Review Buku : Reclaim your heart, Rebut kembali hatimu…

Bismillahirrahmanirrahiim

Pekan ini saya mendapat tantangan dari Kelas Minat Menulis IIP Depok untuk bercerita tentang buku favorit saya. Wah masyaAllah, satu hal saya suka banget. Cerita tentang bukuuu. Hehe, tapi buku apa ya enaknya? πŸ˜„πŸ˜…

Bagi orang yang memiliki koleksi buku segambreng sebenarnya mungkin agak kesulitan mencari mana yang mau di-share duluan. Hmmm.

Ini adalah potret rak buku di rumah, wkwk 😁 ini masih belum semua koleksi, karena ada 2 dus besar, sekitar 20 kg yang ditunggu hadir dari rumah lama agar terpenuhi haknya. Doakan segera sampai ya! πŸ˜™

Okay! Setelah merenung singkat (apa sih), akhirnya saya memutuskan untuk memilih salah satu buku paling berkesan dalam fase hidup saya yaitu Reclaim Your Heart karya ustadzah Yasmin Mogahed. Buku ini adalah bestseller di amazon.com dan masuk Top 100 plus bintang 5 sejak 2012. Dan kenapa buku ini? Buku ini punya peran berharga menemani saya bertumbuh di masa-masa sulit. Selain itu, ini juga buku yang saya hadiahkan pada calon suami (saat belum menjadi suami *cieee) saat kami sedang berproses menuju pernikahan. Jadi kami masing-masingunya 1 buku.

Saya akan mengawali dengan me-review penulisnya. Siapa Yasmin Mogahed? Beliau adalah seorang psikolog keturunan Mesir yang tinggal di Amerika Serikat. Beliau lulusan University of Wisconsin-Madison dan mengajar studi Islam serta menjadi instruktur kepenulisan di Cardinal Strich University. Beliau seorang pembicara Internasional dengan tema keislaman, utamanya tentang hati.

Bagaimana saya bisa mengerti tentang beliau? Saya tau beliau pertamakali lewat tumblr. Banyak sekali quotes beliau berseliweran bersanding dengan ustadz lainnya, seperti Nouman Ali Khan, Mufti Ismail Menk, Boona Muhammad, Tariq Ramadan, dsb. Salah satunya seperti di bawah ini. MasyaAllah, indah.

Darisana, akhirnya saya kepo dengan profil beliau dan menemukan bahwa beliau punya satu karya hebat, Reclaim Your Heart. Saya langsung hunting dan dapet versi terjemahan waktu itu, masyaAllah seneng banget. Dan hingga sekarang, saya tidak pernah nyesel membelinya dan selalu merekomendasikan ke orang utntuk baca.

Okay, sekarang tentang isi bukunya. Apa sih yang dibahas di dalam Reclaim Your Heart?

Sedikitnya ada 7 bab penjelasan dlm buku dan tidak ada pengantar kecuali testimoni serta persembahan. Tetapi ada bagian yang nendang banget sebagai impresi pertama saat saya buka bukunya. Saya akan kutip disini.

Kami mengerti Anda hanya membutuhkan buku bermutu, dengan ulasan yang hebat dan menghebatkan.

Sekarang, bersyukurlah, Anda telah mendapatkannya.

MasyaAllah! Dan setelah saya baca tiap babnya, ini bener, ini bener banget! 😍

Ada tujuh bagian besar yang dibahas di dalam buku ini. Pertama, keterikatan. Kedua, cinta. Ketiga, penderitaan. Keempat, hubungan dengan Sang Pencipta. Kelima, status perempuan. Keenam, ummat. Dan ketujuh, puisi.

Saya tentu tidak akan bisa membahas detil satu per satu konten masing-masing bagian tersebut. Kita perlu ketemu bedah buku banget untuk bahas itu. πŸ˜„ Tetapi saya akan sharing contoh part yang nendang banget menjadi refleksi bagi diri saya sendiri.

Pada bab pertama, Ustadzah Yasmin menyadarkan saya tentang bagaimana konsep keterikatan.

Orang-orang yang membuatsaya kecewa tidak dapat dipersalahkan, sama seperti gravitasi yang tidak bisa dipersalahkan karena menjatuhkan dan memecahkan gelas. Kita tidak bisa menyalahkan hukum fisika ketika sebatang ranting patah karena kita bersandar padanya. Ranting tidak pernah diciptakan untuk menahan beban kita.

– Yasmin Mogahed

Plaak! MasyaAllah rasanya saya begitu diingatkan bahwa bukan salah dun-ya dan segala tentangnya ketika kita dibuat kecewa, marah, kesal d segala penyakit hati yang muncul karena kita bersandar padanya. Tetapi adalah salah saya pribadi yang tidak meletakkan hati saya -keterikatan (attachment) saya- dengan benar. Meletakkan gelas kaca (analogi hati) di pinggir meja tentu akan rentan tersenggol orang dan mudah jatuh. Tidak serta merta salah orang menyenggolnyam tapi lebih pada ketidakhati-hatian saya menempatkannya. Jika saya bisa menempatkan di tengah meja, tentu kemungkinan itu sangat jauh bisa diminimalisir. Begitupun hati, jika saya titipkan ia kepada Yang Memilikinya, maka insyaAllah bi idznillah ia akan aman saja. Bab ini mengajari saya tentang kedalaman ayat Allah pada QS Al Baqarah 256, “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Secara otomatis, membangun keterikatan pada selain Allah sudah mesti tidak akan pernah membawa pada kekuatan iman, yang ada adalah kekhawatiran ketidakmampuan yang diikat menampung beban kita.

Bab ini juga menambah pemahaman saya tentang dun-ya yang memang diciptakan sementara, tidak akan pernah kekal, dan tidak akan pernah sempurna. Yang kekal dan sempurna hanyalah jannah. Jadi, jika kita menginginkan karakter jannah pada dun-ya itu sudah jelas bukan pada tempatnya dan tidak akan pernah terjadi sesuai kaidah penciptaannya.

Sebuah inspirasi dsri buku ini yanh membangun diri saya adalah konsep tentang dun-ya. Dun-ya ibarat samudera, dan kita sedang berada di atas kapal. Kita berawal dari satu daratan menuju daratan berikutnya. Kita bukan diciptakan untuk tinggal di samudera, bukan. Kita diciptakan untuk mengarungi samudera. Maka, apakah kita boleh tenggelam? Tidak. Kita boleh menyelam, melihat berbagai keindahan alam bawah laut. Disana juga ada mutiara nan indah, ada pula hasil laut, yang dipendam dasar laut yang bermakna. Tapi apakah berarti jika kita hanya di dasar laut? Tidak. Kita hanya menyelam untuk mengambil “khasanah” dan “hikmah” dari hasil penyelaman kita. Penyelam yang hebat adalah yang kembali ke kapal dan pulang, serta menceritakan hasil petualangannya. Bukan mereka yang tenggelam. Begitupun pada dun-ya kita tidak boleh tenggelam. Kita harus pandai menyelam dan menahkodai kapal. Oleh karena itu, kita butuh tujuan, agar jelas track penyelaman kita, apa yang kita cari dan bawa naik ke kapal untuk bekal pulang. Terlalu lama di tengah lautan harus dipastikan bekal kita juga cukup menemani perjalanan, agar kita tidak mati ditelan ombak dan badai pelayaran.

Berikutnya, saya begitu tertegun bagaimana Ustadzah Yasmin menganalogikan karunia. Bahwa memhami karunia itu seperti kita memahami pemberian hadiah. Yang harusnya menghadirkan attachment itu hadiahnyaatau orang yang memberi hadiah kepada kita? Sebagaimana kita pada anak kita, bagaimana anak sangat menyukai hadiah yang kita beri tapi mereka lupa pada kita? Tentu bukan itu yang kita inginkan. Begitupula dengan karunia. Tujuan Allah memberikan itu pada kita bukan agar kita terikat padanya. Hadiah berupa karunia itu agar kita mendekat padanya dan kita mengamalkan karunia itu dengan sebaik-baiknya. Poin ini sanhat menginspirasi saya hingga saya membuat karya di soundcloud.com dengan judul Antara Hadiah dan Karunia, silakan didengarkan. 😊

Pada bab cinta, setidaknya ada dua quotes yang sangat mengena bagi saya.

Betapa sering kita berpikir bahwa Allah hanya menguji kita dengan cobaanNya, padahal itu tidak benar. Allah juga menguji kita dengan kemudahan. Dia menguji kita dengan na’im (nikmat) dan dengan hal-hal yang kita cintai — justru dalam ujian bentuk ini kebanyakan dari kita gagal. – Yasmin Mogahed

Kebutuhan utama kaum lelaki adalah untuk dihormatu, sementara kebutuhan utama wanita adalah untuk dicintai. – Yasmin Mogahed

Bab ini mengajari saya untuk memahami bagaimana logika cinta sejati. Kalau yang kita tau mobil mainan itu hebat banget, dan kita baru tau itu doang, pasti kita akan benar-benar mencintainya. Tetapi setelah kita tahu mobil yang sebenarnya itu lebih hebat, maka kita tentu akan melupakan yang berbentuk mainan tadi, dan hati kita sudah tentu akan takjub pada yang asli, yang sesungguhnya. Begitu kira-kira mencintai makhluk dibanding mencintai model sesungguhnya, Rabb, yang menciptakan semuanya. Kita akan dibuat takjub berkali-kali. πŸ˜πŸ’–

Yah, begitulah sedikit cuplikan isi dari Reclaim Your Heart, masih banyaaaak sekali hikmah lainnya. Bagi saya, ustadzah Yasmin mampu membawakan narasi Quran dengan bahasa kaum yang sangat humanis, tetapi khas dengan porsi rasionalitas dan pembangunan logika berpikir yang tinggi. Saya melihat beliau sungguh mampu melihat kondisi masyarakat US yang tentu sangat mengedepankan akal dan intelektual. Buku ini tepat sekali dibaca oleh mereka yang kehilangan hatinya, kehilangan kenikmatan ketaatan, apalagi kehilangan kedekatan dengan Rabbnya. Recommended +1+1+1+1+1 ! Membaca buku ini membuat saya berpikir ini memang layak bintang 5 dan bestseller di amazon! 😎😍

Semoga di lain waktu saya bisa berbagi lebih banyak. ☺

Setan bersuka cita ketika Adam jatuh dari surga. Tetapi, setan tidak tahu ketika seorang penyelam tenggelam ke laut, ia mengumpulkan mutiara dan kemudian naik lagi. – Yasmin Mogahed

Selamat menyelam, jangan tenggelam, harus bisa berenang.

Selamat merebut kembali hati Anda!

Advertisements

Apa yang melandasi cinta kita?

aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat

atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat

Setiap orang mencintai sesuatu punya alasan karena apa ia mencintainya. Coba tanya diri kita, apa alasan yang membuat kita mencintai sesuatu yang kita cintai itu:

a. Apakah karena sifat orang yang kita cintai?

b. Apakah karena pesona keindahannya?

c. Apakah karena perasaan kita kepadanya?

d. Apakah karena keserasian (keselarasan dan kesesuaian) kta dengan dirinya?

Coba tanya diri kita, karena apa kita mencintainya..

Read More »

Gerakan Cinta dari Tuhan dan Respon Kita sebagai Manusia

hehehheee, sebelum berkutat lagi dengan dunia arsi, saya akan report lagi hasil belajar saya dari Kitab Ibnu Qayyim tentang Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu πŸ™‚

Untuk melakukan sesuatu, kita pasti melakukan perpindahan, atau biasa kita sebut bergerak. Untuk mendapatkan reaksi, perlu aksi terlebih dahulu. Perlu gerak. Sepakat ga? Nah, gerakan ini bermacam-macam. Ada gerak yang berdasarkan kehendak, ada gerak alami, dan gerak karena paksaan. Gerak karena kehendak, artinya ia dilakukan karena memang ada keinginan dari yang melakukan. Gerak alami, mengikuti pusat dan tempatnya, seperti batu yang jatuh ke bawah. Gerak alami juga ada yang dikarenakan paksaan dari pihak luar, tidak selalu berasal dari paksaan pribadi. Seperti pada pengaturan alam ini. Allah mewakilkan berbagai planet, matahari, bulan untuk menggerakkannya. Allah mewakilkan angin, setetes air, awan, untuk digerakkan oleh malaikat. Allah mewakilkan kepada malaikat: gunung untuk dijaga, rahim untuk dipantau, manusia untuk menjaga dan mencatat amalnya, kematian seseorang, pengajuan petanyaan di alam kubur, syurga, neraka dan sebagainya. Artinya, kita memahami bahwa setiap gerakan di alam ini disebabkan oleh para malaikat. Dan gerakan mereka merupakan ketaatan kepada Allah berdasarkan perintah dan kehendakNya πŸ™‚ Yang kesemuanya itu didasari cinta.

Read More »

(Mengenal-kembali) Cinta

Memang tidak akan pernah habis membahas tentang cinta. Bahkan dalam kitab Ibnu Qayyim beliau menjelaskan ada 60 lebih definisi tentang cinta. Cinta bisa seperti singa dan pedang; cinta bisa seperti bencana besar; cinta juga bisa seperti arak yang memabukkan.

Cinta itu al-mahabbah. Ia bening dan bersih. Seperti air yang meluap selepas hujan yang lebat. Ia tenang dan teguh, mantap hati. Tetapi sebaliknya, ia juga berarti gundah yang tidak pernah tetap, seperti anting yang terus berayun. Cinta seoerti usungan belanja yang memikul berat demi yang dicinta.

Read More »

Muqaddimah Cinta

Sehabis beraktivitas seharian, bahagia bisa ngelanjut baca karya Ibnu Qayyim al Jauziyah tentang Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, dan menginternalisasi kembali fitrah cinta dan mengelola cinta dengan anugerah akal dariNya. πŸ™‚ (september, 2013)

Segala puji bagi Allah, yang telah menciptakan kecintaan, untuk mendapatkan apa yang dicintai sebagai jalan. Yang menciptakan ketaatan dan ketundukan kepadaNya, berdasarkan ketulusan cinta sebagai bukti. Yang menggerakkan jiwa, kepada berbagai bentuk kesempurnaan, sebagai sugesti untuk mencari dan mendapatkan cinta.

Mahasuci Allah yang membalikkan hati seperti yang dikehendaki, dan seperti yang tidak dikehendaki, menurut kekuasaanNya. Yang telah mengeluarkan segala yang hidup berdasarkan hikmahNya untuk kepentingannya. Yang membalikkan hati menjadi beberapa bagian dan kelompok. Yang menjadikan segala yang dicintai untuk kepentingan yang mencintai sebagai bagian baginya, baik yang dicintai itu benar maupun salah, yang dengan cintanya itu dia dijadikan bahagia atau menderita. Mahasuci Allah, yang telah membagi-bagi hati, antara yang mencintai Allah, mencintai berhala, api, salib, negara, saudara, wanita, anak, harta, iman, bahasa, maupun Al Qur-an.

Read More »

Belajar dari Chapter 1 #Sharing – Handry Satriago

Karena hidup memerlukan keteladanan.
Pertama kali saya baca judul ini, ya tentu saya sepakat dengan statement tersebut. Kita hidup dan bertumbuh, mau tidak mau melihat dan meniru cara tumbuh orang lain. Kita mempelajari, kemudian mengambil inspirasi mereka dalam bertumbuh, sehingga kita mampu menjadi pribadi yang seperti kita lihat di cermin hari ini.

Saya pun tumbuh belajar dari keteladanan; dari orang tua, rekan, sahabat, keluarga, mereka semua masing-masing memberikan cara dan warna tersendiri untuk mengajarkan keteladanan untuk kebaikan dan perbaikan hidup saya. Seperti kali ini, saya belajar dari seseorang yang gemar #sharing dan menulis buku dengan judul “#sharing” tentang bagaimana ia menjalani kehidupan. Saya takkan berpanjang lebar lagi, berikut poin-poin catatan kecil saya yang saya ambil dari apa yang beliau #sharing-kan.
Read More »

Wanita-Wanita Al Qur’an

Di posting di facebook pada tanggalΒ March 4, 2015 at 5:43pm

Bismillahirrahmanirrahiim, hai, sahabat πŸ™‚

Semoga kabar baik, nikmat indah selalu menaungi hari-hari kita dariNya πŸ™‚

Tidak terasa, sudah catatan ke 229 saja ya. Bermula dari ocehan tidak penting (dan tidak mutu barangkali), catatan kecil ini beranjak mendewasa sebagaimana pemiliknya yang terus belajar untuk menjadi pribadi lebih baik setiap waktu yang dilewati. Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimmush shaalihat πŸ™‚

Sahabat, beberapa waktu lalu saya membaca buku berjudul Wanita-Wanita Al Quran atau dalam judul aslinyaΒ Nisa’ Fil Hayat Al Anbiya, karya Fathi Fawzi Abd Al Muthi. Barangkali belum tentu itu buku yang sempurna menjelaskan perempuan-perempuan yang bisa kita pelajari di masanya, tetapi setidaknya buku yang bersumber dari Quran, Injil, dan Taurat itu memberikan wawasan pada kita, apa sih yang harus kita pelajari dari mereka?

1925060_10204223031558873_118692489336308183_n

Bila tertarik, sila disimak, berikut hikmah dan ibrah yang saya ambil dari hasil membaca. Mungkin agak panjang, tetapi itu tidak seberapa dibanding nilai di dalamnya, saya coba sederhanakan dari 300 halaman bagian pertama menjadi kurang lebih 4 lembar A4, semoga tak mengurangi esensinya πŸ™‚

Read More »