‘Ruang Dan Tempat’ Urban: Antara Lokalitas Dan Universalitas

Karena antara kita dan kota jang kita tinggali

Karena antara rumah dan kita sendiri, tiada lagi hubungan.

— Ajip Rosidi, cukilan puisi “Djembatan Dukuh”, 1956

Fenomena Ruang Urban Kita

Ada hal yang tidak dapat dipisahkan dalam ruang urban kita hari ini (Tardiyana, 2011), yakni yang biasa disebut dengan urban culture, yang dapat diuraikan dalam beberapa poin, yaitu work hard, play hard; café culture; consumtive society; dan aesthetic daily life. Pada kondisi kota masa kini setiap hal berjalan dengan cepat, aktivitas manusia kota sangat padat, dimana hal tersebut menyebabkan tingkat stress yang tinggi bagi penghuni kota. Kultur ‘nongkrong’ duduk berlama-lama di café membutuhkan desain café yang artistik dan menarik. Selain itu, kesibukan yang tinggi menyebabkan penduduk kota menjadi masyarakat yang konsumtif, terutama budaya perkotaan yang selalu menjadi sasaran pertama program globalisasi dunia, sehingga banyak sekali produk barang dan jasa masuk dan merambah di sudut-sudut horisontal maupun sudut vertikal perkotaan. Kehidupan sosial yang estetis menjadi tuntutan perkembangan jaman yang tidak dapat dielakkan. Arsitektur sebagai penyokong fisik perkotaan tidak bisa terlepas dari tuntutan ini juga. Perancangan ruang urban, mau-tidakmau, harus mengakomodir kebutuhan tersebut.

Read More »

Advertisements

Collaborative Planning – belajar dari Kang Emil

belajar dari Kang Emil: Collaborative Planning

(dalam Diskusi Kampung Wajah Kota – Gaung Bandung)

1380746_10200943450451395_318017997_n

“Jadi begini, di dalam teori kekuasaan, pemerintah itu bisa merubah sebesar 25%, jadi saya, dan jajaran saya, juga anggaran, itu hanya bisa merubah 25%. Berikutya, capital, itu bisa merubah 25%, civil soceity 25%, dan media 25%. Dulu saya mencoba membuat apa yg bisa saya lakukan dengan BCCF, Indonesia Berkebun, dsb tapi itu kekuatannya hanya 25%. Sekarang kita berada disini, ini kekuatannya 50%.”

Read More »