Jika suatu saat nanti kau jadi ibu

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Read More »

Advertisements

Belajar dari Shafiyah binti Abdul Muthalib

Suatu hari terdapat perbincangan antara Hamzah, Shafiyah,dan anaknya, Zubair.

Shafiyah               : Wahai abangku, Hamzah.. Ini  pertamakalinya hatiku merasa gembira..  Setelah  wafatnya al awwam di Perang Fijar, kegembiraan dan kebahagiaan menaungi rumah tangga Muhammad dan Khadijah. Kebahagiaan mereka juga bertambah dengan lahirnya Qasim,

Hamzah                : Semoga Tuhan pemilik Ka’bah menjaga Muhammad, istri dan anaknya. Semoga dengan menikahi Khadijah, Muhammad melupakan kesusahannya sewaktu kecil..

Shafiyah               : begitulah pamanmu, wahai Zubair

Hamzah                : (sembari tertawa menyampaikan kepada Zubair) Aku berharap kelak engkau jadi kesatria seperti ayahmu..

Zubair                   : tentu saja, wahai pamanku 🙂

Hamzahpun tertawa riang.

Read More »

Persahabatan ala Asma’ dan Ruqayyah

Sahabat, ijinkan kutuliskan ulang, kisah persahabatan dua wanita pilihan. Mereka berdua adalah Asma’ binti Abu Bakar dan Ruqayyah binti Muhammad. Tentulah engkau pernah mendengar nama mereka berdua. Buah persahabatan kedua ayahnya, Abu Bakar dan Muhammad Rasulullah saw. Kenapa aku menuliskan kembali kisah yang aku kutip dari karya indah “Pengikat Syurga” (sebuah buku, hadiah hijrah dari jalan dakwah); jangan kau tanyakan kenapa, bacalah dulu.. 🙂

Kami berlarian saling kejar mengejar menuju bukit Shafa. Minggu ini kali ketiga kami melakukannya. Skornya 2-1 untuk aku. Dan kali ini, ia, Ruqayyah, sahabatku, mengatakan ia akan menyamakan kedudukan. Tapi tentu saja aku tidak ingin membiarkannya menyamakan skor.

Ini adalah permainan kami, berlomba menuju bukit Shafa. Dan hari ini aku tetap juaranya.

Letih. Kami pun berbaring di atas tanah Shafa. Ditemani pasir nan kuning, dihangatkan mentari pagi. Tak lama Ruqayyah bangkit, duduk. Memandang jauh ke depan. Ia menatapku.

Aku akan menikah, Asma..

Read More »