Memahami Tujuan Hidup

1396054_10200993687147281_2145774125_n

Setiap orang melakukan sesuatu sejatinya pasti memiliki tujuan. Setiap orang menjalani sesuatu pasti memiliki keinginan tertentu mengapa hal itu dilakukan. Ada harapan. Ada keyakinan. Begitupun hidup. Jika masing-masing dari kita ditanya, untuk apa sih hidup? Buat apa sih? Kira-kira, apa jawaban kita?

Saya lagi rindu catatan ini. Tahun lalu saya belajar dari orang-orang lebih dulu lahir dan menjalani hidup lalu berbagi pelajaran tentang bagimana memahami tujuan hidup. Berikut catatan saya tentang apa yang dibagi beliau-beliau: Aa Gym, Ust Arifin Ilham, dan Ust Yusuf Mansyur. Saya coba repost dan melengkapi ulang kembali. Agak panjang ya, semoga Allah limpahkan kesabaran kita dalam menuntut ilmu.

Aa Gym:

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar, Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhzim, Allahumma shalli ‘ala muhammad

Ya Allah, Ya Sami’  Ya Bashir, Allahummaftahlana hikmataka Ya Rabb, wanshur ‘alayna rahmataka Ya Dzal jalaali wal ikram, Allahumma nawwir quluubana bi nuuri hidaayatik, kama nawwartal ardha bi nuuri syamsik, ‘abadan abada, birahmatika Ya Arhamar raahimiin..

Read More »

Tentang rizki

Barangkali tak ada artinya, seberapapun rizki yang dititipkan pada kita, ketika kita tidak mensyukurinya. Kita sibuk mencari pembanding rizki itu, sedang pada detik yang sama, orang lain harus berpeluh-peluh mendapatkannya.

-roihanah, 2015

Alhamdulillah, Rabb. Tak ada kata seindah hamdalah ketika diri ini mencoba mengingati begitu banyak rizki yang telah Allah berikan. Seberapa banyak pun diri ingin menuliskan, takkan mampu diri ini menuliskan. Terlalu banyak, terlalu indah, terlalu mempesona. Ma shaa Allah, laa quwwata illa billah.

Hari ini kembali saya merenungi betapa setujunya saya dengan sebuah kalimat sederhana yang dinasihatkan Ust Salim A Fillah pada suatu waktu tentang rizki. Beliau mengatakan, “Rizki itu bukan tentang izin memiliki, tetapi izin menggunakan – memakai“. Bagi saya, ungkapan ini begitu mendalam melalui setiap perjalanan saya. Betapa banyaknya rizki yang Allah hadirkan, sengaja bukan untuk saya miliki, tetapi saya diberi izin menggunakan rizki itu seperti apapun saya menginginkannya. Betapa Maha Kasih Sayang Allah, yang mengijinkan banyak rizki yang sampai kepada kita tanpa pernah kita perlu bersusah payah mencarinya. Allah hadiahkan pada waktu-waktu yang tepat, dengan kadar nikmat yang tak terduga.

Read More »

Aku iri padamu

Aku iri, padamu yang tak pernah bosan menebar senyum manis kepada mereka yang kau temui, walau kadang tak kaudapatkan senyum balik darinya…

Aku iri, padamu yang senantiasa mengirim pesan singkat berlandaskan cinta pada orang-orang yang kau kenal, meski tak pernah ada respon balik dari mereka…

Aku iri, padamu yang selalu ingat hari-hari penting saudaramu, meski hanya sebuah ucapan selamat yang kau berikan, itu sangat berharga bagi dia yang menerimanya…

Read More »

Dalam sebuah kontemplasi

ijinkan aku merasakan tiap tetes yang Kau curahkan melalui deras air terjun ini.. betapa pun aku takut karena energinya yang terlalu besar mengalir dalam kerdil tubuhku aku tetap bersemangat karena aku yakin Kau lah yang membuatku mampu tegap berdiri disini..
ijinkan aku merasakan tiap tetes yang Kau curahkan melalui deras air terjun ini..
betapa pun aku takut karena energinya yang terlalu besar mengalir dalam kerdil tubuhku
aku tetap bersemangat
karena aku yakin
Kau lah yang membuatku mampu tegap berdiri disini..

I love contemplation
Aku cinta merenung
Merenung apa yang terjadi
Merenung atas masa lalu
Merenung untuk masa depan
Read More »

Tentang Sebab

large (2)
Tak dapat kusembunyikan gelisahku
Pada malam di jalanan lengang

Tentang suatu rahasia
Yang tak sempat
kuselipkan
di sebalik pagi
yang hendak datang

Tentang suatu sebab
yang tak sempat
kujelaskan
pada daun jatuh
yg begitu setia pada tanah

Kemudian
Malam diam-diam
pergi meninggalkanku
Yang sendiri

Sambil sesekali
Mengeja kata sunyi
-wnd-


sebuah puisi favorit, karya seorang sahabat, dekat dalam penat, melekat dalam ingat.

Pesan guru-guru perjalanan

Memasuki tempat yang baru tidaklah mudah. Bersabar dan berkhusnudzanlah untuk mencairkan suasana. Agar hati hati itu mencair dalam satu ruh yang sama. Hanya godaan syaithan yang menjerumuskan hati itu menjadi kaku dan tidak mau mencair dengan sesama. Carilah 70 prasangka baik terhadap sebuah kondisi yang telah terjadi, jika antum sudah mampu, dan itu masih belum cukup, maka carilah 70 alasan buruk untuk membenarkan persepsi antum.. Jika masih tak cukup lagi, carilah 1001 alasan untuk terus berkhusnudzon..

Setiap antum pasti ingin menikah dengan kader dakwah. Sekalipun nanti antum menikah dengan sesama kader dakwah, jangan pernah berfikir untuk di-tarbiyahi (dididik dan diajari), tetaplah bersemangat untuk mentarbiyah orang lain. Sekalipun pada akhirnya orang yang antum dapat adalah orang yang luar biasa. Agar nanti antum juga siap ketika dia tidak luar biasa. Allah yang tahu kesiapan kita. Meskipun diantara antum ada yang merasa sudah siap, sudah 100%, Allah lebih tahu. Bisa jadi suaminya kesiapannya 110%, jauh lebih baik dari itu.

Tentang Dakwah

Memang seperti itu dakwah.

Dakwah adalah cinta.

Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.

Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.

Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.

Tentang umat yang kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu.

Dakwah. Menyedot saripati energimu.

Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu.

Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.

Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban

karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.

Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.

Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.

Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.

Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.

Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. KURANG HEROIK [KAH]?!

Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;

luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih,

yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan.

Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan.

Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

TIDAK…!!! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.

Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani…

Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi…

akhirnya menjadi adaptasi.

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.

Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.

Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris.

Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.

Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran.

Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan,

sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.

Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati,

“Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.

Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…

Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Read More »