Cara Pandang Kita

Saya ingin bertanya, apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat gambar ini? Megah, kokoh, mewah? Apalagi? Menawan?

Indah, tidak? Indah ya. Kadang, pengen ngga punya kehidupan atau punya tempat tinggal atau punya bayangan tentang kehidupan pasca menikah dengan kriteria spt itu: megah, indah, kokoh, menawan, mewah?

Terkadang, kita sering banget ya fokus melihat pada sesuatu yg terlihat menawan di mata kita. Sesuatu yang kira-kira akan membuat kita merasa bangga, nyaman, dan terhormat barangkali, karena kita kira itu letak ketenangan jiwa kita.

Tapi, coba zoom. Lihat ada seorang laki2 membawa ransel di sisi kanan. Terlihat ngga? Ternyata, ada sosok manusia yang tadinya kecil, ngga terlihat di mata kita semula, kita kira ngga punya arti, justru manusia itu yang membuat hidup kita berwarna.

Coba kita pikirkan lagi. Bukankah seringkali, keabaian kita pada faktor-faktor yg kita anggap kecil justru membuat apa yg sudah tampak besar di mata kita menjadi tak ada artinya?

Apalah arti rumah mewah, jika sepi jiwa penghuninya. Apalah arti kemegahan semua fasilitas yang kita punya atau diijinkan sampai ke kita jika keterhubungan diantara manusia di dalamnya justru retak dan porak poranda karena termakan rasa ketakjuban pada benda mati yang semu semata.

Bagi saya, sekilas foto bangunan ini memang begitu indah. Apalagi jika dibahas secara artistik. Tetapi foto ini tak berarti apa-apa tanpa manusia kecil yang hampir tak terlihat di dalamnya. Laki-laki yg membawa saya beperjalanan sejauh ini utk menjalani ibadah tak putus di samudera dun-ya.

Cara pandang kita dalam hidup, maupun dalam berumah tangga akan menentukan orientasi perjalanan bahtera kita; menentukan setiap pertimbangan, setiap keputusan, setiap citra diri yg ditampilkan, setiap performa yg diupayakan.

Jadi, sudahkah cara pandangmu membawamu ke jalan keselamatan; jalan sakinah, mawaddah warahmah till jannah?

______
#owow #kamimenulis #ipdepok
#ummumaryambercerita

Advertisements

Mengarungi Bahtera Bernama Keluarga

Saya teringat, dulu, saya punya we-time bersama almh ibu saya. Waktu itu adalah waktu-waktu ibu saya sedang dirawat di rumah sakit atau waktu-waktu saya men-charging rindu dengan beliau. Duduk di teras rumah, naik becak, atau sekedar menggeggam tangannya setelah operasi dan masa cuci darah adalah saat-saat saya menggali sebanyak-banyaknya petuah dari beliau tentang apa saja; salah satunya tentang berkeluarga, juga tentang cuplikan kisah perjalanan ibu dg alm ayah saya.

Suatu hari ibu saya berpesan, “Dulu Eyang Kakung itu berpesan pada ibu, ketika ibu akan menikah. Nduk, berumahtangga itu seperti kita sedang melaut dengan bahtera. Ketika kita mengarungi samudera tentu saja kita ketemu badai, ketemu karang. Lek ono kapal ketemu karang, kapale opo karange sing ajur? Sing ajur kudu karange, ojo kapale.

Ibu saya berpesan, dalam berumahtangga, nanti kita pasti kita akan ketemu masalah, sebagaimana kapal yg berlayar. Tetapi jika ketemu masalah, jangan sampai kapal kita yang hancur karena masalah itu. Kapal harus lebih kuat daripada karang. Jika kapal bertemu karang, jangan sampai kapal yang pecah nabrak karang, tapi karanglah yang harus pecah. “Itulah yang menjadi landasan ibu tetap selalu bersama ayah hingga maut memisahkan, walau sampeyan (kamu, dlm bhs Jawa) tau kan ibu juga pernah bertengkar sama ayah.”

Saat itu, belum terbayang bagi saya seperti apa kelak ketika bahtera keluarga saya berlayar. Kini, setelah saya menjalani hampir 4 tahun usia pernikahan; saya memahami dan menyelami pesan singkat ibu saya tadi. Bahwa menikah dan berumahtangga itu bukan tanpa masalah, tetapi justru kita ketemu masalah-masalah dan mendewasa bersama masalah-masalah itu. Ibarat sebuah CV, pada akhirnya kita punya sederet pengalaman menangani masalah seiring perjalanan pelayaran bahtera ini.

Saya melihat lagi, foto keluarga kecil kami. Laki-laki yang berdiri di sebelah saya ini ketika masa taaruf menyampaikan bahwa kami memiliki banyak persamaan tapi juga banyak perbedaan, yang itu akan menjadi tantangan saat bersama. Dan benar adanya.

Ketika ada dua orang sama-sama teguh pendirian, sama-sama punya track hidup yang kuat masing-masing, sama-sama seneng belajar, sama-sama senang menchallenge diri, sama-sama kritis, sama-sama keukeuh; apa kira-kira yang Anda bayangkan yg terjadi dalam rumah tangga mereka? Waktu diskusi kami lebih seru dari acara debat capres *wkwk, bahkan bisa dikira bertengkar karena perbedaan pendapat dan sudut pandang.

Saat kami belum bisa nemu ritme ngegas dan ngerem yang tepat, memang rasanya bahtera bernama keluarga ini seperti begitu mendebarkan seperti roller coaster di tengah badai laut. Seru banget! Itu karena kami bukan tipe yang sama-sama mengalah. Alhamdulillah kami tak bisa berlama-lama berbeda, karena visi dan misi kami yang sudah searah, membuat kami tau kapan meletakkan ego masing-masing dan menyeduh kopi bersama lagi.

Waktu demi waktu mendewasakan kami. Ilmu membuat kami tidak berhenti belajar terus untuk mengenali lebih dalam diri kami masing-masing dan peran kami masing-masing untuk membuat bahtera kami terus bisa berlayar dampai tujuan. Semakin kesini, alhamdulillahi bini’matihi tatimmush shalihat, kami tak lagi menunjuk, memaksa, menuntut siapa harus bagaimana. Kami memberikan versi terbaik yang bisa kami lakukan. Pada akhirnya kami belajar bagaimana caranya mengemudikan bahtera ini. Mohon doakan kami semakin lihai menahkodai bahtera kehidupan kami.

Kata pakar keluarga, lima tahun pertama adalah masanya sebuah pasangan yang berumahtangga menyelesaikan dirinya sendiri karena setelah itu mereka harus fokus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tidakkah lebih baik jika itu bisa kita capai sebelum deadlinenya?

Kini saatnya, si kecil juga belajar dan diajari bagaimana berlayar bersama di bahtera kita yang penuh kejutan dan keajaiban. Mari terus berlayar, putri kesatria!

_____

Ketika saya bertanya kepada ibu, menantu seperti apa yang ibu inginkan untuk menemani saya. Ibu menjawab, “Nggih sing saged nyrateni sampeyan, sing saged ngerti kepengenan sampeyan..” (Ya yang bisa mengayomi (memahami betul semua hal) tentang kamu, yang bisa ngertiin pengennya kamu..)

Saya berkali-kali mengucap syukur ketika saya telah menikah, “Ibu, terimakasih atas harapan dan doa-doa itu. Terimakasih Rabb telah mengabulkan doa ibu, bahwa kini saya didampingi oleh partner berjuang yang sesuai dengan doa ibu saya“.

*ditulis diatas bed sebuah ruangan di RS tipe C menemani anak kecil yg sedang berjuang utk sehat kembali 🙂 be strong my strong girl!

*ditulis dalam rangka mengikuti tantangan One Week One Writing Kelas Minat Menulis Komunitas Ibu Profesional Depok

Tips Travelling Abroad with Baby

Bismillahirrahmanirrahiim

Hi readers! Rasanya sudah lama sekali kita tidak bersua. Ada yang rindu dengan cerita saya? Hihihi. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang tips bepergian ke luar negeri dengan anak bayi ☺

Sebagai emak muda yang sering bepergian karena berbagai urusan, saya seringkali ditanya bagaimana saya bisa bepergian dengan membawa bayi saya kemana-mana. Pada beberapa event, bahkan teman-teman dari negara lain amazed dengan apa yang saya lakukan. Saya menjemput mereka dengan menggendong bayi, naik turun tangga 4 lantai. Atau saya menjamu mereka sambil menyuapi anak saya makan, atau sambil ia asik bermain.

Sebuah konsep tentang kehidupan emak aktivis yang barangkali berbeda dengan ibu-ibu pada umumnya. Dan pilihan konsep keluarga kecil kami yang melibatkan sedekat mungkin anak dengan aktivitas harian kami, sehingga membuat anak terbiasa dengan ritme aktivitas ibunya terutama.

Pada agenda tertentu yang mengharuskan saya pergi keluar kota atau keluar negeri, saya tidak pernah memilih pilihan untuk menitipkan anak pada saudara atau menitip pada jasa penitipan anak. Hal ini dikarenakan alasan yang saya sampaikan di atas tentang value keluarga kami, selain itu, juga memang keadaan yang belum memungkinkan untuk titip menitip. Konsekuensinya adalah saya selalu bersiap membawa bocah dalam setiap aktivitas saya. Syukur alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan yang baik untuk dapat memenuhi hak anak dalam aktivitas saya.

Pada satu acara, ada momen dimana saya harus handling bayi saya sendiri karena suamipun sedang bertugas sehingga tidak bisa menemani. Pada saat yang lain, kami pergi travelling bersama.

Saya akan share terlebih dahulu tentang kondisi: “Bagaimana jika saya travelling sendirian dg bayi saja tanpa partner siapapun?”

Plusnya adalah semua kendali ada di saya dan saya lebih sigap menerima semua resiko, sehingga saya tidak perlu berkoordinasi dengan partner lain utk menyamakan respon saat terjadi sesuatu pada anak.

Minusnya adalah saya tidak bisa menggantungkan diri kepada siapapun sebagai back up jika saya tidak mampu handling anak. Saya harus dalam kondisi siap lahir batin ketika memilih travelling hanya bersama anak.

Okai, saya akan memulai poin tips travelling bersama anak, terutama anak bayi dalam case saya.

1. Pahami terlebih dahulu rangkaian acara yg akan kita ikuti di tempat tujuan bersama bayi, beserta semua detilnya. Jika travelling itu judulnya jalan2, maka itinerary adl hal wajib banget utk dipersiapkan.

Itinerary bukan hanya berisi tentang jadwal, tetapi juga, keterangan dimana kita akan tinggal, bagaimana kondisinya disana (kondisi lokasi, apakah ada tempat tersedia utk bayi beristirahat, apakah ruangan bersih berAC, apakah makanan dan toilet mudah didapat, dsb — list pertanyaan ini akan sangat bergantung dengan aktivitas kita di tempat tujuan). Sebaiknya kita telah memahami dan mengeksplorasi dengan baik medan yang akan dihadapi di lapangan.

Kita bisa menggunakan google maps dan street view untuk melihat kondisi lingkungan sekitar. Untuk kondisi tempat menginap kita tentu bisa mendapatkan review dari web pemesanan tempat inap yang akan kita pilih.

2. Persiapkan perbekalan sesuai jumlah hari kita akan disana. Perbekalan ini meliputi pakaian, bekal kosmetik dan alat tempur anak bayi, dan perbekalan pribadi kita sendiri.

Jumlah hari, rangkaian aktivitas, lokasi yang dikunjungi (indoor-outdoor), kondisi cuaca, serta pilihan akan membawa bekal lebih tanpa mencuci atau akan mencuci di penginapan juga akan menentukan seberapa banyak yang akan kita bawa.

Lokasi dan kondisi cuaca akan menentukan tipe pakaian yang kita pilih. Ah ya, termasuk berat bagasi yang kita pilih akan menentukan berapa kilo maksimal bawaan yang akan kita pilih.

Pada kondisi travelling bersama bayi dlm kondisi bertugas, saya memilih untuk membawa baju seperlunya dengan bahan yang mudah dicuci kering dan pakai kembali. Baju untuk anak yang perlu dipersiapkan 2 pasang setiap hari tanpa dikurangi, walaupun nanti tetap dicuci.

Untuk perlengkapan bayi, jika bisa dibeli di tempat tujuan, saya prefer untuk membeli disana untuk mengurangi barang bawaan. Seperti sabun bayi, diapers, cemilan, saya memilih tidak terlalu membawa banyak dari Indonesia, dan saya telah searching dan budgetting juga dimana saya bisa mendapatkannya di negara tujuan.

Pada kondisi travelling on duty, seringkali kita ngga bisa milih cuaca. Jadi, saya selalu memastikan dulu kondisi cuaca pada kenalan setempat untuk mengetahui dengan baik seperti apa suhu dan cuaca harian, serta meminta saran pakaian seperti apa yang bisa saya pakai.

Pada kondisi travelling santai jalan2, maka saya prefer tambah bagasi agar bisa optimal membawa perbekalan. Biasanya ini saya pilih jika kami pergi lebih dari 4 hari.

3. Gunakan tas yang simple, maksimal 2 buah saja untuk memudahkan mobilitas tinggi di negara orang. Saya memilih tas ransel dan tas jinjing sebagai pilihan.

Tas ransel saya gunakan untuk memasukkan barang primer dan darurat. Tas jinjing saya gunakan untuk menyimpan barang sekunder. Kenapa? Tas ransel lebih mudah dibawa kemana-mana dan diingat, sehingga hal penting harus terus menempel di belakang pundak saya. Tas jinjing bisa jadi terlupa, atau malah bisa berubah fungsi menjadi bantal wkwk karena isinya mayoritas pakaian.

Pemilihan jenis tas ini penting karena mobilitas di luar negeri sedikit berbeda dengan di Indonesia. Hal paling kecil adalah tentang jalan kaki dan dengan kecepatan di atas rata-rata orang jalan kaki di Indonesia. Kita perlu tiba-tiba menjadi runners saat di bandara ketika kondisinya tidak seperti yang kita bayangkan. Pada bandara seperti KLIA (Malaysia), Changi (Singapore) ataupun Narita (Japan) misalnya, jarak antara Gate dengan Imigrasi tidaklah dekat, bahkan bisa diitung jauh, belum lagi antrian imigrasi maupun check in-nya (terutama bandara transir seperti KLIA dan Changi, waktu extra sangat perlu disiapkan). Belum lagi jika kita transit dengan jarak boarding time berdekatan, apalagi harus pindah terminal. Itu bukan hal mudah.

Nah sebelum itu, kita harus benar-benar kenali betul detil penerbangan kita agar tidak tersesat, walau penanda/signage di negara lain jauh lebih informatif daripada di Indonesia dan information center serta officialnya juga mudah memberikan informasi yang tepat.

Sebagai catatan, jika kita membawa infant kita tidak bisa melakukan web check-in, karena petugas maskapai biasanya ingin tau betul kondisi kita. Di Jepang pun, kita ttap akan kembali ditanya, apakah kita juga sedang hamil, karena perlakuannya akan berbeda.

4. Gunakan dresscode yang nyaman, casual, dan ramah anak saat flight.

Seringkali orang ingin tampak agak heboh saat bepergian. Pakai ini itu yang tidak perlu adalah hal yang sangat dihindari bagi yang bepergian bersama anak-anak. Kenapa? Karena ujungnya kita akan ribet sendiri dengan dresscode kita dan anak ga kepegang.

Jika masih menyusui gunakan pakaian ramah menyusui yang nyaman. Gunakan gendongan kanguru *istilah saya* atau ergonomic style yang tidak ribet. Saya tidak menyarankan menggunalan gendongan wrap jika belum terbiasa karena akan memakan waktu setiap kali memakainya.

Gunakan sepatu yang nyaman untuk jalan jauh ataupun berlari. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan sepatu cantik kecuali jika sudah terbiasa bawa anak jalan jauh dengan menggunakan heels atau wedges dan sebagainya, hehe. Sepatu dengan sketchers style bisa dipilih, walau dengan merk lain yang lebih terjangkau.

Saat di pesawat, jika kita tidak memilih menggunakan priority class biasanya kita akan mendapat perlakuan sama seperti penumpang lainnya. Otomatis kita punya pe-er ganda karena juga sedang membawa bayi. Kita perlu memastikan bahwa kita siap handling bayi saat kondisi terbang, baik saat take-off maupun landing. Seperti menyusui bayi atau cukup menenangkan atau memberi cemilan agar telinganya tidak sakit. Selain itu space kursi yang terbatas juga harus kita pertimbangkan untuk memilihkan pakaian anak yang nyaman untuk ‘terbang’ dalam sekian waktu. Jangan sampai karena salah dresscode justru anak menjadi cranky saat di dalam pesawat. Ada safety belt untuk bayi juga yang perlu kita pasang untuk keamanan penerbangan. Nah, biasanya pramugari penerbangan LN lebih ketat mengawasi poin ini kepada kita untuk alasan keselamatan.

5. Pahami kebutuhan anak saat travelling. Seperti anak juga merasa lelah, butuh pemanasan, butuh gerak, butuh eksplorasi tempat baru, butuh istirahat, butuh cemilan, butuh ganti popok, butuh minum, dan sebagainya.

PR travelling bersama anak adalah mengasah kepekaan kita akan kebutuhan anak.

Saya bukan tipe traveller yang suka buru-buru mepet waktu dalam bepergian jauh, sehingga saya selalu mengalokasikan waktu untuk anak bereksplorasi di tempat-tempat yang kami kunjungi.

Biasanya, saya memberi kesempatan kepada anak untuk berjalan-jalan, mengenal lingkungan sekitar saat bukan di waktu-waktu penting. Misalnya, saat antri imigrasi panjang, saat di ruang tunggu, anak boleh saja bermain. Atau saat saya sedang rapat, anak ingin eksplorasi ruangan, boleh saja. Eeeits, ini dengan catatan peserta rapat sudah dalam kondisi saling memahami dan siap menerima kita sebagai peserta rapat yang akan membawa bayi ya dan bayi kita tidak menggangu jalannya acara. Ini wajib dikomunikasikan ☺

Akan menjadi PR banget kalau kita tidak tahu kapan kebutuhan anak harus dipenuhi. Anak pasti akan tantrum dan marah ke kita saat kita tidak memahaminya.

Apa yang harus kita lakukan saat itu terjadi? Segera pegang kendali, tenangkan anak, sounding, minta maaf, dan penuhi kewajiban, insyaAllah itu akan segera reda.

6. Miliki partner traveller yang supportif dan menyenangkan-menenangkan.

Satu hal yang membuat saya alhamdulillah biidznillah sejauh ini sukses membawa anak bayi jalan-jalan bersama kegiatan saya adalah ketika saya punya teman-teman tim yang saling membangun dan membantu kondisi saya. Teman-teman di negara tujuan yang memang sudah satu visi maupun menghargai pilihan saya perihal pengasuhan anak.

Saya pernah bertemu teman perjalanan di bandara dan membantu tanpa diminta. Saya pernah mendapat surprise untuk anak saya di negara tujuan, hadiah besar maupun kecil yang membuat anak nyaman travelling dan bertemu orang-orang baru dan budaya baru.

Saya sangat bersyukur memiliki jaringan kawan-kawan muslim yang murah hatinya untuk membantu kami di negeri tujuan, baik sekedar memberi informasi, ataupun hingga mentraktir makan gratis, sampai menjamin hidup dan travelling kami selama berada di negaranya, masyaAllah, laa quwwata illa billah. 😊

7. Terakhir, perkuat komunikasi dengan anak saat akan-sedang-selesai travelling.

Bagi saya, sounding itu penting sekali. Menyiapkan anak seperti kita menyiapkan diri kita. Memberi gambaran ke anak tentang apa yang akan kita jalani bersama. Menceritakan apa yang akan kita lakukan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Contohnya, “Nak, kita akhir bulan ini akan jalan-jalan lho kesini..” Kita ceritakan seprti apa tempatnya. Jika perlu tunjukkan dalam bentuk video. Afirmasi dirinya, mau engga kita ajak jalan-jalan. Membangun imajinya tentang kebersamaan kita belajar berpetualang.

Kemudian memberi apresiasi atas kerjasama anak. Memenuhi haknya jika ia lelah. Misalnya mijitin, we-time, dan sebagainya. Tanya perasaannya pasca bepergian. InsyaAllah, bepergian bersama anak akan menjadi memori yang menyenangkan bagi semuanya.

Semoga ini bermanfaat yaa! Selamat mencoba!

*Tulisan ini ditulis dalam rangka event OWOW (One Week One Writing) KAMI Menulis IIP DEPOK

Materi Kelas Bunsay 7 : Semua Anak Adalah Bintang

Institut Ibu Profesional

Kelas Bunda Sayang sesi #7

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.  

BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN

Jadi kalimat yang harus sering anda keluarkan adalah,

✅ “ Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?”

bukan dengan kalimat

❌ “Mengapa kamu tidak seperti si A, yang nilai raportnya selalu bagus?”

❌ ”Mengapa kamu tidak seperti adikmu?” 

Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “ mental jawara” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya. 

MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH

Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-harinya dengan belajar terbang dan berharap terbangnya sepintar burung

Seringkali kalau ada anak-anak yang tidak menyukai matematika, kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan matematika agar nilainya sama dengan anak-anak yang sangat menyukai matematika. Ini namanya meratakan lembah. Anak akan menjadi anak yang rata-rata.

Burung itu jago terbang, apabila sebagian besar waktunya habis untuk belajar terbang, maka dalam beberapa waktu ia akan menjadi maestro terbang

Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini. 

ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN

Kita sebagai orangtua harus sering melakukan “ discovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.

Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar(enjoy) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (easy)dan menjadi hebat di bidangnya (Excellent).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).

ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL

Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orangtua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya. 

ANAK-ANAK TERLAHIR HEBAT, KITALAH YANG HARUS SELALU MEMANTASKAN DIRI AGAR SELALU LAYAK DI MATA ALLAH, MEMEGANG AMANAH ANAK-ANAK YANG LUAR BIASA
Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber bacaan

Septi Peni Wulandani, Semua Anak adalah Bintang, artikel IIP, 2016

Abah Rama, Talents Mapping, Jakarta, 2016

Dodik Mariyanto, Belajar Cara Belajar, paparan seminar, 2016                        

Bahan referensi video:

1. Bentuk kecerdasan yang berbeda

2. Menggugat sistem pendidikan

Games Kelas Bunsay Level 6 : Math Around Us – Day 10

Target ​pembelajaran matematika logis May akan meliputi :

  1. Pengenalan benda
  2. Pengenalan warna
  3. Pengenalan bentuk
  4. Pengenalan nama/sebutan orang di sekitar
  5. Pengenalan angka
  6. Membedakan ukuran benda
  7. Membedakan rapi atau tidak rapi
  8. Merangkai puzzle sederhana

STIMULASI BELAJAR BERJALAN DAN SERBA SERBI TENTANGNYA

Pembelajaran ini sebenarnya telah dimulai sejak May berusia 9/10 bulan. Kakung Utinya May berharap May segera bisa jalan krn Yayanya May sdh bisa jalan di usia itu. Tetapi mereka menyadari it is not work for May. May has her own style. 

May memulai belajar berjalan dg fase berdiri berpegangan – merambat – berdiri sendiri – melangkah 1 langkah 2 langkah 3 langkah – dan akhirnya berani berjalan sendiri.

Satu catatan saya: bayi itu pembelajar dan pantang menyerah. Ketika dia bisa sesuatu dia sangat excited untuk mengulanginya walau dia lelah. May pun begitu. Ia jatuh, bangun lagi coba lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. MasyaAllah.. dan tidak mau dibantu. She straight to her faith, “I can do it by myself, Mom!”

alhamdulillah sekarang May sudha bisa jalan ☺☺☺☺☺

Bubu bahagiaa sekalii walau ga bs attach video kesini, wkwkwk

Keep learning, dear!

🙂

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

Games Kelas Bunsay Level 6 : Math Around Us – Day 9

Target ​pembelajaran matematika logis May akan meliputi :

  1. Pengenalan benda
  2. Pengenalan warna
  3. Pengenalan bentuk
  4. Pengenalan nama/sebutan orang di sekitar
  5. Pengenalan angka
  6. Membedakan ukuran benda
  7. Membedakan rapi atau tidak rapi
  8. Merangkai puzzle sederhana

MENGENAL KATA IYA DAN TIDAK, SERTA BEBERAPA KATA KUNCI KOMUNIKASI LAINNYA

Pembelajaran ini memang tidak termasuk dalam kategori matematika dalam target pembelajaran, namun pembelajaran ini penting utk menjelaskan ttg konsekuensi logis dari komunikasi sederhana. 

Karena May sudah mampu belajar bahasa dan dapat diajak komunikasi 2 arah, sebagaimana mestinya saya sebagai orangtua dan fasilitator mengenalkan konsep Ya dan Tidak kepada May. Selain itu, saya juga mengenalkan Boleh, Tidak Boleh, Jangan, Hati-hati. Termasuk kata apresiasi dan ungkapan seperti Bagus, Hebat, Pintar, MasyaAllah, luar biasa, maaf, sayang, peluk, cium, cinta. 

Saya sangat bersyukur bahwa May memahami bahasa itu. Dia faham mulanya walau belum bisa menjawab. Tetapi kini dia bisa mengekspresikan sesuatu: peluk, sayang, mau, gamau, no no. Dia tau ketika Bubunya bilang boleh nak, dia akan lanjutkan dg senang hati. Ketika bubu say No/stop, dia berhenti. Yg masih challenging bagi May adl kata jangan. Ketika dia dilarang sesuatu yg sekiranya dpt membahayakannya. Perlu tambahan kata-kata pemahaman dalam menjelaskan makna bahasa yg dikenalkan. 

Misalnya, “May, jangan bermain disitu nak, Teteh masih menyapu, itu banyak kotorannya, perut May belum bersahabat dg debu Nak,”

walo ini msh belum sempurna karena kalimat bertingkat, hehehe

selamat menyimak 😊😊😊

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

Games Kelas Bunsay Level 6 : Math Around Us – Day 8

Target ​pembelajaran matematika logis May akan meliputi :

  1. Pengenalan benda✔
  2. Pengenalan warna✔
  3. Pengenalan bentuk✔
  4. Pengenalan nama/sebutan orang di sekitar
  5. Pengenalan angka
  6. Membedakan ukuran benda✔
  7. Membedakan rapi atau tidak rapi✔
  8. Merangkai puzzle sederhana✔

MENYUSUN RING BERTINGKAT

Ini adalah pembelajaran yg mengasah ttg logika bentuk, ukuran, dan warna. May biasanya memainkannya dg membongkar kemudian menyusun lagi. Pada fase awal, May belum mampu menyusun, dia hanya suka membongkar. Berikutnya, dia mulai menyusun sesuka hati. Di masa seperti itu, saya mulai mengenalkan warna agar May tau jenis warna dan mulai tau urutan warna dalam penyusunan ring. Berikutnya yang belum diistiqomahkan adl pemahaman mengenai perbedaan besar kecil ukuran. Semangat!

ada aktivitas lain yg mirip sebenarnya, yaitu menyusun tower book. Membaca jenis2 benda di tower book, mencocokkan dg benda di sekitar, hiburannya buku2 bisa disusun membentuk tower. Ini juga May belum mampu menyusun, mampunya baru membongkar. Tidak apa-apa ya dear, kita coba pelan2 🙂 


selamat menyimak 😊😊😊

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs