Nice Home Work #1 Adab Menuntut Ilmu

📚NICE HOMEWORK #1📚

ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU” kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmsuh shalihaat, rabbi zidni ‘ilman, warzuqni fahman.

  1. Jurusan Ilmu yang akan saya tekuni dalam universitas kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim. Jurusan ilmu yang akan saya tekuni dalam universitas kehidupan adalah jurusan arsitek peradaban. Ilmu menjadi arsitek, menjadi perancang peradaban. Artinya, saya ingin mengambil jurusan yang mendidik saya menjadi pemeran peradaban, baik di lingkungan domestik yakni rumah tangga (sebaga anak, istri, dan ibu, serta nenek nantinya), dan lingkungan publik yakni kontribusi kepada masyarakat.

  1. Alasan terkuat ingin menekuni ilmu tersebut

Alasan saya ingin menekuni ilmu tersebut, pertama dan utama adalah menyadari fungsi penciptaan saya di dunia ini, setelah 26 tahun ini, akhirnya tertakdir saya berprofesi sebagai arsitek. Kedua, seiring berjalannya masa pembelajaran dalam kehidupan saya menyadari bahwa sesungguhnya saya tidak hanya diutus menjadi semata-mata arsitek bangunan/hunian/lingkungan binaan, tetapi saya juga kemudian belajar bagaimana menjadi arsitek sesungguhnya yang memiliki peran terhadap jalannya peradaban ini.

Sesuai dengan visi seorang hamba, yang terlahir untuk ibadah dan menjadi khalifah, lalu menjadi bagian ummat terbaik yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, saya ingin mampu mengoptimalkan peran tersebut dalam diri saya, bagaimana mendidik diri menjadi sebaik-baik hamba, lalu kemudian menjadi sebaik-baik manusia bagi sekitarnya, sebagaimana diajarkan dalam hadits. Oleh karena itu, saya ingin menekuni dengan sungguh-sungguh peran tersebut agar mampu merealisasikan tugas saya sebagai seorang hamba Allah yang sudah diberi tupoksi oleh Allah.

  1. Strategi menuntut ilmu yang direncanakan di bidang tersebut

Strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan adalah dengan menentukan step-step yang harus saya lalui dalam menuntut ilmu, diantaranya:

  1. Selalu berniat dan menjaga niat menuntut ilmu, lalu menentukan ilmu-ilmu yang akan dipelajari (membuat to do list dan prioritynya) dan tujuannya
  2. Memilih guru yang dijadikan rujukan pembelajaran dan metode menuntut ilmu yang disepakati agar dalam menuntut ilmu mampu berkomitmen serius menjalani setiap tahapannya
  3. Mendokumentasikan ilmu yang telah diperoleh dengan membuat catatan ringkasan ilmu tersebut, menulisnya kembali agar menempel dalam ingatan sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib bahwa ilmu harus diikat dengan tulisan
  4. Mengamalkan agar ilmu tidak hanya sekedar menjadi tumpukan tulisan, tetapi dapat dikaji trial errornya dan diambil hikmahnya
  5. Mengajarkan dan menularkan ilmu tersebut kepada orang-orang dekat, partner utama yakni suami, baru kemudian teman dekat dan kepada publik melalui akun-akun pribadi saya
  6. Mengulang-ulang menerapkan ilmu, mengupgrade kapasitas, melengkapi pengalaman-pengalaman tambahan yang ditemukan, dan mendokumentasikannya kembali agar menjadi pembelajaran bersama.

4. Perubahan sikap yang saya perbaiki dalam proses mencari ilmu diantaranya adalah

  1. Memperbaiki niat dan adab secara simultan, barangkali ini bukan hal mudah karena pasti ada naik turunnya. Karena ini kaitannya dengan pekerjaan ruhiyah, sehingga, saya secara perlahan harus memulai kembali menata hati dan ibadah agar proses menuntut ilmu menjadi barokah
  2. Tidak mudah berputus asa dan tidak boleh berorientasi mencari pujian makhluk, atau tergiur karena makhluk.
  3. Semangat mengumpulkan dan menyaring ilmu-ilmu yang diperoleh, lalu kemudian menarasi-ulangkan ilmu tersebut dengan lebih baik
  4. Melibatkan partner utama yakni suami dalam proses pembelajaran kehidupan agar diperoleh masukan dan saling saran dalam implementasi ilmu yang diperoleh.

Demikian jawaban atas NHW #1 ini, semoga Allah meridhoi setiap niat baik, dan Allah mampukan untuk beramal lebih baik dari yang diniatkan.

Materi perdana kuliah matrikulasi IIP batch 2 ini mengingatkan saya pada sebuah resume pembelajaran saya beberapa waktu silam, dapat dilihat dalam link berikut: Guru: antara ilmu, adab, dan keteladanan. Menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, semoga saya mampu menjadi murid dan guru yang baik nantinya.

Allahumma aatii nafsii taqwahaa wa zakkihaa, wa anta khayru man zakkaha wa anta waliyyuha wa mawlaahaa..

Wallahu ‘Alam bish shawab

-Ita Roihanah-

Advertisements

Materi dan Resume Matrikulasi #1 IIP : Adab Menuntut Ilmu

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1 Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
ADAB MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Read More »

Sederhana

Sederhana.

Bismillahirrahmanirrahiim..

Sebenarnya saya memang tidak menyiapkan tulisan berbau haroki untuk berbagi dengan sahabat sekalian, meskipun kali ini saya menulis dalam posisi bagian dari harokah siyasah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.Bagi saya, sudah banyak suplemen ‘haroki’ yang telah dipanen dan dihadiahkan kepada antum semua.Kini, anggaplah tulisan ‘kacang’ ini menjadi cemilan ringan saja di sela-sela hari-hari penat antum (untuk dakwah tentunya).

Read More »

Perbincangan Abu Bakar dan Umar tentang Pengelolaan Kepemimpinan

Abu Bakar, sebelum kubaiat, ia mengatakan, “Kamu lebih kuat dariku, Umar.”

Lalu aku berkata, “Aku telah meletakkan kekuatanku kepadamu.”

Abu Bakar saat shalat dikalahkan oleh tangisnya. Aku khawatirkan ia lemah saat memimpin, tetapi ketika Allah memberi petunjuk untuk memilihnya menjadi Khalifah, aku melihat kekuatan itu ada padanya. Shadaqa Rasulullah, orang yang kuat itu bukanlah yang kuat badannya.

-Tentang Abu Bakar, oleh Umar ibn Al Khattab, Al Faruq-

Sahabat, dalam catatan ini, saya akan mengutip perbincangan antara dua sahabat terdekat Rasulullah, tentang pengelolaan kepemimpinan. Perbincangan ini terjadi pada masa kepemimpinan Abu Bakar – yang dijuluki Khalifati Rasulillah. Bagi saya, perbincangan ini menjadi menarik untuk disimak, karena kita dapat belajar dari mereka berdua, tentang style kepemimpinan. Abu Bakar dan Umar, jelas, dua orang yang senantiasa bersama namun dengan kepribadian yang sangat berbeda. Tentu, dalam memberikan keputusan, menentukan kebijakan, pendekatan yang digunakan juga tidak sama. Pada perbincangan kali ini, saya mengutip pembicaraan yang kaitannya dengan Al Qiyadah wal Jundiyah ketika diperintahkannya perang memberantas penyihir dan orang-orang yang mengaku Nabi. Panglima perang yang sedang dibahas juga sangat menarik, Sang Pedang Allah, Khalid bin Walid.

Silahkan disimak, semoga kita mampu mengambil pelajaran darinya.

Read More »

Shahabat Nabi pun meminta dilihat sebagai manusia biasa

Seringkali kita merasa harus menjadi yang paling baik, menuntut yang paling baik, meminta akhlaq terbaik; sedang siapakah kita?

Kita hanya manusia biasa.

Saat saya menempa diri saya pribadi untuk menjadi lebih baik, berusaha lebih keras, tidak selalu hal itu berjalan mulus, juga karena keterbatasan diri belajar istiqamah. Tetapi kita tidak boleh berhenti begitu saja, bukan? Kita dicipta Tuhan yang kita cinta bukan untuk menyerah kalah, tetapi memang menjadi Khairu Ummah.

Saya hendak bercerita kembali, ada konteks perbincangan antar shahabat Nabi, yang jarang kita temui di Sirah, bahkan saya mendapatkannya dari serial Omar; yang mana perbincangan ini semoga menyadarkan kita, bahwa sekelas Shahabat Nabi, yang majelisnya langsung dipimpin oleh Rasulullah saw juga menyadari keterbatasan diri: hanya hamba biasa.

Perbincangan itu terjadi setelah wafatnya Rasulullah. *sejujurnya saya sedih sekali setiap kali mengingat momen wafatnya Rasulullah, walau saya bukan siapa-siapa, dan tidak melakukan apa-apa*. Simak baik-baik ya, sahabat.

Read More »

Hijab Hati

di posting di facebook pada tanggal February 5, 2015 at 7:05pm

Ada satu kajian yang sangat menginspirasi bagi saya, yaitu kajian dari guru-guru terbaik, yang mengajarkan dari pengalaman, perjalanan hidup mereka, dari 3 Dai. Saya sengaja membuat catatan tentang nasihat beliau-beliau. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diri yang pelupa. Bila berkenan, sila juga membaca. 🙂

——————————–

Ustadz Arifin mempersilakan  ustadz Yusuf Mansur untuk membaca kalam illahi terlebih dahulu.

Ustadz Arifin Ilham:

Ikhwahfillah, tidak mudah untuk menghafal dan menjaga hafalan. Menghafal, sulit, berat. Tapi menjaga hafalan, lebih sulit dan berat. Sebelum kita membahas hijab hati, tentu bagi orang yang terhijab hatinya, sulit untuk menghafal Al Quran. Boleh tau dong ustadz, bagaimana cara menjaga agar hafalan kita dijaga oleh Allah subhanahu wa taala?

Read More »

Ridha’ dan Tanda Diterimanya Taubat

Tulisan ini di posting di facebook pada tanggal February 17, 2015 at 5:28pm

Ustadz Yusuf Mansyur:

Berbicara tentang ridha ini memang gurunya itu langsung Allah subhanahu wa taala. Memang kita perlu belajar apa sih ridha dan bagaimana ridha. Diantaranya kita diajarkan sunnah membaca di pagi dan sore, “Radhiitu billahi rabba, wabil islaami diina, wabi muhammadin nabiyyaw warasuula”. Keliatannya enteng ya, siapa yang mengucapkan ini di pagi hari atau di sore hari, ada riwayat yang mengatakan 1 kali, ada yang 3 kali. Sepertinya gampang, Aku ridha ya Allah, Engkau menjadi Tuhanku, yang ngatur hidupku, yang mencabut dan membagi rizki, yang membanyakkan dan menyempitkan rizki, yang memberi, yang menutup, yang membuka, yang menghidupkan, yang mematikan, semua. Tapi bener kah segampang itu?

Read More »