Cara Pandang Kita

Saya ingin bertanya, apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat gambar ini? Megah, kokoh, mewah? Apalagi? Menawan?

Indah, tidak? Indah ya. Kadang, pengen ngga punya kehidupan atau punya tempat tinggal atau punya bayangan tentang kehidupan pasca menikah dengan kriteria spt itu: megah, indah, kokoh, menawan, mewah?

Terkadang, kita sering banget ya fokus melihat pada sesuatu yg terlihat menawan di mata kita. Sesuatu yang kira-kira akan membuat kita merasa bangga, nyaman, dan terhormat barangkali, karena kita kira itu letak ketenangan jiwa kita.

Tapi, coba zoom. Lihat ada seorang laki2 membawa ransel di sisi kanan. Terlihat ngga? Ternyata, ada sosok manusia yang tadinya kecil, ngga terlihat di mata kita semula, kita kira ngga punya arti, justru manusia itu yang membuat hidup kita berwarna.

Coba kita pikirkan lagi. Bukankah seringkali, keabaian kita pada faktor-faktor yg kita anggap kecil justru membuat apa yg sudah tampak besar di mata kita menjadi tak ada artinya?

Apalah arti rumah mewah, jika sepi jiwa penghuninya. Apalah arti kemegahan semua fasilitas yang kita punya atau diijinkan sampai ke kita jika keterhubungan diantara manusia di dalamnya justru retak dan porak poranda karena termakan rasa ketakjuban pada benda mati yang semu semata.

Bagi saya, sekilas foto bangunan ini memang begitu indah. Apalagi jika dibahas secara artistik. Tetapi foto ini tak berarti apa-apa tanpa manusia kecil yang hampir tak terlihat di dalamnya. Laki-laki yg membawa saya beperjalanan sejauh ini utk menjalani ibadah tak putus di samudera dun-ya.

Cara pandang kita dalam hidup, maupun dalam berumah tangga akan menentukan orientasi perjalanan bahtera kita; menentukan setiap pertimbangan, setiap keputusan, setiap citra diri yg ditampilkan, setiap performa yg diupayakan.

Jadi, sudahkah cara pandangmu membawamu ke jalan keselamatan; jalan sakinah, mawaddah warahmah till jannah?

______
#owow #kamimenulis #ipdepok
#ummumaryambercerita

Advertisements

Mengarungi Bahtera Bernama Keluarga

Saya teringat, dulu, saya punya we-time bersama almh ibu saya. Waktu itu adalah waktu-waktu ibu saya sedang dirawat di rumah sakit atau waktu-waktu saya men-charging rindu dengan beliau. Duduk di teras rumah, naik becak, atau sekedar menggeggam tangannya setelah operasi dan masa cuci darah adalah saat-saat saya menggali sebanyak-banyaknya petuah dari beliau tentang apa saja; salah satunya tentang berkeluarga, juga tentang cuplikan kisah perjalanan ibu dg alm ayah saya.

Suatu hari ibu saya berpesan, “Dulu Eyang Kakung itu berpesan pada ibu, ketika ibu akan menikah. Nduk, berumahtangga itu seperti kita sedang melaut dengan bahtera. Ketika kita mengarungi samudera tentu saja kita ketemu badai, ketemu karang. Lek ono kapal ketemu karang, kapale opo karange sing ajur? Sing ajur kudu karange, ojo kapale.

Ibu saya berpesan, dalam berumahtangga, nanti kita pasti kita akan ketemu masalah, sebagaimana kapal yg berlayar. Tetapi jika ketemu masalah, jangan sampai kapal kita yang hancur karena masalah itu. Kapal harus lebih kuat daripada karang. Jika kapal bertemu karang, jangan sampai kapal yang pecah nabrak karang, tapi karanglah yang harus pecah. “Itulah yang menjadi landasan ibu tetap selalu bersama ayah hingga maut memisahkan, walau sampeyan (kamu, dlm bhs Jawa) tau kan ibu juga pernah bertengkar sama ayah.”

Saat itu, belum terbayang bagi saya seperti apa kelak ketika bahtera keluarga saya berlayar. Kini, setelah saya menjalani hampir 4 tahun usia pernikahan; saya memahami dan menyelami pesan singkat ibu saya tadi. Bahwa menikah dan berumahtangga itu bukan tanpa masalah, tetapi justru kita ketemu masalah-masalah dan mendewasa bersama masalah-masalah itu. Ibarat sebuah CV, pada akhirnya kita punya sederet pengalaman menangani masalah seiring perjalanan pelayaran bahtera ini.

Saya melihat lagi, foto keluarga kecil kami. Laki-laki yang berdiri di sebelah saya ini ketika masa taaruf menyampaikan bahwa kami memiliki banyak persamaan tapi juga banyak perbedaan, yang itu akan menjadi tantangan saat bersama. Dan benar adanya.

Ketika ada dua orang sama-sama teguh pendirian, sama-sama punya track hidup yang kuat masing-masing, sama-sama seneng belajar, sama-sama senang menchallenge diri, sama-sama kritis, sama-sama keukeuh; apa kira-kira yang Anda bayangkan yg terjadi dalam rumah tangga mereka? Waktu diskusi kami lebih seru dari acara debat capres *wkwk, bahkan bisa dikira bertengkar karena perbedaan pendapat dan sudut pandang.

Saat kami belum bisa nemu ritme ngegas dan ngerem yang tepat, memang rasanya bahtera bernama keluarga ini seperti begitu mendebarkan seperti roller coaster di tengah badai laut. Seru banget! Itu karena kami bukan tipe yang sama-sama mengalah. Alhamdulillah kami tak bisa berlama-lama berbeda, karena visi dan misi kami yang sudah searah, membuat kami tau kapan meletakkan ego masing-masing dan menyeduh kopi bersama lagi.

Waktu demi waktu mendewasakan kami. Ilmu membuat kami tidak berhenti belajar terus untuk mengenali lebih dalam diri kami masing-masing dan peran kami masing-masing untuk membuat bahtera kami terus bisa berlayar dampai tujuan. Semakin kesini, alhamdulillahi bini’matihi tatimmush shalihat, kami tak lagi menunjuk, memaksa, menuntut siapa harus bagaimana. Kami memberikan versi terbaik yang bisa kami lakukan. Pada akhirnya kami belajar bagaimana caranya mengemudikan bahtera ini. Mohon doakan kami semakin lihai menahkodai bahtera kehidupan kami.

Kata pakar keluarga, lima tahun pertama adalah masanya sebuah pasangan yang berumahtangga menyelesaikan dirinya sendiri karena setelah itu mereka harus fokus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tidakkah lebih baik jika itu bisa kita capai sebelum deadlinenya?

Kini saatnya, si kecil juga belajar dan diajari bagaimana berlayar bersama di bahtera kita yang penuh kejutan dan keajaiban. Mari terus berlayar, putri kesatria!

_____

Ketika saya bertanya kepada ibu, menantu seperti apa yang ibu inginkan untuk menemani saya. Ibu menjawab, “Nggih sing saged nyrateni sampeyan, sing saged ngerti kepengenan sampeyan..” (Ya yang bisa mengayomi (memahami betul semua hal) tentang kamu, yang bisa ngertiin pengennya kamu..)

Saya berkali-kali mengucap syukur ketika saya telah menikah, “Ibu, terimakasih atas harapan dan doa-doa itu. Terimakasih Rabb telah mengabulkan doa ibu, bahwa kini saya didampingi oleh partner berjuang yang sesuai dengan doa ibu saya“.

*ditulis diatas bed sebuah ruangan di RS tipe C menemani anak kecil yg sedang berjuang utk sehat kembali 🙂 be strong my strong girl!

*ditulis dalam rangka mengikuti tantangan One Week One Writing Kelas Minat Menulis Komunitas Ibu Profesional Depok

Review Buku : Reclaim your heart, Rebut kembali hatimu…

Bismillahirrahmanirrahiim

Pekan ini saya mendapat tantangan dari Kelas Minat Menulis IIP Depok untuk bercerita tentang buku favorit saya. Wah masyaAllah, satu hal saya suka banget. Cerita tentang bukuuu. Hehe, tapi buku apa ya enaknya? 😄😅

Bagi orang yang memiliki koleksi buku segambreng sebenarnya mungkin agak kesulitan mencari mana yang mau di-share duluan. Hmmm.

Ini adalah potret rak buku di rumah, wkwk 😁 ini masih belum semua koleksi, karena ada 2 dus besar, sekitar 20 kg yang ditunggu hadir dari rumah lama agar terpenuhi haknya. Doakan segera sampai ya! 😙

Okay! Setelah merenung singkat (apa sih), akhirnya saya memutuskan untuk memilih salah satu buku paling berkesan dalam fase hidup saya yaitu Reclaim Your Heart karya ustadzah Yasmin Mogahed. Buku ini adalah bestseller di amazon.com dan masuk Top 100 plus bintang 5 sejak 2012. Dan kenapa buku ini? Buku ini punya peran berharga menemani saya bertumbuh di masa-masa sulit. Selain itu, ini juga buku yang saya hadiahkan pada calon suami (saat belum menjadi suami *cieee) saat kami sedang berproses menuju pernikahan. Jadi kami masing-masingunya 1 buku.

Saya akan mengawali dengan me-review penulisnya. Siapa Yasmin Mogahed? Beliau adalah seorang psikolog keturunan Mesir yang tinggal di Amerika Serikat. Beliau lulusan University of Wisconsin-Madison dan mengajar studi Islam serta menjadi instruktur kepenulisan di Cardinal Strich University. Beliau seorang pembicara Internasional dengan tema keislaman, utamanya tentang hati.

Bagaimana saya bisa mengerti tentang beliau? Saya tau beliau pertamakali lewat tumblr. Banyak sekali quotes beliau berseliweran bersanding dengan ustadz lainnya, seperti Nouman Ali Khan, Mufti Ismail Menk, Boona Muhammad, Tariq Ramadan, dsb. Salah satunya seperti di bawah ini. MasyaAllah, indah.

Darisana, akhirnya saya kepo dengan profil beliau dan menemukan bahwa beliau punya satu karya hebat, Reclaim Your Heart. Saya langsung hunting dan dapet versi terjemahan waktu itu, masyaAllah seneng banget. Dan hingga sekarang, saya tidak pernah nyesel membelinya dan selalu merekomendasikan ke orang utntuk baca.

Okay, sekarang tentang isi bukunya. Apa sih yang dibahas di dalam Reclaim Your Heart?

Sedikitnya ada 7 bab penjelasan dlm buku dan tidak ada pengantar kecuali testimoni serta persembahan. Tetapi ada bagian yang nendang banget sebagai impresi pertama saat saya buka bukunya. Saya akan kutip disini.

Kami mengerti Anda hanya membutuhkan buku bermutu, dengan ulasan yang hebat dan menghebatkan.

Sekarang, bersyukurlah, Anda telah mendapatkannya.

MasyaAllah! Dan setelah saya baca tiap babnya, ini bener, ini bener banget! 😍

Ada tujuh bagian besar yang dibahas di dalam buku ini. Pertama, keterikatan. Kedua, cinta. Ketiga, penderitaan. Keempat, hubungan dengan Sang Pencipta. Kelima, status perempuan. Keenam, ummat. Dan ketujuh, puisi.

Saya tentu tidak akan bisa membahas detil satu per satu konten masing-masing bagian tersebut. Kita perlu ketemu bedah buku banget untuk bahas itu. 😄 Tetapi saya akan sharing contoh part yang nendang banget menjadi refleksi bagi diri saya sendiri.

Pada bab pertama, Ustadzah Yasmin menyadarkan saya tentang bagaimana konsep keterikatan.

Orang-orang yang membuatsaya kecewa tidak dapat dipersalahkan, sama seperti gravitasi yang tidak bisa dipersalahkan karena menjatuhkan dan memecahkan gelas. Kita tidak bisa menyalahkan hukum fisika ketika sebatang ranting patah karena kita bersandar padanya. Ranting tidak pernah diciptakan untuk menahan beban kita.

– Yasmin Mogahed

Plaak! MasyaAllah rasanya saya begitu diingatkan bahwa bukan salah dun-ya dan segala tentangnya ketika kita dibuat kecewa, marah, kesal d segala penyakit hati yang muncul karena kita bersandar padanya. Tetapi adalah salah saya pribadi yang tidak meletakkan hati saya -keterikatan (attachment) saya- dengan benar. Meletakkan gelas kaca (analogi hati) di pinggir meja tentu akan rentan tersenggol orang dan mudah jatuh. Tidak serta merta salah orang menyenggolnyam tapi lebih pada ketidakhati-hatian saya menempatkannya. Jika saya bisa menempatkan di tengah meja, tentu kemungkinan itu sangat jauh bisa diminimalisir. Begitupun hati, jika saya titipkan ia kepada Yang Memilikinya, maka insyaAllah bi idznillah ia akan aman saja. Bab ini mengajari saya tentang kedalaman ayat Allah pada QS Al Baqarah 256, “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Secara otomatis, membangun keterikatan pada selain Allah sudah mesti tidak akan pernah membawa pada kekuatan iman, yang ada adalah kekhawatiran ketidakmampuan yang diikat menampung beban kita.

Bab ini juga menambah pemahaman saya tentang dun-ya yang memang diciptakan sementara, tidak akan pernah kekal, dan tidak akan pernah sempurna. Yang kekal dan sempurna hanyalah jannah. Jadi, jika kita menginginkan karakter jannah pada dun-ya itu sudah jelas bukan pada tempatnya dan tidak akan pernah terjadi sesuai kaidah penciptaannya.

Sebuah inspirasi dsri buku ini yanh membangun diri saya adalah konsep tentang dun-ya. Dun-ya ibarat samudera, dan kita sedang berada di atas kapal. Kita berawal dari satu daratan menuju daratan berikutnya. Kita bukan diciptakan untuk tinggal di samudera, bukan. Kita diciptakan untuk mengarungi samudera. Maka, apakah kita boleh tenggelam? Tidak. Kita boleh menyelam, melihat berbagai keindahan alam bawah laut. Disana juga ada mutiara nan indah, ada pula hasil laut, yang dipendam dasar laut yang bermakna. Tapi apakah berarti jika kita hanya di dasar laut? Tidak. Kita hanya menyelam untuk mengambil “khasanah” dan “hikmah” dari hasil penyelaman kita. Penyelam yang hebat adalah yang kembali ke kapal dan pulang, serta menceritakan hasil petualangannya. Bukan mereka yang tenggelam. Begitupun pada dun-ya kita tidak boleh tenggelam. Kita harus pandai menyelam dan menahkodai kapal. Oleh karena itu, kita butuh tujuan, agar jelas track penyelaman kita, apa yang kita cari dan bawa naik ke kapal untuk bekal pulang. Terlalu lama di tengah lautan harus dipastikan bekal kita juga cukup menemani perjalanan, agar kita tidak mati ditelan ombak dan badai pelayaran.

Berikutnya, saya begitu tertegun bagaimana Ustadzah Yasmin menganalogikan karunia. Bahwa memhami karunia itu seperti kita memahami pemberian hadiah. Yang harusnya menghadirkan attachment itu hadiahnyaatau orang yang memberi hadiah kepada kita? Sebagaimana kita pada anak kita, bagaimana anak sangat menyukai hadiah yang kita beri tapi mereka lupa pada kita? Tentu bukan itu yang kita inginkan. Begitupula dengan karunia. Tujuan Allah memberikan itu pada kita bukan agar kita terikat padanya. Hadiah berupa karunia itu agar kita mendekat padanya dan kita mengamalkan karunia itu dengan sebaik-baiknya. Poin ini sanhat menginspirasi saya hingga saya membuat karya di soundcloud.com dengan judul Antara Hadiah dan Karunia, silakan didengarkan. 😊

Pada bab cinta, setidaknya ada dua quotes yang sangat mengena bagi saya.

Betapa sering kita berpikir bahwa Allah hanya menguji kita dengan cobaanNya, padahal itu tidak benar. Allah juga menguji kita dengan kemudahan. Dia menguji kita dengan na’im (nikmat) dan dengan hal-hal yang kita cintai — justru dalam ujian bentuk ini kebanyakan dari kita gagal. – Yasmin Mogahed

Kebutuhan utama kaum lelaki adalah untuk dihormatu, sementara kebutuhan utama wanita adalah untuk dicintai. – Yasmin Mogahed

Bab ini mengajari saya untuk memahami bagaimana logika cinta sejati. Kalau yang kita tau mobil mainan itu hebat banget, dan kita baru tau itu doang, pasti kita akan benar-benar mencintainya. Tetapi setelah kita tahu mobil yang sebenarnya itu lebih hebat, maka kita tentu akan melupakan yang berbentuk mainan tadi, dan hati kita sudah tentu akan takjub pada yang asli, yang sesungguhnya. Begitu kira-kira mencintai makhluk dibanding mencintai model sesungguhnya, Rabb, yang menciptakan semuanya. Kita akan dibuat takjub berkali-kali. 😍💖

Yah, begitulah sedikit cuplikan isi dari Reclaim Your Heart, masih banyaaaak sekali hikmah lainnya. Bagi saya, ustadzah Yasmin mampu membawakan narasi Quran dengan bahasa kaum yang sangat humanis, tetapi khas dengan porsi rasionalitas dan pembangunan logika berpikir yang tinggi. Saya melihat beliau sungguh mampu melihat kondisi masyarakat US yang tentu sangat mengedepankan akal dan intelektual. Buku ini tepat sekali dibaca oleh mereka yang kehilangan hatinya, kehilangan kenikmatan ketaatan, apalagi kehilangan kedekatan dengan Rabbnya. Recommended +1+1+1+1+1 ! Membaca buku ini membuat saya berpikir ini memang layak bintang 5 dan bestseller di amazon! 😎😍

Semoga di lain waktu saya bisa berbagi lebih banyak. ☺

Setan bersuka cita ketika Adam jatuh dari surga. Tetapi, setan tidak tahu ketika seorang penyelam tenggelam ke laut, ia mengumpulkan mutiara dan kemudian naik lagi. – Yasmin Mogahed

Selamat menyelam, jangan tenggelam, harus bisa berenang.

Selamat merebut kembali hati Anda!

Sebuah Kenangan, Sebuah Renungan

Pada akhirnya, kita hanya seorang pembelajar dari setiap fase hidup kita. Kita meraba-raba, mencoba memahami maknanya, menyelami hikmahnya, menjadikannya bekal ransel perjalanan berikutnya. Pertanyaannya, apakah kita menemukan esensinya? (Roihanah, 2016)

Bismillahirrahmanirrahiim. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah, yang masih mengijinkan setiap jemari menari, menuangkan apa-apa yang beberapa bulan ke belakang mencoba direnung-resapi, teringat sebuah nasihat sederhana, satu paragraf taujih dalam pernikahan saya dan suami, Gus Pung, yang mengingatkan kami tentang ayat pernikahan, Ar Ruum:21, “Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Bahkan, untuk memahami hikmah pernikahan pun, kita perlu berpikir, perlu bertafakkur, merenung-resapi bagaimana mewujud sakinah mawaddah warahmah yang tidak instan. Apalagi merenungi hidup.

Read More »

Memahami Tujuan Hidup

1396054_10200993687147281_2145774125_n

Setiap orang melakukan sesuatu sejatinya pasti memiliki tujuan. Setiap orang menjalani sesuatu pasti memiliki keinginan tertentu mengapa hal itu dilakukan. Ada harapan. Ada keyakinan. Begitupun hidup. Jika masing-masing dari kita ditanya, untuk apa sih hidup? Buat apa sih? Kira-kira, apa jawaban kita?

Saya lagi rindu catatan ini. Tahun lalu saya belajar dari orang-orang lebih dulu lahir dan menjalani hidup lalu berbagi pelajaran tentang bagimana memahami tujuan hidup. Berikut catatan saya tentang apa yang dibagi beliau-beliau: Aa Gym, Ust Arifin Ilham, dan Ust Yusuf Mansyur. Saya coba repost dan melengkapi ulang kembali. Agak panjang ya, semoga Allah limpahkan kesabaran kita dalam menuntut ilmu.

Aa Gym:

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar, Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhzim, Allahumma shalli ‘ala muhammad

Ya Allah, Ya Sami’  Ya Bashir, Allahummaftahlana hikmataka Ya Rabb, wanshur ‘alayna rahmataka Ya Dzal jalaali wal ikram, Allahumma nawwir quluubana bi nuuri hidaayatik, kama nawwartal ardha bi nuuri syamsik, ‘abadan abada, birahmatika Ya Arhamar raahimiin..

Read More »

Tentang rizki

Barangkali tak ada artinya, seberapapun rizki yang dititipkan pada kita, ketika kita tidak mensyukurinya. Kita sibuk mencari pembanding rizki itu, sedang pada detik yang sama, orang lain harus berpeluh-peluh mendapatkannya.

-roihanah, 2015

Alhamdulillah, Rabb. Tak ada kata seindah hamdalah ketika diri ini mencoba mengingati begitu banyak rizki yang telah Allah berikan. Seberapa banyak pun diri ingin menuliskan, takkan mampu diri ini menuliskan. Terlalu banyak, terlalu indah, terlalu mempesona. Ma shaa Allah, laa quwwata illa billah.

Hari ini kembali saya merenungi betapa setujunya saya dengan sebuah kalimat sederhana yang dinasihatkan Ust Salim A Fillah pada suatu waktu tentang rizki. Beliau mengatakan, “Rizki itu bukan tentang izin memiliki, tetapi izin menggunakan – memakai“. Bagi saya, ungkapan ini begitu mendalam melalui setiap perjalanan saya. Betapa banyaknya rizki yang Allah hadirkan, sengaja bukan untuk saya miliki, tetapi saya diberi izin menggunakan rizki itu seperti apapun saya menginginkannya. Betapa Maha Kasih Sayang Allah, yang mengijinkan banyak rizki yang sampai kepada kita tanpa pernah kita perlu bersusah payah mencarinya. Allah hadiahkan pada waktu-waktu yang tepat, dengan kadar nikmat yang tak terduga.

Read More »

Menata Ulang

Seperti itulah hidup. Barangkali kita harus mengeja banyak tanda, kita harus menjejak banyak cerita. Agar kita lebih mendewasa dalam pikir dan cara. Agar kita lebih rapi lagi menata rasa dan asa. Agar hidup ini lebih bermakna. -roihanah, 2015

25 tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk melukiskan cerita dalam kanvas kehidupan, Tetapi 25 tahun bukanlah apa-apa dalam hitungan waktu langit yang tak mampu kita eja. 25 tahun dalam hidup saya, merupakan 25 masa mencoba tumbuh dan mekar dengan segala musim kehidupan. Barangkali saya tak mampu menjelaskan detil fasenya, tetapi saya mampu belajar dari fase-fase itu. Fase-fase yang mendewasakan saya, pada waktu-waktu tak terduga. Saat yang lain masih pada anak tangga keberapa, saya harus telah sampai pada tangga keberapa. Dan tak pernah diajari untuk membanding-bandingkan, sehingga jika yang muncul perbedaan, hanya mencoba memaafkan saja, bahwa setiap cerita hidup orang berbeda. 🙂

Read More »