Ketika Khalid Menang (Lagi)

Siapa tak mengenal Khalid?

Ijinkan saya menuliskan kembali alasan Abu Bakar menunjuknya sebagai Panglima Perang ummat Islam masa itu.

Demi Allah, aku tidak tahu apakah Abu Ubaidah lebih baik dari Khalid. Jasanya begitu banyak. Akan tetapi Khalid bagaikan mushibah bagi orang yang berperang dengannya. Bukan Abu Ubaidah, dan bukan pemimpin yang lain. Adapun Abu Ubaidah, dia adalah seseorang yang lembut hatinya dan tidak takut mati. Ia hanya sering terburu-buru dan itu akna membawa kerugian bagi pasukan muslim. Itu akan memperlambat. Amr bin Ash, punya strategi dan cara berpolitik yang baik. tapi kadang perhitungannya kurang matang, maka itu kurang baik. Ikrimah bin Yazid, Surakhbil; semuanya bagus. Tetapi tidak seperti Khalid dalam mengatur dan menjalankan strategi. Adapun Khalid, seperti yang dikatakan banyak orang-orang; jeli seperti elang, buas seperti singa, cepat dan cekatan, tanpa kompromi. Mempunyai strategi yang bagus dan bagus dalam berperang.

-Abu Bakar Ash Shiddiq, Tentang Khalid bin Walid

Suatu hari ketika terdengar kabar bahwa Khalid menang lagi dalam pertempuran, Abu Bakar, Umar, dan Utsman sedang duduk-duduk bersama. Mereka pun berbincang demikian.

Abu Bakar mengatakan, “Abu Sulaiman belum pernah mengecewakanku. ALhamdulillah. Aku selalu berdoa kepada Allah agar tujuannya bisa tercapai sebelum pasukan Romawi mengalahkan kita. Dan sekarang aku lebih tenang.”

Read More »

Advertisements

Sikap Umar di Masa-masa Awal Kepemimpinan

Masih dari serial belajar kepemimpinan ala nabawiyah ya sahabat. Catatan ini saya lanjutkan berkaitan dengan catatan sebelumnya, masih dari bilik kepemimpinan Umar ibn Al Khattab. Sila disimak 🙂

Masih ingat ketika Umar berpidato di hadapan rakyatnya di catatan yang lalu? Di momen yang sama, Umar juga menyampaikan wasiat Abu Bakar yang disampaikan kepadanya sebelum beliau wafat. Umar mengatakan,

Wahai manusia, dengarkanlah. Berdirilah, Mutsanna. Ini adalah saudara kalian… Mutsanna bin Harits As-Saybani. Aku telah mengetahui ujian yang diterimanya di Irak. Orang-orang muslim di sana hanya sedikit dan lemah. Mereka takut akan orang Persia yang ingin merebut kembali tanah kelahirannya Irak. Sebelum Abu Bakar meninggal beliau berpesan kepadaku agar tidak melupakan dan terlambat untuk mengembalikan pasukan kepada Mutsanna. Demi Allah, ini adalah Jihad, dan pengorbanan.”

Seketika itu, apa yang terjadi? Terjadi kasak kusuk diantara rakyat yang dipimpin oleh beliau.

Read More »

Pidato Pertama ‘Umar ibn Al Khattab sebagai Khalifah

Terbacakan surat dari Abu Bakar di hadapan kaum muslimin:

Bismillahirrahmanirrahiim. Ini adalah akhir masa Abu Bakar bin Quhafah sebelum meninggalkan dunia dan permulaan menuju akhirat. Balasan bagi orang-orang yang beriman, orang-orang hina yang bertaubat, dan para pembohong yang mengatakan kebenaran. Jika Umar bin Khattab memerintah setelahku, maka dengarkanlah ucapannya, dan taatilah perintahnya. Aku tidak memilihnya berdasarkan hawa nafsuku. Aku memilihnya karena Allah dan RasulNya dan untuk kebaikan umat muslim. Jika ia berbuat adil, maka itu adalah prasangka baikku. Jika tidak, setiap orang akan mempertanggungjawabkannya. Hanya kebaikan yang aku inginkan, dan aku tidak mengetahui hal yang ghaib. Dan akan diketahui siapa yang berbat dzalim nanti di hari ketika bumi dibolak-balikkan.

Seorang shahabat yang membacakan surat tersebut, kemudian mengatakan, “Mendekatlah Umar. Ulurkan tanganmu, kami akan membaiatmu.”

Read More »

Memilih ‘Umar sebagai Pengganti

“Menyelami sirah, menemu makna, meniru teladan, meresapi dan menerapkan seperti yang diajarkan”
-roihanah, 2014-

Suatu hari Abu Bakar menyampaikan dalam majelisnya,
“Ya Allah, aku telah memilihnya, demi kebaikan umatMu. Adapun sikap keras dan kekakuannya adalah karena ia melihatku lemah. Jika diberikan kepadaku perintah, maka banyak yang tidak dikerjakan. Hai manusia, kebanyakan kalian telah dibutakan oleh urusan dunia. dia seperti apa yang telah rasulullah sabdakan,
Demi Allah, aku khawatirkan jika kalian itu miskin. Akan tetapi, aku lebih mengkhawatirkan jika kalian tergoda oleh dunia seperti kaum-kaum sebelummu. kalian sibuk dengannya seperti yang disibukkan mereka dan kalian akan hancur seperti kehancuran mereka‘.
Tidak ada diantara kalian orang seperti Umar. Zuhud akan dunia, keras dalam hal kebenaran, tidak takut dicaci dan dihina. Aku telah menyerahkan urusan ini pada kalian, agar kalian memilih diantara kalian. Dan kalian mengembalikannya kepadaku sambil berkata, ‘Pendapat kami adalah pendapatmu.’  Ketika aku memilih yang terbaik menurutku, seolah ribuan orang meragukannya.”

Kemudian seorang shabat menyampaikan, “Demi Allah, ia (‘Umar) adalah orang yang shalih.”
Read More »

Sepulang Perang Yamamah (Para Syahid)

Setelah Perang Yamamah, Khalid bin Walid, Sang Panglima perang itu mendatangi jasad-jasad para syahid. Dia mengatakan,
Rahimahullahu Zaid bin Khattab. Semoga Allah menjadikannya bersama para Nabi, syuhada, dan orang-orang shalih. Kuburkan saydara kalian dengan baik.

Khalid berjalan lagi dan menemukan jasad Abdullah bin Suhail. Khalid berkata,
Pergilah ke syurgaNya Allah, Abdullah bin Suhail. Kau telah penuhi panggilanmu. Dan kau telah melaksanakan kewajibanmu. Meskipun Rasulullah telah wafat, beliau meridhoimu.
Read More »

Perbincangan Abu Bakar dan Umar tentang Pengelolaan Kepemimpinan

Abu Bakar, sebelum kubaiat, ia mengatakan, “Kamu lebih kuat dariku, Umar.”

Lalu aku berkata, “Aku telah meletakkan kekuatanku kepadamu.”

Abu Bakar saat shalat dikalahkan oleh tangisnya. Aku khawatirkan ia lemah saat memimpin, tetapi ketika Allah memberi petunjuk untuk memilihnya menjadi Khalifah, aku melihat kekuatan itu ada padanya. Shadaqa Rasulullah, orang yang kuat itu bukanlah yang kuat badannya.

-Tentang Abu Bakar, oleh Umar ibn Al Khattab, Al Faruq-

Sahabat, dalam catatan ini, saya akan mengutip perbincangan antara dua sahabat terdekat Rasulullah, tentang pengelolaan kepemimpinan. Perbincangan ini terjadi pada masa kepemimpinan Abu Bakar – yang dijuluki Khalifati Rasulillah. Bagi saya, perbincangan ini menjadi menarik untuk disimak, karena kita dapat belajar dari mereka berdua, tentang style kepemimpinan. Abu Bakar dan Umar, jelas, dua orang yang senantiasa bersama namun dengan kepribadian yang sangat berbeda. Tentu, dalam memberikan keputusan, menentukan kebijakan, pendekatan yang digunakan juga tidak sama. Pada perbincangan kali ini, saya mengutip pembicaraan yang kaitannya dengan Al Qiyadah wal Jundiyah ketika diperintahkannya perang memberantas penyihir dan orang-orang yang mengaku Nabi. Panglima perang yang sedang dibahas juga sangat menarik, Sang Pedang Allah, Khalid bin Walid.

Silahkan disimak, semoga kita mampu mengambil pelajaran darinya.

Read More »

Islamnya Khalid, Sang Pedang Allah

10482844_10202598268660816_3584686591440899915_n

Siapa yang tidak mengenal dua panglima Quraisy yang terkenal itu. Dua orang sahabat karib, intelektual muda yang menawan: Khalid bin Walid dan ‘Amr bin Ash. Saya pribadi, membaca kisah – menonton tentangnya, takjub akan perbincangan-perbincangan mereka kala bersama. Khalid dan Amr tidak berhenti melatih diri ketika bersama, juga tidak pernah berhenti untuk berdiskusi dan menganalisis keadaan. Jiwa kritis intelektual keduanya, melekat jelas, disamping gagah-tegapnya fisik yang Allah karuniakan kepadanya.

Saya memiliki catatan tersendiri, sisi pribadi Khalid ketika dia hendak masuk Islam.

Read More »