Memahami Tujuan Hidup

1396054_10200993687147281_2145774125_n

Setiap orang melakukan sesuatu sejatinya pasti memiliki tujuan. Setiap orang menjalani sesuatu pasti memiliki keinginan tertentu mengapa hal itu dilakukan. Ada harapan. Ada keyakinan. Begitupun hidup. Jika masing-masing dari kita ditanya, untuk apa sih hidup? Buat apa sih? Kira-kira, apa jawaban kita?

Saya lagi rindu catatan ini. Tahun lalu saya belajar dari orang-orang lebih dulu lahir dan menjalani hidup lalu berbagi pelajaran tentang bagimana memahami tujuan hidup. Berikut catatan saya tentang apa yang dibagi beliau-beliau: Aa Gym, Ust Arifin Ilham, dan Ust Yusuf Mansyur. Saya coba repost dan melengkapi ulang kembali. Agak panjang ya, semoga Allah limpahkan kesabaran kita dalam menuntut ilmu.

Aa Gym:

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar, Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhzim, Allahumma shalli ‘ala muhammad

Ya Allah, Ya Sami’  Ya Bashir, Allahummaftahlana hikmataka Ya Rabb, wanshur ‘alayna rahmataka Ya Dzal jalaali wal ikram, Allahumma nawwir quluubana bi nuuri hidaayatik, kama nawwartal ardha bi nuuri syamsik, ‘abadan abada, birahmatika Ya Arhamar raahimiin..

Read More »

Inspirasiku agar sabar

dipindah dari catatan facebook beberapa tahun silam

Oleh: Abi Hafidz Sulthon

Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”(HR. Muslim)

Read More »

Kisah Mimpi seorang Hamba Sahaya

“Setiap diri kita adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin”

suatu saat khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita dari seorang hamba sahaya tentang mimpinya.

Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat.Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apa yang engkau lihat?” tanyanya.

Read More »

Diskui Meja Makan : Antara Kebiasaan dan Ekspektasi

#edisi obrolan santai di meja makan

A: huft, makan tempe lagi.. every day is tempe’s day! ^^

B: *purapuragatau

A: mas, suka banget sih ama tempe?! tiap ari beli tempe, ga bosen ya? emang enak makan tempe terus? *berondongpertanyaaan

B: enak ga enak itu soal setting otak kita aja… *aseeekkk…ingat diskusi bbrp wkt lalu: di jepang itu walopun masakannya rasanya gimana aja bilangnya juga enak..itu hanya soal setting otak kita… di indonesia kita biasa makanan berbumbu..jawa tengah ama timur aja dah beda khas lidah nya.. klo di jepang,rasa enak itu ya rasa asli makanannya..

A: gitu? * diskusi mode on

Read More »

Mbah Putri tercinta

16 Desember 2011

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan tanggal ini,
Hanya saja,kini kukenang,
Bahwa hari itu ada dua duka,
Duka dalam perjuangan yang dipergilirkan menang kalahnya,
Duka dalam perjalanan yang dipergilirkan hidup dan matinya

Yah,
Kali ini aku tak akan membahas tentang duka perjuangan,
aku hanya membahas duka perjalanan,
Bagaimanapun dalam perjalanan kita,
dipergilirkan kehidupan dan kematian
bagi setiap pengembara perjalanan
yang berujung keabadian itu
Read More »

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Read More »

Nasihat gurunda tentang mendidik anak

Jangan jadikan anak-anak kita yatim sebelum waktunya. Anak-anak seharusnya yatim ketika orangtua mereka tiada, tapi di jaman kini, ketidakhadiran orang tua dalam pendidikan anaknya mempercepat masa itu tiba. Jangan berharap anak shalih hanya dengan menyekolahkan mereka di sekolah Islam tanpa turut andil; mereka berangkat tanpa pendidikan dan pulang menjadi shalih, itukah yang kita inginkan sebagai orangtua? lalu dimana peran kita, peran keluarga kita sebagai madrasah bagi anak-anak?

Jadilah orang tua yang dikagumi dan bisa diteladani oleh anak. Jadilah orang tua yang berprestasi di bidang kebaikan. Karena orang-orang yang dikagumi akan didengarkan oleh pengagumnya. Dan masalah akan selesai, anak akan mendengarkan bila orangtuanya teladan dan mengagumkan di matanya.

tumblr_mhu72dXJhe1s2mcpxo1_1280

Tentang Dakwah

Memang seperti itu dakwah.

Dakwah adalah cinta.

Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.

Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.

Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.

Tentang umat yang kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu.

Dakwah. Menyedot saripati energimu.

Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu.

Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.

Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban

karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.

Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.

Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.

Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.

Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.

Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. KURANG HEROIK [KAH]?!

Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;

luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih,

yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan.

Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan.

Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

TIDAK…!!! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.

Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani…

Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi…

akhirnya menjadi adaptasi.

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.

Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.

Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris.

Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.

Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran.

Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan,

sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.

Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati,

“Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.

Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…

Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Read More »

Shabar, Remnya Orang Beriman

Salaamun ‘alaykum bima shabartum, fani’ma ‘uqbad daar..
“Peace be upon you for what you patiently endured. An excellent is the final home”
Ar-Ra’d: 24

betapa nikmatnya memiliki pribadi yang shabar menjadi rem baginya,
Allah bersamanya, innallaha ma’ash shaabiriin,
syurga dihadiahkan untuknya,
shalat disandingkan menjadi penolongnya,
pahala diberikan baginya, berlipat-lipat, berlipat-lipat..

tapi, sungguh, ikhwatal iman,
betapa sulit sekali menjadikan diri bagian dari barisan itu
barisan orang-orang yang shabar
Read More »