Menulis tentang Kamu: Belajar dari Mba Sheila, Muslimah Hijrah, Ibunda yang Ramah dan Shalihah

I am a hard worker & strive for excellence.
I am a risk taker, i love learning, challenge and doing something new.
Honest & Reliable is my Strength.
I have experience both in retail and corporate business of General Insurance with various Line of Business.

Sheila Ulfia Putri

Inilah sekilas profil yang kubaca tentangmu dalam akun Linked.In milikmu, mba Sheila ☺

Alhamdulillah senang sekali di IP Depok KAMI Menulis diberi kesempatan untuk mengenal teman-teman dengan passion yang sama. Dan qadarallah, dijodohin untuk kenal lebih dekat dengan Mba Sheila.

Kesan pertama kenal Mba Sheila adalah pribadinya yang ramah, so humble.

Setelah obrol-obrol janji temu alhamdulillah Allah kasih kesempatan mba Sheila silaturrahim ke rumah, dengan membawa putri cantik kecilnya, kakak Alena 😘

Saya yang juga punya anak kecil di rumah sangat senang kedatangan tamu, apalagi Little Maryam. Dia sangat senang bertemu teman baru dan bermain bersama.

Ada hal yang sangat mendalam menjadi inspirasi saya ketika bertemu dengan mba Sheila, seorang wanita karier yang telah berkarya profesional selama 5-6 tahun kemudian memilih resign dengan alasan yang sangat fundamental, yakni ingin menyudahi bersinggungan dengan riba dan ingin utuh membersamai tumbuh kembang anak-anak di rumah. Bukan hanya beloau yang resign, tetapi juga suami beliau. Hal ini dikarenakan dua pribadi ini sama-sama berkarya di bidang finance yang berhubungan erat dengan hal-hal ribawi.

Saya pikir, ini sungguh bukan pilihan yang mudah, instan, apalagi receh. Ini adalah sebuah keberanian luar biasa. Bukan hanya itu, saya melihat banyak pejuang anti riba memang benar-benar orang yang sungguh-sungguh tingkat ketawakkalannya kepada Allah. Konsep tauhidnya, pemahaman tentang rizkinya diluar keumuman manusia.

Pada mba Sheila saya belajar kembali tentang makna hijrah. Di ujung Muharram ini, tepat 30 Muharram saya belajar kembali memaknai apa itu hijrah dan bagaimana kita berproses dalam hijrah.

Obrolan kurang lebih 2 jam bersama mba Sheila membawa saya pada perenungan-perenungan mendalam. Saya sebagai seorang ibu yang dapat membersamai anak 24 jam dari rumah, yang dapat tetap membagi manfaat dsri rumah, yang telah memilih bersama suami untuk hanya mencari rizki yang halal saja terasa diingatkan kembali apakah saat-saat saya bersama anak itu memberi makna berharga bagi anak. Lebih dari itu, apaka saya sungguh-sungguh memanfaatkan 24 jam waktu saya untuk dapat mendekat padaNya di waktu-waktu utama. Karena Allah telah memberikan waktu itu kepada saya secara penuh, dan saya tidak memiliki halangan karier di luar rumah yang terikat, sehingga semestinya saya mampu memanaj waktu-waktu saya dengan baik; antara hablumminallah dan hablumminannas.

Berbincang dengan mba Sheila yang punya anak lebih banyak jumlah dan usianya juga membuat saya belajar tentang bagaimana memahami anak-anak pada fase usia mereka. Tingkat kebutuhan anak di tiap usia bisa jadi sangat berbeda dan seorang ibu seperti saya harus mau terus belajar dari dan untuk anak agar mampu mengawal fitrah anak on the track. Saya belajar dari mba Sheila tentang komitmen dengan anak saat sempat anak mba Sheila menangis karena saya melanggar janji tidak berfoto dengan ibunya 😥

Saya belajar juga dari mba Sheila bagaimana beliau sungguh-sungguh berikhtiyar untuk menjari jalan kontribusi atas kapasitas yang Allah titipkan. Sebuah kompetensi marketing yang tidak ecek-ecek mengantarkan beliau menjadi pribasi yang mampu bersosialisasi baik di lingkungannya sehingga fase “banting-setir” keluarga Allah mudahkan jalannya. Beliau juga mengisi TPA saat sore, sempat menerima titipan anak tetangga yang ibunya berkarier (walau setelahnya ibunya juga resign), juga sempat mengajar anak-anak TK. Dari sana, saya belajar pengalamannya sebagai partner orangtua, caranya memandang anak-anak dan memahami kebutuhan anak-anak akan kehadiran dan kasih sayang orangtua. MasyaAllah, sungguh pelajaran berharga.

Mba Sheila mengingatkan saya kembali tentang orientasi dan visi misi hidup. Mba Sheila mengajari saya kembali tentang konsep rizki dan gaya hidup, bahwa keduanya sangat berkaitan dalam manajemen. Mba Sheila mengigatkan saya kembali tentang ayat Allah:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

QS Al ‘Ankabut : 69

Terimakasih Allah telah mempertemukan kami, terimakasih mba Sheila atas inspirasinya, semoga kita selalu istiqomah di jalanNya. Terakhir, perenungan lagi yang mendalam agar tetap semangat menjadi orangtua yang bertumbuh dan menumbuhkan anak menjadi orang-orang besar di zamannya. Allahu musta’an, Allahush shomad. :’)

Advertisements

Materi dan Resume Matrikulasi #1 IIP : Adab Menuntut Ilmu

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1 Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
ADAB MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Read More »

Memahami Tujuan Hidup

1396054_10200993687147281_2145774125_n

Setiap orang melakukan sesuatu sejatinya pasti memiliki tujuan. Setiap orang menjalani sesuatu pasti memiliki keinginan tertentu mengapa hal itu dilakukan. Ada harapan. Ada keyakinan. Begitupun hidup. Jika masing-masing dari kita ditanya, untuk apa sih hidup? Buat apa sih? Kira-kira, apa jawaban kita?

Saya lagi rindu catatan ini. Tahun lalu saya belajar dari orang-orang lebih dulu lahir dan menjalani hidup lalu berbagi pelajaran tentang bagimana memahami tujuan hidup. Berikut catatan saya tentang apa yang dibagi beliau-beliau: Aa Gym, Ust Arifin Ilham, dan Ust Yusuf Mansyur. Saya coba repost dan melengkapi ulang kembali. Agak panjang ya, semoga Allah limpahkan kesabaran kita dalam menuntut ilmu.

Aa Gym:

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar, Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhzim, Allahumma shalli ‘ala muhammad

Ya Allah, Ya Sami’  Ya Bashir, Allahummaftahlana hikmataka Ya Rabb, wanshur ‘alayna rahmataka Ya Dzal jalaali wal ikram, Allahumma nawwir quluubana bi nuuri hidaayatik, kama nawwartal ardha bi nuuri syamsik, ‘abadan abada, birahmatika Ya Arhamar raahimiin..

Read More »

Jadi, bagaimana seharusnya pemahaman kita tentang pendidikan (anak)?

Dini hari ini, masih dari bilik rumah cahaya yang menghangatkan. Saya, ditemani salah satu member B-family membincangkan banyak hal tentang pengembangan kepribadian. Salah satunya adalah tentang trend pendidikan di rumah pada jaman kini. Saya menyampaikan padanya bahwa, di era timeline medsos saya dipenuhi dengan kebanggaan kawan-kawan yang fokus mendidik dari rumah [saja], entah mengapa saya belum menemukan titik ketenangan untuk meng-ikut jalur yang sama. Ada puzzle yang sepertinya belum terpenuhi dengan memilih metode itu. Barangkali ini juga karena kedangkalan ilmu saya tentang itu, ekspektasi yang belum terpenuhi berkaitan dengan metode itu dan as usual, tingkat kepuasan nalar intelektual saya tentang visi-misi pengembangan karakter yang belum terakomodasi dengan metode tersebut.

Suatu waktu di hari yang lain, sembari berselancar di laman-laman artikel mengenai urgensi, konsep, atau metode operasional tentang pendidikan di rumah; saya bertanya pada diri saya sendiri, “apakah itu cara terbaik yang sesuai dengan kondisi dan fase kehidupan masa kini (dan jika nanti akan saya pilih, maka itu harus menjadi pilihan yang mampu dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan)?“. Sampai hari ini, saya belum menemukan kecenderungan lebih untuk memilih opsi itu sebagai satu-satunya jalan pendidikan yang akan ditempuh dalam keluarga di masa depan.

Read More »

Inspirasiku agar sabar

dipindah dari catatan facebook beberapa tahun silam

Oleh: Abi Hafidz Sulthon

Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”(HR. Muslim)

Read More »

Persiapan Nikah – ustadz Salim A Fillah

ditulis di notes facebook tahun 2011

Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan. Persiapan Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.” Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. Jika kesiapan  diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

Izinkan saya membagi Persiapan  dalam 5 ranah: Ruhiyah, ‘Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial)

Read More »

Kisah Mimpi seorang Hamba Sahaya

“Setiap diri kita adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin”

suatu saat khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita dari seorang hamba sahaya tentang mimpinya.

Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat.Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apa yang engkau lihat?” tanyanya.

Read More »