilmu, adab, dan keteladanan. Menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, semoga saya mampu menjadi murid dan guru yang baik nantinya.

Allahumma aatii nafsii taqwahaa wa zakkihaa, wa anta khayru man zakkaha wa anta waliyyuha wa mawlaahaa..

Wallahu ‘Alam bish shawab

-Ita Roihanah-

Cara berkomunikasi diantara kita

a-good-relationship-starts-with-good-communication-quote-1

Sudah lama tulisan ini hanya mampir di draft, alhamdulillah kini bisa diunggah.

Pelajaran komunikasi, bagi saya, tampaknya akan menjadi pelajaran sepanjang hidup yang takkan pernah usai. Komunikasi adalah satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan orang lain. Tidak ada yang bisa kita lakukan dalam hidup di dunia ini, tanpa kita berkomunikasi dengan orang lain. Karena kita tak hidup sendiri dan kita membutuhkan orang lain. Maka kita harus tau bagaimana caranya hidup dengan orang lain. Salah satu syaratnya adalah berkomunikasi dengan mereka. Tanpa komunikasi yang baik, takkan akan pernah terjalin hubungan yang baik diantara kita dan mereka.

Saya bersyukur, keteledoran saya dalam berkomunikasi, seringkali memunculkan pengingat dari orang lain. Beberapa waktu terakhir saya begitu menandai bagaimana sahabat-sahabat saya memberikan nasihat luar biasa mengenai hal ini. Nasihat itu membuat saya berpikir dan merenung kembali. Sepertinya ada yang perlu saya perbaiki, saya susun kembali, tentang pemahaman saya dalam berkomunikasi.

Selama ini, saya memiliki konsep sendiri dalam pikiran saya, tentang tingkatan cara berkomunikasi dengan orang lain. Menurut saya, ada 3 tingkat komunikasi yang terjadi antara satu orang dengan orang lainnya.

Read More »

Tentang rizki

Barangkali tak ada artinya, seberapapun rizki yang dititipkan pada kita, ketika kita tidak mensyukurinya. Kita sibuk mencari pembanding rizki itu, sedang pada detik yang sama, orang lain harus berpeluh-peluh mendapatkannya.

-roihanah, 2015

Alhamdulillah, Rabb. Tak ada kata seindah hamdalah ketika diri ini mencoba mengingati begitu banyak rizki yang telah Allah berikan. Seberapa banyak pun diri ingin menuliskan, takkan mampu diri ini menuliskan. Terlalu banyak, terlalu indah, terlalu mempesona. Ma shaa Allah, laa quwwata illa billah.

Hari ini kembali saya merenungi betapa setujunya saya dengan sebuah kalimat sederhana yang dinasihatkan Ust Salim A Fillah pada suatu waktu tentang rizki. Beliau mengatakan, “Rizki itu bukan tentang izin memiliki, tetapi izin menggunakan – memakai“. Bagi saya, ungkapan ini begitu mendalam melalui setiap perjalanan saya. Betapa banyaknya rizki yang Allah hadirkan, sengaja bukan untuk saya miliki, tetapi saya diberi izin menggunakan rizki itu seperti apapun saya menginginkannya. Betapa Maha Kasih Sayang Allah, yang mengijinkan banyak rizki yang sampai kepada kita tanpa pernah kita perlu bersusah payah mencarinya. Allah hadiahkan pada waktu-waktu yang tepat, dengan kadar nikmat yang tak terduga.

Read More »

Menjadi orang biasa

Di tengah segala hiruk pikuk keramaian dunia ini, saya kemudian merenungi diri. Saya teringat seseorang pernah mengatakan kepada saya, “Saya adalah orang biasa, dan akan tetap menjadi pribadi yang biasa. Saya lebih bahagia hidup tanpa pujian orang lain.” Di lain waktu, dalam hal jatuh cinta, seorang penulis yang sedang terkenal saat ini, sebut saja namanya Fahd Pahdepie, mengatakan dalam bukunya, “Saya hanya ingin bercerita tentang kisah jatuh cinta orang-orang biasa.” Bukan kisah mereka dengan latar belakang keluarga yang sangat baik dan mapan, bukan kisah heroik mereka yang telah dianggap hebat di khalayak ramai. Aah, kisah orang-orang biasa. Seperti kisah yang disampaikan Salim A. Fillah dalam ceramahnya suatu hari, “Seindah kisah seorang perempuan paruh baya di pinggir persawahan Gunung Kidul yang membawa bekal makanan kepada suaminya dibungkus daun pisang untuk makan siang, di pinggir tegalan dengan seutas senyum dari gigi yang ompong.” Setulus dan sesederhana itu.

Read More »

Menata Ulang

Seperti itulah hidup. Barangkali kita harus mengeja banyak tanda, kita harus menjejak banyak cerita. Agar kita lebih mendewasa dalam pikir dan cara. Agar kita lebih rapi lagi menata rasa dan asa. Agar hidup ini lebih bermakna. -roihanah, 2015

25 tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk melukiskan cerita dalam kanvas kehidupan, Tetapi 25 tahun bukanlah apa-apa dalam hitungan waktu langit yang tak mampu kita eja. 25 tahun dalam hidup saya, merupakan 25 masa mencoba tumbuh dan mekar dengan segala musim kehidupan. Barangkali saya tak mampu menjelaskan detil fasenya, tetapi saya mampu belajar dari fase-fase itu. Fase-fase yang mendewasakan saya, pada waktu-waktu tak terduga. Saat yang lain masih pada anak tangga keberapa, saya harus telah sampai pada tangga keberapa. Dan tak pernah diajari untuk membanding-bandingkan, sehingga jika yang muncul perbedaan, hanya mencoba memaafkan saja, bahwa setiap cerita hidup orang berbeda. 🙂

Read More »

Jadi, bagaimana seharusnya pemahaman kita tentang pendidikan (anak)?

Dini hari ini, masih dari bilik rumah cahaya yang menghangatkan. Saya, ditemani salah satu member B-family membincangkan banyak hal tentang pengembangan kepribadian. Salah satunya adalah tentang trend pendidikan di rumah pada jaman kini. Saya menyampaikan padanya bahwa, di era timeline medsos saya dipenuhi dengan kebanggaan kawan-kawan yang fokus mendidik dari rumah [saja], entah mengapa saya belum menemukan titik ketenangan untuk meng-ikut jalur yang sama. Ada puzzle yang sepertinya belum terpenuhi dengan memilih metode itu. Barangkali ini juga karena kedangkalan ilmu saya tentang itu, ekspektasi yang belum terpenuhi berkaitan dengan metode itu dan as usual, tingkat kepuasan nalar intelektual saya tentang visi-misi pengembangan karakter yang belum terakomodasi dengan metode tersebut.

Suatu waktu di hari yang lain, sembari berselancar di laman-laman artikel mengenai urgensi, konsep, atau metode operasional tentang pendidikan di rumah; saya bertanya pada diri saya sendiri, “apakah itu cara terbaik yang sesuai dengan kondisi dan fase kehidupan masa kini (dan jika nanti akan saya pilih, maka itu harus menjadi pilihan yang mampu dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan)?“. Sampai hari ini, saya belum menemukan kecenderungan lebih untuk memilih opsi itu sebagai satu-satunya jalan pendidikan yang akan ditempuh dalam keluarga di masa depan.

Read More »