Pengalaman Pertama Tinggal di Apato di Chiba Prefecture, Jepang

Bismillahirrahmanirrahiim

ā˜ŗ Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihaat. Entah kenapa saya seneng banget dengan judul tantangan OWOW pekan ini. Ini karena topiknya lagi sesuai banget sama utang sharing saya kepada teman-teman yang ingin tau seperti apa sih rasanya live-in (bener-bener ngerasain-ngejalanin) daily activity di Jepang.

Alhamdulillah banget Allah beri keluarga kecil kami kesempatan itu. Kami mendapatkan tawaran seorang teman baiiiiik sekali untuk tinggal di apatonya, dan menjalani keseharian disana, pergi dan pulang ke apato setiap harinya dengan jarak Chiba-Tokyo yang kalo dikonversi di Indonesia seperti Depok-Jakarta, persis seperti gimana keseharian kami di Indonesia. Tapi apa yang beda? Yang beda adalah situasinya, fasilitas penunjangnya yang udah diupgrade 5 smpai 10 kali lipat lebih WOW *wkwkwk, lebih up to date dari sisi teknologi.

Alhamdulillah kami berkesempatan untuk tinggal di apato dg konsep yang lebih modern, tidak pakai tatami tapi tetap dengan modul. Kali ini lebih besar ukurannya yaitu 1LDK [Livingroom, Diningroom, Kitchen], diluar lorong foyer dan area kamar mandi-ruang cuci dan balkon jemur. Bentuknya mirip dengan 2DK, bedanya kalo 2DK ada pintunya, jadi di lantai ada sekat buat naruh pintu [model tradisonal pintu geser bisa dicopot].

Apato semacam ini disewakan sebulannya sekitar 80.000 Ā„ (utk tau rupiahnya kira2 dikali kurs yen saat ini 135,9 rupiah šŸ˜‚šŸ˜† ~~~ jangan nyesel abis ngitungnya) untuk wilayah Kemigawahama. Semakin strategis semakin mahal harganya, apalagi di Tokyo, bisa sekitar 2 kali lipatnya kisarannya.

Ini potret apato yang kami tinggali. Kami tinggal di lantai hampir atas kayaknya, hehe, 13th floor. Jadi setiap pagi kami akan keluar sambil membawa gembolan ke depan lift dan turun ke lantai 1, kemudian menyusuri jalan ini menuju stasiun terdekat. Alhamdulillah lokasi apato ini tidak begitu jauh dari stasiun, sekitar 1 km (ini dekeet kalo di Jepang šŸ˜Š).

Ini penampakan ketika kami berada di depan lift. Jangan membayangkan pintu lift ini ada di setiap lantai. No! Ha. Ha. Ha. Lift ini hanya memiliki nomor genap dan berhenti diantara 2 lantai. MasyaAllah, seketika saya belajar tentang efisiensi ruang dan energi *pentingbanget* ketika memahami konsepnya. Perletakan lift juga disatukan dengan tangga darurat. Di samping bapak ini langsung terhubung dg tangga yang dapat mengakses dua lantai sekaligus, setenga ke atas, setengah ke bawah, dan multifungsi jadi tangga darurat, sehingga kalau ada apa-apa, langsung bisa turun.

Sayang sekali saya tidak menyimpan penampakan apato dari luar. Tidak ada yang spesial sih. Tapi begitu pintu dibuka, kita akan bisa merasakan tata ruang ala Jepang di konsep modernnya. Tetep ada area ngeletakin sepatu-payung, naruh sandal dg rapi, tempat duduk kecil untuk pakai sepatu dan perbedaan level lantai penanda masuk area rumah.

Begitu masuk, kita akan disapa lorong 3 pintu berbentuk T. Kanan masuk ke area mesin cuci, wastafel, kamar mandi bathtub dan toilet; kiri masuk ke kamar utama, dan depan kita masuk ke area ruang umum dan kitchen, serta balkon.

Berikut adalah penampakan ruang dalam yang bisa saya akses sebagai tamu apato. Saya tidak memotret area pribadi yaa sebagai bentuk adab tamu ketika bertamu šŸ˜Š.

Satu kesan saya pertama adalah bersih, rapi, dan simple. Ya, itu adalah pembelajaran banget dari konsep hunian Jepang. Saya tidak tahu apakah mereka terdidik menjadi utilitarian (orang-orang yang hanya akan membeli/memiliki sesuatu yang diperlukan) sehingga mereka tidak biada menumpuk barang banyak di rumah. Dan kita sebagai resident walaupun warga asing, mau tidak mau jadi terbawa konsep dan mindset itu dalam cara kita berhuni.

Apato ini menggunakan lantai parquet yang cara membersihkannya tidak boleh dengan lap pel atau sapu (tidak boleh sembrono seperti hidup di Indonesia, šŸ˜…šŸ˜„). Bolehnya dengan tisu basah atau tisu kering. Disini, setiap kali kita pertama tinggak di apato, kita akan dijelasin main rule perawatan apato yang akan kita tinggali. Bagaimana manajemen pilah sampah, tidak boleh buang minyak di saluran air, menggunakan gas dengan benar (cek ulang kompor bolak balik jangan sampai meninggalkan asap di apato), teknik membersihkan lantai. Unik dan disiplinnya adalah kita bahkan bisa kena denda jika tidak mematuhi itu. Jika ada masalah dengan saluran air dan itu mampetnya karena kita, kita bisa kena denda (info dari kakak saya dulu seperti itu). Kita diajari dan diajak banget punya awareness tinggi pada hunian kita masing-masing. MasyaAllah lagi šŸ˜.

Ini potret ruang tidur ala ala untuk kami, hehe. Yang khas dari penggunaan ruang di Jepang adalah gimana ruang bisa kita pakai sefleksibel mungkin. Tau ngga pojok kiri coklat itu apa? Itu adalah lemari tempat menyimpan barang-barang, dan dia ketanam di dinding. Kasur yang kami pakai pun menggunakan angin sehingga sangat mudah untuk dikempesin lagi, ruangannya bisa dipake buat fungsi lain di waktu yang lain ketika diperlukan. Ada perabot lain-lain yang aneh2 ngga? Tidak ada.

Ini adalah area balkon tempat kami biasa menjemur baju. Yang menarik disini adalah pintu balkon yang didominasi kaca ini memiliki 2 lapis. Yang pertama berbahan kawat yang bisa mengalirkan udara dan menyaring debu, serta menjaga agar anak tetap aman. Yang kedua pintu kaca tebal yang aman dari angin kencang karena musim yang lebih beragam. Kuncian pada pintu juga menggunakan cara yang mudah. Tidak pakai kunci ala ala gembok seperti di Indonesia. Cukup diputar saja, sudah dapat mengunci pintu dan kedap udara. Faktor keamanan, sirkulasi udara, tetapi diperhatikan dengan tipe hunian vertikal. Selain itu, balkon tetap juga bisa sebagai tempat melihat panorama visual pemandangan kota.

Seperti ini misalnya. Saya bisa melihat laut dan kapal dari jauh, juga memandangi kondisi sekitar. Sederhana dan indah. Lokasi apato ini tidak jauh dari pusat belanja. Di gambar di atas bisa dlihat tulisan AEON, nah disanalah kami belanja harian. Apa?! Harian?! Iya, harian. Bukan di tukang sayur? Bukaan, wkwk šŸ˜. Tinggal jalan kaki ke mall seperti di Indonesia tapi tidak seramai di mall2 kita. Tidak macet juga. Efektif, efisien, hehe.

Oh iya, sayang juga ingin share tentang toilet disini. Sungguh bedaaa jauh dg di Indonesia. Berikut penampakannya.

Ini contoh potret toilet. Saya tidak foto yang di apato, di apato lebih cantik desainnya, ada karpet lantai dan tutup toilet dari kain. Ada aromatherapy. Yang umum adalah toilet ini kalo kita duduk diatasnya dia menyalurkan rasa hangat ke kulit kita šŸ˜šŸ˜…šŸ˜ (udah ngga ngerti ekspresi apa yang tepat saking amaze-nya). Jujur saja, saya ngerasa beda banget feelnya, oh gini ya toiletnya šŸ˜…šŸ˜… #mulainorakšŸ˜†. Kuatir betah ini di toilet, wkwk. Dan semuanya berjalan dengan sensor. Ini contoh toilet di stasiun, anggaplah Stasiun Gondangdia šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚. Ya Allah gini banget ya gap nya. Buka tempat sampah pakai sensor, bersihkan organ vital kita tinggal pencet tombol mau yang bagian mana. Bisa di set up kuat pancaran airnya seberapa. Ngeflush air tinggal arahkan tangan ke area sensor, tanpa pencet. Menurut saya, ini teknologi yang indah. Kadang kita nemu kondisi saat di LN cari air aja susah, alhamdulillah ini di stasiun tetap ada airnya.

Berikutnya sharing terakhir adalah potret jalan yang kami lalui setiap hari. Ini melewati AEON menuju stasiun. Lihat jembatan itu? Kira-kira itu jembatan apa? Kendaraan bermesin? Bukaaan. Itu jembatan penyeberangan orang dan sepeda, dan udah usang. Usianya sudah diatas 20 tahun. Saya suka sekali dengan desainnya, manusiawi sekali. Indah. Membuat orang juga ingin jalan pada akhirnya.

Ya, itulah sekelumit dari pengalaman pertama saya di apato. Belum bisa cerita semua, karena nulisnya juga ngebut ini. Masih banyaaak inspirasi dari apato, apalagi live in Jepang secara keseluruhan dan ngga bisa dirangkum dalam satu postingan saja. Semoga bermanfaat. Sampai ketemu di perjalanan tulisan saya lagi, simak kekocakannya, juga perenungan mendalamnya yak! šŸ˜Ž

Ijin wefie yaa šŸ˜„šŸ˜„

Advertisements

Tips Travelling Abroad with Baby

Bismillahirrahmanirrahiim

Hi readers! Rasanya sudah lama sekali kita tidak bersua. Ada yang rindu dengan cerita saya? Hihihi. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang tips bepergian ke luar negeri dengan anak bayi ā˜ŗ

Sebagai emak muda yang sering bepergian karena berbagai urusan, saya seringkali ditanya bagaimana saya bisa bepergian dengan membawa bayi saya kemana-mana. Pada beberapa event, bahkan teman-teman dari negara lain amazed dengan apa yang saya lakukan. Saya menjemput mereka dengan menggendong bayi, naik turun tangga 4 lantai. Atau saya menjamu mereka sambil menyuapi anak saya makan, atau sambil ia asik bermain.

Sebuah konsep tentang kehidupan emak aktivis yang barangkali berbeda dengan ibu-ibu pada umumnya. Dan pilihan konsep keluarga kecil kami yang melibatkan sedekat mungkin anak dengan aktivitas harian kami, sehingga membuat anak terbiasa dengan ritme aktivitas ibunya terutama.

Pada agenda tertentu yang mengharuskan saya pergi keluar kota atau keluar negeri, saya tidak pernah memilih pilihan untuk menitipkan anak pada saudara atau menitip pada jasa penitipan anak. Hal ini dikarenakan alasan yang saya sampaikan di atas tentang value keluarga kami, selain itu, juga memang keadaan yang belum memungkinkan untuk titip menitip. Konsekuensinya adalah saya selalu bersiap membawa bocah dalam setiap aktivitas saya. Syukur alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan yang baik untuk dapat memenuhi hak anak dalam aktivitas saya.

Pada satu acara, ada momen dimana saya harus handling bayi saya sendiri karena suamipun sedang bertugas sehingga tidak bisa menemani. Pada saat yang lain, kami pergi travelling bersama.

Saya akan share terlebih dahulu tentang kondisi: “Bagaimana jika saya travelling sendirian dg bayi saja tanpa partner siapapun?”

Plusnya adalah semua kendali ada di saya dan saya lebih sigap menerima semua resiko, sehingga saya tidak perlu berkoordinasi dengan partner lain utk menyamakan respon saat terjadi sesuatu pada anak.

Minusnya adalah saya tidak bisa menggantungkan diri kepada siapapun sebagai back up jika saya tidak mampu handling anak. Saya harus dalam kondisi siap lahir batin ketika memilih travelling hanya bersama anak.

Okai, saya akan memulai poin tips travelling bersama anak, terutama anak bayi dalam case saya.

1. Pahami terlebih dahulu rangkaian acara yg akan kita ikuti di tempat tujuan bersama bayi, beserta semua detilnya. Jika travelling itu judulnya jalan2, maka itinerary adl hal wajib banget utk dipersiapkan.

Itinerary bukan hanya berisi tentang jadwal, tetapi juga, keterangan dimana kita akan tinggal, bagaimana kondisinya disana (kondisi lokasi, apakah ada tempat tersedia utk bayi beristirahat, apakah ruangan bersih berAC, apakah makanan dan toilet mudah didapat, dsb — list pertanyaan ini akan sangat bergantung dengan aktivitas kita di tempat tujuan). Sebaiknya kita telah memahami dan mengeksplorasi dengan baik medan yang akan dihadapi di lapangan.

Kita bisa menggunakan google maps dan street view untuk melihat kondisi lingkungan sekitar. Untuk kondisi tempat menginap kita tentu bisa mendapatkan review dari web pemesanan tempat inap yang akan kita pilih.

2. Persiapkan perbekalan sesuai jumlah hari kita akan disana. Perbekalan ini meliputi pakaian, bekal kosmetik dan alat tempur anak bayi, dan perbekalan pribadi kita sendiri.

Jumlah hari, rangkaian aktivitas, lokasi yang dikunjungi (indoor-outdoor), kondisi cuaca, serta pilihan akan membawa bekal lebih tanpa mencuci atau akan mencuci di penginapan juga akan menentukan seberapa banyak yang akan kita bawa.

Lokasi dan kondisi cuaca akan menentukan tipe pakaian yang kita pilih. Ah ya, termasuk berat bagasi yang kita pilih akan menentukan berapa kilo maksimal bawaan yang akan kita pilih.

Pada kondisi travelling bersama bayi dlm kondisi bertugas, saya memilih untuk membawa baju seperlunya dengan bahan yang mudah dicuci kering dan pakai kembali. Baju untuk anak yang perlu dipersiapkan 2 pasang setiap hari tanpa dikurangi, walaupun nanti tetap dicuci.

Untuk perlengkapan bayi, jika bisa dibeli di tempat tujuan, saya prefer untuk membeli disana untuk mengurangi barang bawaan. Seperti sabun bayi, diapers, cemilan, saya memilih tidak terlalu membawa banyak dari Indonesia, dan saya telah searching dan budgetting juga dimana saya bisa mendapatkannya di negara tujuan.

Pada kondisi travelling on duty, seringkali kita ngga bisa milih cuaca. Jadi, saya selalu memastikan dulu kondisi cuaca pada kenalan setempat untuk mengetahui dengan baik seperti apa suhu dan cuaca harian, serta meminta saran pakaian seperti apa yang bisa saya pakai.

Pada kondisi travelling santai jalan2, maka saya prefer tambah bagasi agar bisa optimal membawa perbekalan. Biasanya ini saya pilih jika kami pergi lebih dari 4 hari.

3. Gunakan tas yang simple, maksimal 2 buah saja untuk memudahkan mobilitas tinggi di negara orang. Saya memilih tas ransel dan tas jinjing sebagai pilihan.

Tas ransel saya gunakan untuk memasukkan barang primer dan darurat. Tas jinjing saya gunakan untuk menyimpan barang sekunder. Kenapa? Tas ransel lebih mudah dibawa kemana-mana dan diingat, sehingga hal penting harus terus menempel di belakang pundak saya. Tas jinjing bisa jadi terlupa, atau malah bisa berubah fungsi menjadi bantal wkwk karena isinya mayoritas pakaian.

Pemilihan jenis tas ini penting karena mobilitas di luar negeri sedikit berbeda dengan di Indonesia. Hal paling kecil adalah tentang jalan kaki dan dengan kecepatan di atas rata-rata orang jalan kaki di Indonesia. Kita perlu tiba-tiba menjadi runners saat di bandara ketika kondisinya tidak seperti yang kita bayangkan. Pada bandara seperti KLIA (Malaysia), Changi (Singapore) ataupun Narita (Japan) misalnya, jarak antara Gate dengan Imigrasi tidaklah dekat, bahkan bisa diitung jauh, belum lagi antrian imigrasi maupun check in-nya (terutama bandara transir seperti KLIA dan Changi, waktu extra sangat perlu disiapkan). Belum lagi jika kita transit dengan jarak boarding time berdekatan, apalagi harus pindah terminal. Itu bukan hal mudah.

Nah sebelum itu, kita harus benar-benar kenali betul detil penerbangan kita agar tidak tersesat, walau penanda/signage di negara lain jauh lebih informatif daripada di Indonesia dan information center serta officialnya juga mudah memberikan informasi yang tepat.

Sebagai catatan, jika kita membawa infant kita tidak bisa melakukan web check-in, karena petugas maskapai biasanya ingin tau betul kondisi kita. Di Jepang pun, kita ttap akan kembali ditanya, apakah kita juga sedang hamil, karena perlakuannya akan berbeda.

4. Gunakan dresscode yang nyaman, casual, dan ramah anak saat flight.

Seringkali orang ingin tampak agak heboh saat bepergian. Pakai ini itu yang tidak perlu adalah hal yang sangat dihindari bagi yang bepergian bersama anak-anak. Kenapa? Karena ujungnya kita akan ribet sendiri dengan dresscode kita dan anak ga kepegang.

Jika masih menyusui gunakan pakaian ramah menyusui yang nyaman. Gunakan gendongan kanguru *istilah saya* atau ergonomic style yang tidak ribet. Saya tidak menyarankan menggunalan gendongan wrap jika belum terbiasa karena akan memakan waktu setiap kali memakainya.

Gunakan sepatu yang nyaman untuk jalan jauh ataupun berlari. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan sepatu cantik kecuali jika sudah terbiasa bawa anak jalan jauh dengan menggunakan heels atau wedges dan sebagainya, hehe. Sepatu dengan sketchers style bisa dipilih, walau dengan merk lain yang lebih terjangkau.

Saat di pesawat, jika kita tidak memilih menggunakan priority class biasanya kita akan mendapat perlakuan sama seperti penumpang lainnya. Otomatis kita punya pe-er ganda karena juga sedang membawa bayi. Kita perlu memastikan bahwa kita siap handling bayi saat kondisi terbang, baik saat take-off maupun landing. Seperti menyusui bayi atau cukup menenangkan atau memberi cemilan agar telinganya tidak sakit. Selain itu space kursi yang terbatas juga harus kita pertimbangkan untuk memilihkan pakaian anak yang nyaman untuk ‘terbang’ dalam sekian waktu. Jangan sampai karena salah dresscode justru anak menjadi cranky saat di dalam pesawat. Ada safety belt untuk bayi juga yang perlu kita pasang untuk keamanan penerbangan. Nah, biasanya pramugari penerbangan LN lebih ketat mengawasi poin ini kepada kita untuk alasan keselamatan.

5. Pahami kebutuhan anak saat travelling. Seperti anak juga merasa lelah, butuh pemanasan, butuh gerak, butuh eksplorasi tempat baru, butuh istirahat, butuh cemilan, butuh ganti popok, butuh minum, dan sebagainya.

PR travelling bersama anak adalah mengasah kepekaan kita akan kebutuhan anak.

Saya bukan tipe traveller yang suka buru-buru mepet waktu dalam bepergian jauh, sehingga saya selalu mengalokasikan waktu untuk anak bereksplorasi di tempat-tempat yang kami kunjungi.

Biasanya, saya memberi kesempatan kepada anak untuk berjalan-jalan, mengenal lingkungan sekitar saat bukan di waktu-waktu penting. Misalnya, saat antri imigrasi panjang, saat di ruang tunggu, anak boleh saja bermain. Atau saat saya sedang rapat, anak ingin eksplorasi ruangan, boleh saja. Eeeits, ini dengan catatan peserta rapat sudah dalam kondisi saling memahami dan siap menerima kita sebagai peserta rapat yang akan membawa bayi ya dan bayi kita tidak menggangu jalannya acara. Ini wajib dikomunikasikan ā˜ŗ

Akan menjadi PR banget kalau kita tidak tahu kapan kebutuhan anak harus dipenuhi. Anak pasti akan tantrum dan marah ke kita saat kita tidak memahaminya.

Apa yang harus kita lakukan saat itu terjadi? Segera pegang kendali, tenangkan anak, sounding, minta maaf, dan penuhi kewajiban, insyaAllah itu akan segera reda.

6. Miliki partner traveller yang supportif dan menyenangkan-menenangkan.

Satu hal yang membuat saya alhamdulillah biidznillah sejauh ini sukses membawa anak bayi jalan-jalan bersama kegiatan saya adalah ketika saya punya teman-teman tim yang saling membangun dan membantu kondisi saya. Teman-teman di negara tujuan yang memang sudah satu visi maupun menghargai pilihan saya perihal pengasuhan anak.

Saya pernah bertemu teman perjalanan di bandara dan membantu tanpa diminta. Saya pernah mendapat surprise untuk anak saya di negara tujuan, hadiah besar maupun kecil yang membuat anak nyaman travelling dan bertemu orang-orang baru dan budaya baru.

Saya sangat bersyukur memiliki jaringan kawan-kawan muslim yang murah hatinya untuk membantu kami di negeri tujuan, baik sekedar memberi informasi, ataupun hingga mentraktir makan gratis, sampai menjamin hidup dan travelling kami selama berada di negaranya, masyaAllah, laa quwwata illa billah. šŸ˜Š

7. Terakhir, perkuat komunikasi dengan anak saat akan-sedang-selesai travelling.

Bagi saya, sounding itu penting sekali. Menyiapkan anak seperti kita menyiapkan diri kita. Memberi gambaran ke anak tentang apa yang akan kita jalani bersama. Menceritakan apa yang akan kita lakukan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Contohnya, “Nak, kita akhir bulan ini akan jalan-jalan lho kesini..” Kita ceritakan seprti apa tempatnya. Jika perlu tunjukkan dalam bentuk video. Afirmasi dirinya, mau engga kita ajak jalan-jalan. Membangun imajinya tentang kebersamaan kita belajar berpetualang.

Kemudian memberi apresiasi atas kerjasama anak. Memenuhi haknya jika ia lelah. Misalnya mijitin, we-time, dan sebagainya. Tanya perasaannya pasca bepergian. InsyaAllah, bepergian bersama anak akan menjadi memori yang menyenangkan bagi semuanya.

Semoga ini bermanfaat yaa! Selamat mencoba!

*Tulisan ini ditulis dalam rangka event OWOW (One Week One Writing) KAMI Menulis IIP DEPOK