Review Buku : Reclaim your heart, Rebut kembali hatimu…

Bismillahirrahmanirrahiim

Pekan ini saya mendapat tantangan dari Kelas Minat Menulis IIP Depok untuk bercerita tentang buku favorit saya. Wah masyaAllah, satu hal saya suka banget. Cerita tentang bukuuu. Hehe, tapi buku apa ya enaknya? πŸ˜„πŸ˜…

Bagi orang yang memiliki koleksi buku segambreng sebenarnya mungkin agak kesulitan mencari mana yang mau di-share duluan. Hmmm.

Ini adalah potret rak buku di rumah, wkwk 😁 ini masih belum semua koleksi, karena ada 2 dus besar, sekitar 20 kg yang ditunggu hadir dari rumah lama agar terpenuhi haknya. Doakan segera sampai ya! πŸ˜™

Okay! Setelah merenung singkat (apa sih), akhirnya saya memutuskan untuk memilih salah satu buku paling berkesan dalam fase hidup saya yaitu Reclaim Your Heart karya ustadzah Yasmin Mogahed. Buku ini adalah bestseller di amazon.com dan masuk Top 100 plus bintang 5 sejak 2012. Dan kenapa buku ini? Buku ini punya peran berharga menemani saya bertumbuh di masa-masa sulit. Selain itu, ini juga buku yang saya hadiahkan pada calon suami (saat belum menjadi suami *cieee) saat kami sedang berproses menuju pernikahan. Jadi kami masing-masingunya 1 buku.

Saya akan mengawali dengan me-review penulisnya. Siapa Yasmin Mogahed? Beliau adalah seorang psikolog keturunan Mesir yang tinggal di Amerika Serikat. Beliau lulusan University of Wisconsin-Madison dan mengajar studi Islam serta menjadi instruktur kepenulisan di Cardinal Strich University. Beliau seorang pembicara Internasional dengan tema keislaman, utamanya tentang hati.

Bagaimana saya bisa mengerti tentang beliau? Saya tau beliau pertamakali lewat tumblr. Banyak sekali quotes beliau berseliweran bersanding dengan ustadz lainnya, seperti Nouman Ali Khan, Mufti Ismail Menk, Boona Muhammad, Tariq Ramadan, dsb. Salah satunya seperti di bawah ini. MasyaAllah, indah.

Darisana, akhirnya saya kepo dengan profil beliau dan menemukan bahwa beliau punya satu karya hebat, Reclaim Your Heart. Saya langsung hunting dan dapet versi terjemahan waktu itu, masyaAllah seneng banget. Dan hingga sekarang, saya tidak pernah nyesel membelinya dan selalu merekomendasikan ke orang utntuk baca.

Okay, sekarang tentang isi bukunya. Apa sih yang dibahas di dalam Reclaim Your Heart?

Sedikitnya ada 7 bab penjelasan dlm buku dan tidak ada pengantar kecuali testimoni serta persembahan. Tetapi ada bagian yang nendang banget sebagai impresi pertama saat saya buka bukunya. Saya akan kutip disini.

Kami mengerti Anda hanya membutuhkan buku bermutu, dengan ulasan yang hebat dan menghebatkan.

Sekarang, bersyukurlah, Anda telah mendapatkannya.

MasyaAllah! Dan setelah saya baca tiap babnya, ini bener, ini bener banget! 😍

Ada tujuh bagian besar yang dibahas di dalam buku ini. Pertama, keterikatan. Kedua, cinta. Ketiga, penderitaan. Keempat, hubungan dengan Sang Pencipta. Kelima, status perempuan. Keenam, ummat. Dan ketujuh, puisi.

Saya tentu tidak akan bisa membahas detil satu per satu konten masing-masing bagian tersebut. Kita perlu ketemu bedah buku banget untuk bahas itu. πŸ˜„ Tetapi saya akan sharing contoh part yang nendang banget menjadi refleksi bagi diri saya sendiri.

Pada bab pertama, Ustadzah Yasmin menyadarkan saya tentang bagaimana konsep keterikatan.

Orang-orang yang membuatsaya kecewa tidak dapat dipersalahkan, sama seperti gravitasi yang tidak bisa dipersalahkan karena menjatuhkan dan memecahkan gelas. Kita tidak bisa menyalahkan hukum fisika ketika sebatang ranting patah karena kita bersandar padanya. Ranting tidak pernah diciptakan untuk menahan beban kita.

– Yasmin Mogahed

Plaak! MasyaAllah rasanya saya begitu diingatkan bahwa bukan salah dun-ya dan segala tentangnya ketika kita dibuat kecewa, marah, kesal d segala penyakit hati yang muncul karena kita bersandar padanya. Tetapi adalah salah saya pribadi yang tidak meletakkan hati saya -keterikatan (attachment) saya- dengan benar. Meletakkan gelas kaca (analogi hati) di pinggir meja tentu akan rentan tersenggol orang dan mudah jatuh. Tidak serta merta salah orang menyenggolnyam tapi lebih pada ketidakhati-hatian saya menempatkannya. Jika saya bisa menempatkan di tengah meja, tentu kemungkinan itu sangat jauh bisa diminimalisir. Begitupun hati, jika saya titipkan ia kepada Yang Memilikinya, maka insyaAllah bi idznillah ia akan aman saja. Bab ini mengajari saya tentang kedalaman ayat Allah pada QS Al Baqarah 256, “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Secara otomatis, membangun keterikatan pada selain Allah sudah mesti tidak akan pernah membawa pada kekuatan iman, yang ada adalah kekhawatiran ketidakmampuan yang diikat menampung beban kita.

Bab ini juga menambah pemahaman saya tentang dun-ya yang memang diciptakan sementara, tidak akan pernah kekal, dan tidak akan pernah sempurna. Yang kekal dan sempurna hanyalah jannah. Jadi, jika kita menginginkan karakter jannah pada dun-ya itu sudah jelas bukan pada tempatnya dan tidak akan pernah terjadi sesuai kaidah penciptaannya.

Sebuah inspirasi dsri buku ini yanh membangun diri saya adalah konsep tentang dun-ya. Dun-ya ibarat samudera, dan kita sedang berada di atas kapal. Kita berawal dari satu daratan menuju daratan berikutnya. Kita bukan diciptakan untuk tinggal di samudera, bukan. Kita diciptakan untuk mengarungi samudera. Maka, apakah kita boleh tenggelam? Tidak. Kita boleh menyelam, melihat berbagai keindahan alam bawah laut. Disana juga ada mutiara nan indah, ada pula hasil laut, yang dipendam dasar laut yang bermakna. Tapi apakah berarti jika kita hanya di dasar laut? Tidak. Kita hanya menyelam untuk mengambil “khasanah” dan “hikmah” dari hasil penyelaman kita. Penyelam yang hebat adalah yang kembali ke kapal dan pulang, serta menceritakan hasil petualangannya. Bukan mereka yang tenggelam. Begitupun pada dun-ya kita tidak boleh tenggelam. Kita harus pandai menyelam dan menahkodai kapal. Oleh karena itu, kita butuh tujuan, agar jelas track penyelaman kita, apa yang kita cari dan bawa naik ke kapal untuk bekal pulang. Terlalu lama di tengah lautan harus dipastikan bekal kita juga cukup menemani perjalanan, agar kita tidak mati ditelan ombak dan badai pelayaran.

Berikutnya, saya begitu tertegun bagaimana Ustadzah Yasmin menganalogikan karunia. Bahwa memhami karunia itu seperti kita memahami pemberian hadiah. Yang harusnya menghadirkan attachment itu hadiahnyaatau orang yang memberi hadiah kepada kita? Sebagaimana kita pada anak kita, bagaimana anak sangat menyukai hadiah yang kita beri tapi mereka lupa pada kita? Tentu bukan itu yang kita inginkan. Begitupula dengan karunia. Tujuan Allah memberikan itu pada kita bukan agar kita terikat padanya. Hadiah berupa karunia itu agar kita mendekat padanya dan kita mengamalkan karunia itu dengan sebaik-baiknya. Poin ini sanhat menginspirasi saya hingga saya membuat karya di soundcloud.com dengan judul Antara Hadiah dan Karunia, silakan didengarkan. 😊

Pada bab cinta, setidaknya ada dua quotes yang sangat mengena bagi saya.

Betapa sering kita berpikir bahwa Allah hanya menguji kita dengan cobaanNya, padahal itu tidak benar. Allah juga menguji kita dengan kemudahan. Dia menguji kita dengan na’im (nikmat) dan dengan hal-hal yang kita cintai — justru dalam ujian bentuk ini kebanyakan dari kita gagal. – Yasmin Mogahed

Kebutuhan utama kaum lelaki adalah untuk dihormatu, sementara kebutuhan utama wanita adalah untuk dicintai. – Yasmin Mogahed

Bab ini mengajari saya untuk memahami bagaimana logika cinta sejati. Kalau yang kita tau mobil mainan itu hebat banget, dan kita baru tau itu doang, pasti kita akan benar-benar mencintainya. Tetapi setelah kita tahu mobil yang sebenarnya itu lebih hebat, maka kita tentu akan melupakan yang berbentuk mainan tadi, dan hati kita sudah tentu akan takjub pada yang asli, yang sesungguhnya. Begitu kira-kira mencintai makhluk dibanding mencintai model sesungguhnya, Rabb, yang menciptakan semuanya. Kita akan dibuat takjub berkali-kali. πŸ˜πŸ’–

Yah, begitulah sedikit cuplikan isi dari Reclaim Your Heart, masih banyaaaak sekali hikmah lainnya. Bagi saya, ustadzah Yasmin mampu membawakan narasi Quran dengan bahasa kaum yang sangat humanis, tetapi khas dengan porsi rasionalitas dan pembangunan logika berpikir yang tinggi. Saya melihat beliau sungguh mampu melihat kondisi masyarakat US yang tentu sangat mengedepankan akal dan intelektual. Buku ini tepat sekali dibaca oleh mereka yang kehilangan hatinya, kehilangan kenikmatan ketaatan, apalagi kehilangan kedekatan dengan Rabbnya. Recommended +1+1+1+1+1 ! Membaca buku ini membuat saya berpikir ini memang layak bintang 5 dan bestseller di amazon! 😎😍

Semoga di lain waktu saya bisa berbagi lebih banyak. ☺

Setan bersuka cita ketika Adam jatuh dari surga. Tetapi, setan tidak tahu ketika seorang penyelam tenggelam ke laut, ia mengumpulkan mutiara dan kemudian naik lagi. – Yasmin Mogahed

Selamat menyelam, jangan tenggelam, harus bisa berenang.

Selamat merebut kembali hati Anda!

Advertisements

Pengalaman Pertama Tinggal di Apato di Chiba Prefecture, Jepang

Bismillahirrahmanirrahiim

☺ Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihaat. Entah kenapa saya seneng banget dengan judul tantangan OWOW pekan ini. Ini karena topiknya lagi sesuai banget sama utang sharing saya kepada teman-teman yang ingin tau seperti apa sih rasanya live-in (bener-bener ngerasain-ngejalanin) daily activity di Jepang.

Alhamdulillah banget Allah beri keluarga kecil kami kesempatan itu. Kami mendapatkan tawaran seorang teman baiiiiik sekali untuk tinggal di apatonya, dan menjalani keseharian disana, pergi dan pulang ke apato setiap harinya dengan jarak Chiba-Tokyo yang kalo dikonversi di Indonesia seperti Depok-Jakarta, persis seperti gimana keseharian kami di Indonesia. Tapi apa yang beda? Yang beda adalah situasinya, fasilitas penunjangnya yang udah diupgrade 5 smpai 10 kali lipat lebih WOW *wkwkwk, lebih up to date dari sisi teknologi.

Alhamdulillah kami berkesempatan untuk tinggal di apato dg konsep yang lebih modern, tidak pakai tatami tapi tetap dengan modul. Kali ini lebih besar ukurannya yaitu 1LDK [Livingroom, Diningroom, Kitchen], diluar lorong foyer dan area kamar mandi-ruang cuci dan balkon jemur. Bentuknya mirip dengan 2DK, bedanya kalo 2DK ada pintunya, jadi di lantai ada sekat buat naruh pintu [model tradisonal pintu geser bisa dicopot].

Apato semacam ini disewakan sebulannya sekitar 80.000 Β₯ (utk tau rupiahnya kira2 dikali kurs yen saat ini 135,9 rupiah πŸ˜‚πŸ˜† ~~~ jangan nyesel abis ngitungnya) untuk wilayah Kemigawahama. Semakin strategis semakin mahal harganya, apalagi di Tokyo, bisa sekitar 2 kali lipatnya kisarannya.

Ini potret apato yang kami tinggali. Kami tinggal di lantai hampir atas kayaknya, hehe, 13th floor. Jadi setiap pagi kami akan keluar sambil membawa gembolan ke depan lift dan turun ke lantai 1, kemudian menyusuri jalan ini menuju stasiun terdekat. Alhamdulillah lokasi apato ini tidak begitu jauh dari stasiun, sekitar 1 km (ini dekeet kalo di Jepang 😊).

Ini penampakan ketika kami berada di depan lift. Jangan membayangkan pintu lift ini ada di setiap lantai. No! Ha. Ha. Ha. Lift ini hanya memiliki nomor genap dan berhenti diantara 2 lantai. MasyaAllah, seketika saya belajar tentang efisiensi ruang dan energi *pentingbanget* ketika memahami konsepnya. Perletakan lift juga disatukan dengan tangga darurat. Di samping bapak ini langsung terhubung dg tangga yang dapat mengakses dua lantai sekaligus, setenga ke atas, setengah ke bawah, dan multifungsi jadi tangga darurat, sehingga kalau ada apa-apa, langsung bisa turun.

Sayang sekali saya tidak menyimpan penampakan apato dari luar. Tidak ada yang spesial sih. Tapi begitu pintu dibuka, kita akan bisa merasakan tata ruang ala Jepang di konsep modernnya. Tetep ada area ngeletakin sepatu-payung, naruh sandal dg rapi, tempat duduk kecil untuk pakai sepatu dan perbedaan level lantai penanda masuk area rumah.

Begitu masuk, kita akan disapa lorong 3 pintu berbentuk T. Kanan masuk ke area mesin cuci, wastafel, kamar mandi bathtub dan toilet; kiri masuk ke kamar utama, dan depan kita masuk ke area ruang umum dan kitchen, serta balkon.

Berikut adalah penampakan ruang dalam yang bisa saya akses sebagai tamu apato. Saya tidak memotret area pribadi yaa sebagai bentuk adab tamu ketika bertamu 😊.

Satu kesan saya pertama adalah bersih, rapi, dan simple. Ya, itu adalah pembelajaran banget dari konsep hunian Jepang. Saya tidak tahu apakah mereka terdidik menjadi utilitarian (orang-orang yang hanya akan membeli/memiliki sesuatu yang diperlukan) sehingga mereka tidak biada menumpuk barang banyak di rumah. Dan kita sebagai resident walaupun warga asing, mau tidak mau jadi terbawa konsep dan mindset itu dalam cara kita berhuni.

Apato ini menggunakan lantai parquet yang cara membersihkannya tidak boleh dengan lap pel atau sapu (tidak boleh sembrono seperti hidup di Indonesia, πŸ˜…πŸ˜„). Bolehnya dengan tisu basah atau tisu kering. Disini, setiap kali kita pertama tinggak di apato, kita akan dijelasin main rule perawatan apato yang akan kita tinggali. Bagaimana manajemen pilah sampah, tidak boleh buang minyak di saluran air, menggunakan gas dengan benar (cek ulang kompor bolak balik jangan sampai meninggalkan asap di apato), teknik membersihkan lantai. Unik dan disiplinnya adalah kita bahkan bisa kena denda jika tidak mematuhi itu. Jika ada masalah dengan saluran air dan itu mampetnya karena kita, kita bisa kena denda (info dari kakak saya dulu seperti itu). Kita diajari dan diajak banget punya awareness tinggi pada hunian kita masing-masing. MasyaAllah lagi 😍.

Ini potret ruang tidur ala ala untuk kami, hehe. Yang khas dari penggunaan ruang di Jepang adalah gimana ruang bisa kita pakai sefleksibel mungkin. Tau ngga pojok kiri coklat itu apa? Itu adalah lemari tempat menyimpan barang-barang, dan dia ketanam di dinding. Kasur yang kami pakai pun menggunakan angin sehingga sangat mudah untuk dikempesin lagi, ruangannya bisa dipake buat fungsi lain di waktu yang lain ketika diperlukan. Ada perabot lain-lain yang aneh2 ngga? Tidak ada.

Ini adalah area balkon tempat kami biasa menjemur baju. Yang menarik disini adalah pintu balkon yang didominasi kaca ini memiliki 2 lapis. Yang pertama berbahan kawat yang bisa mengalirkan udara dan menyaring debu, serta menjaga agar anak tetap aman. Yang kedua pintu kaca tebal yang aman dari angin kencang karena musim yang lebih beragam. Kuncian pada pintu juga menggunakan cara yang mudah. Tidak pakai kunci ala ala gembok seperti di Indonesia. Cukup diputar saja, sudah dapat mengunci pintu dan kedap udara. Faktor keamanan, sirkulasi udara, tetapi diperhatikan dengan tipe hunian vertikal. Selain itu, balkon tetap juga bisa sebagai tempat melihat panorama visual pemandangan kota.

Seperti ini misalnya. Saya bisa melihat laut dan kapal dari jauh, juga memandangi kondisi sekitar. Sederhana dan indah. Lokasi apato ini tidak jauh dari pusat belanja. Di gambar di atas bisa dlihat tulisan AEON, nah disanalah kami belanja harian. Apa?! Harian?! Iya, harian. Bukan di tukang sayur? Bukaan, wkwk 😁. Tinggal jalan kaki ke mall seperti di Indonesia tapi tidak seramai di mall2 kita. Tidak macet juga. Efektif, efisien, hehe.

Oh iya, sayang juga ingin share tentang toilet disini. Sungguh bedaaa jauh dg di Indonesia. Berikut penampakannya.

Ini contoh potret toilet. Saya tidak foto yang di apato, di apato lebih cantik desainnya, ada karpet lantai dan tutup toilet dari kain. Ada aromatherapy. Yang umum adalah toilet ini kalo kita duduk diatasnya dia menyalurkan rasa hangat ke kulit kita πŸ˜πŸ˜…πŸ˜ (udah ngga ngerti ekspresi apa yang tepat saking amaze-nya). Jujur saja, saya ngerasa beda banget feelnya, oh gini ya toiletnya πŸ˜…πŸ˜… #mulainorakπŸ˜†. Kuatir betah ini di toilet, wkwk. Dan semuanya berjalan dengan sensor. Ini contoh toilet di stasiun, anggaplah Stasiun Gondangdia πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Ya Allah gini banget ya gap nya. Buka tempat sampah pakai sensor, bersihkan organ vital kita tinggal pencet tombol mau yang bagian mana. Bisa di set up kuat pancaran airnya seberapa. Ngeflush air tinggal arahkan tangan ke area sensor, tanpa pencet. Menurut saya, ini teknologi yang indah. Kadang kita nemu kondisi saat di LN cari air aja susah, alhamdulillah ini di stasiun tetap ada airnya.

Berikutnya sharing terakhir adalah potret jalan yang kami lalui setiap hari. Ini melewati AEON menuju stasiun. Lihat jembatan itu? Kira-kira itu jembatan apa? Kendaraan bermesin? Bukaaan. Itu jembatan penyeberangan orang dan sepeda, dan udah usang. Usianya sudah diatas 20 tahun. Saya suka sekali dengan desainnya, manusiawi sekali. Indah. Membuat orang juga ingin jalan pada akhirnya.

Ya, itulah sekelumit dari pengalaman pertama saya di apato. Belum bisa cerita semua, karena nulisnya juga ngebut ini. Masih banyaaak inspirasi dari apato, apalagi live in Jepang secara keseluruhan dan ngga bisa dirangkum dalam satu postingan saja. Semoga bermanfaat. Sampai ketemu di perjalanan tulisan saya lagi, simak kekocakannya, juga perenungan mendalamnya yak! 😎

Ijin wefie yaa πŸ˜„πŸ˜„

Menulis tentang Kamu: Belajar dari Mba Sheila, Muslimah Hijrah, Ibunda yang Ramah dan Shalihah

I am a hard worker & strive for excellence.
I am a risk taker, i love learning, challenge and doing something new.
Honest & Reliable is my Strength.
I have experience both in retail and corporate business of General Insurance with various Line of Business.

Sheila Ulfia Putri

Inilah sekilas profil yang kubaca tentangmu dalam akun Linked.In milikmu, mba Sheila ☺

Alhamdulillah senang sekali di IP Depok KAMI Menulis diberi kesempatan untuk mengenal teman-teman dengan passion yang sama. Dan qadarallah, dijodohin untuk kenal lebih dekat dengan Mba Sheila.

Kesan pertama kenal Mba Sheila adalah pribadinya yang ramah, so humble.

Setelah obrol-obrol janji temu alhamdulillah Allah kasih kesempatan mba Sheila silaturrahim ke rumah, dengan membawa putri cantik kecilnya, kakak Alena 😘

Saya yang juga punya anak kecil di rumah sangat senang kedatangan tamu, apalagi Little Maryam. Dia sangat senang bertemu teman baru dan bermain bersama.

Ada hal yang sangat mendalam menjadi inspirasi saya ketika bertemu dengan mba Sheila, seorang wanita karier yang telah berkarya profesional selama 5-6 tahun kemudian memilih resign dengan alasan yang sangat fundamental, yakni ingin menyudahi bersinggungan dengan riba dan ingin utuh membersamai tumbuh kembang anak-anak di rumah. Bukan hanya beloau yang resign, tetapi juga suami beliau. Hal ini dikarenakan dua pribadi ini sama-sama berkarya di bidang finance yang berhubungan erat dengan hal-hal ribawi.

Saya pikir, ini sungguh bukan pilihan yang mudah, instan, apalagi receh. Ini adalah sebuah keberanian luar biasa. Bukan hanya itu, saya melihat banyak pejuang anti riba memang benar-benar orang yang sungguh-sungguh tingkat ketawakkalannya kepada Allah. Konsep tauhidnya, pemahaman tentang rizkinya diluar keumuman manusia.

Pada mba Sheila saya belajar kembali tentang makna hijrah. Di ujung Muharram ini, tepat 30 Muharram saya belajar kembali memaknai apa itu hijrah dan bagaimana kita berproses dalam hijrah.

Obrolan kurang lebih 2 jam bersama mba Sheila membawa saya pada perenungan-perenungan mendalam. Saya sebagai seorang ibu yang dapat membersamai anak 24 jam dari rumah, yang dapat tetap membagi manfaat dsri rumah, yang telah memilih bersama suami untuk hanya mencari rizki yang halal saja terasa diingatkan kembali apakah saat-saat saya bersama anak itu memberi makna berharga bagi anak. Lebih dari itu, apaka saya sungguh-sungguh memanfaatkan 24 jam waktu saya untuk dapat mendekat padaNya di waktu-waktu utama. Karena Allah telah memberikan waktu itu kepada saya secara penuh, dan saya tidak memiliki halangan karier di luar rumah yang terikat, sehingga semestinya saya mampu memanaj waktu-waktu saya dengan baik; antara hablumminallah dan hablumminannas.

Berbincang dengan mba Sheila yang punya anak lebih banyak jumlah dan usianya juga membuat saya belajar tentang bagaimana memahami anak-anak pada fase usia mereka. Tingkat kebutuhan anak di tiap usia bisa jadi sangat berbeda dan seorang ibu seperti saya harus mau terus belajar dari dan untuk anak agar mampu mengawal fitrah anak on the track. Saya belajar dari mba Sheila tentang komitmen dengan anak saat sempat anak mba Sheila menangis karena saya melanggar janji tidak berfoto dengan ibunya πŸ˜₯

Saya belajar juga dari mba Sheila bagaimana beliau sungguh-sungguh berikhtiyar untuk menjari jalan kontribusi atas kapasitas yang Allah titipkan. Sebuah kompetensi marketing yang tidak ecek-ecek mengantarkan beliau menjadi pribasi yang mampu bersosialisasi baik di lingkungannya sehingga fase “banting-setir” keluarga Allah mudahkan jalannya. Beliau juga mengisi TPA saat sore, sempat menerima titipan anak tetangga yang ibunya berkarier (walau setelahnya ibunya juga resign), juga sempat mengajar anak-anak TK. Dari sana, saya belajar pengalamannya sebagai partner orangtua, caranya memandang anak-anak dan memahami kebutuhan anak-anak akan kehadiran dan kasih sayang orangtua. MasyaAllah, sungguh pelajaran berharga.

Mba Sheila mengingatkan saya kembali tentang orientasi dan visi misi hidup. Mba Sheila mengajari saya kembali tentang konsep rizki dan gaya hidup, bahwa keduanya sangat berkaitan dalam manajemen. Mba Sheila mengigatkan saya kembali tentang ayat Allah:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

QS Al ‘Ankabut : 69

Terimakasih Allah telah mempertemukan kami, terimakasih mba Sheila atas inspirasinya, semoga kita selalu istiqomah di jalanNya. Terakhir, perenungan lagi yang mendalam agar tetap semangat menjadi orangtua yang bertumbuh dan menumbuhkan anak menjadi orang-orang besar di zamannya. Allahu musta’an, Allahush shomad. :’)

Tips Travelling Abroad with Baby

Bismillahirrahmanirrahiim

Hi readers! Rasanya sudah lama sekali kita tidak bersua. Ada yang rindu dengan cerita saya? Hihihi. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang tips bepergian ke luar negeri dengan anak bayi ☺

Sebagai emak muda yang sering bepergian karena berbagai urusan, saya seringkali ditanya bagaimana saya bisa bepergian dengan membawa bayi saya kemana-mana. Pada beberapa event, bahkan teman-teman dari negara lain amazed dengan apa yang saya lakukan. Saya menjemput mereka dengan menggendong bayi, naik turun tangga 4 lantai. Atau saya menjamu mereka sambil menyuapi anak saya makan, atau sambil ia asik bermain.

Sebuah konsep tentang kehidupan emak aktivis yang barangkali berbeda dengan ibu-ibu pada umumnya. Dan pilihan konsep keluarga kecil kami yang melibatkan sedekat mungkin anak dengan aktivitas harian kami, sehingga membuat anak terbiasa dengan ritme aktivitas ibunya terutama.

Pada agenda tertentu yang mengharuskan saya pergi keluar kota atau keluar negeri, saya tidak pernah memilih pilihan untuk menitipkan anak pada saudara atau menitip pada jasa penitipan anak. Hal ini dikarenakan alasan yang saya sampaikan di atas tentang value keluarga kami, selain itu, juga memang keadaan yang belum memungkinkan untuk titip menitip. Konsekuensinya adalah saya selalu bersiap membawa bocah dalam setiap aktivitas saya. Syukur alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan yang baik untuk dapat memenuhi hak anak dalam aktivitas saya.

Pada satu acara, ada momen dimana saya harus handling bayi saya sendiri karena suamipun sedang bertugas sehingga tidak bisa menemani. Pada saat yang lain, kami pergi travelling bersama.

Saya akan share terlebih dahulu tentang kondisi: “Bagaimana jika saya travelling sendirian dg bayi saja tanpa partner siapapun?”

Plusnya adalah semua kendali ada di saya dan saya lebih sigap menerima semua resiko, sehingga saya tidak perlu berkoordinasi dengan partner lain utk menyamakan respon saat terjadi sesuatu pada anak.

Minusnya adalah saya tidak bisa menggantungkan diri kepada siapapun sebagai back up jika saya tidak mampu handling anak. Saya harus dalam kondisi siap lahir batin ketika memilih travelling hanya bersama anak.

Okai, saya akan memulai poin tips travelling bersama anak, terutama anak bayi dalam case saya.

1. Pahami terlebih dahulu rangkaian acara yg akan kita ikuti di tempat tujuan bersama bayi, beserta semua detilnya. Jika travelling itu judulnya jalan2, maka itinerary adl hal wajib banget utk dipersiapkan.

Itinerary bukan hanya berisi tentang jadwal, tetapi juga, keterangan dimana kita akan tinggal, bagaimana kondisinya disana (kondisi lokasi, apakah ada tempat tersedia utk bayi beristirahat, apakah ruangan bersih berAC, apakah makanan dan toilet mudah didapat, dsb — list pertanyaan ini akan sangat bergantung dengan aktivitas kita di tempat tujuan). Sebaiknya kita telah memahami dan mengeksplorasi dengan baik medan yang akan dihadapi di lapangan.

Kita bisa menggunakan google maps dan street view untuk melihat kondisi lingkungan sekitar. Untuk kondisi tempat menginap kita tentu bisa mendapatkan review dari web pemesanan tempat inap yang akan kita pilih.

2. Persiapkan perbekalan sesuai jumlah hari kita akan disana. Perbekalan ini meliputi pakaian, bekal kosmetik dan alat tempur anak bayi, dan perbekalan pribadi kita sendiri.

Jumlah hari, rangkaian aktivitas, lokasi yang dikunjungi (indoor-outdoor), kondisi cuaca, serta pilihan akan membawa bekal lebih tanpa mencuci atau akan mencuci di penginapan juga akan menentukan seberapa banyak yang akan kita bawa.

Lokasi dan kondisi cuaca akan menentukan tipe pakaian yang kita pilih. Ah ya, termasuk berat bagasi yang kita pilih akan menentukan berapa kilo maksimal bawaan yang akan kita pilih.

Pada kondisi travelling bersama bayi dlm kondisi bertugas, saya memilih untuk membawa baju seperlunya dengan bahan yang mudah dicuci kering dan pakai kembali. Baju untuk anak yang perlu dipersiapkan 2 pasang setiap hari tanpa dikurangi, walaupun nanti tetap dicuci.

Untuk perlengkapan bayi, jika bisa dibeli di tempat tujuan, saya prefer untuk membeli disana untuk mengurangi barang bawaan. Seperti sabun bayi, diapers, cemilan, saya memilih tidak terlalu membawa banyak dari Indonesia, dan saya telah searching dan budgetting juga dimana saya bisa mendapatkannya di negara tujuan.

Pada kondisi travelling on duty, seringkali kita ngga bisa milih cuaca. Jadi, saya selalu memastikan dulu kondisi cuaca pada kenalan setempat untuk mengetahui dengan baik seperti apa suhu dan cuaca harian, serta meminta saran pakaian seperti apa yang bisa saya pakai.

Pada kondisi travelling santai jalan2, maka saya prefer tambah bagasi agar bisa optimal membawa perbekalan. Biasanya ini saya pilih jika kami pergi lebih dari 4 hari.

3. Gunakan tas yang simple, maksimal 2 buah saja untuk memudahkan mobilitas tinggi di negara orang. Saya memilih tas ransel dan tas jinjing sebagai pilihan.

Tas ransel saya gunakan untuk memasukkan barang primer dan darurat. Tas jinjing saya gunakan untuk menyimpan barang sekunder. Kenapa? Tas ransel lebih mudah dibawa kemana-mana dan diingat, sehingga hal penting harus terus menempel di belakang pundak saya. Tas jinjing bisa jadi terlupa, atau malah bisa berubah fungsi menjadi bantal wkwk karena isinya mayoritas pakaian.

Pemilihan jenis tas ini penting karena mobilitas di luar negeri sedikit berbeda dengan di Indonesia. Hal paling kecil adalah tentang jalan kaki dan dengan kecepatan di atas rata-rata orang jalan kaki di Indonesia. Kita perlu tiba-tiba menjadi runners saat di bandara ketika kondisinya tidak seperti yang kita bayangkan. Pada bandara seperti KLIA (Malaysia), Changi (Singapore) ataupun Narita (Japan) misalnya, jarak antara Gate dengan Imigrasi tidaklah dekat, bahkan bisa diitung jauh, belum lagi antrian imigrasi maupun check in-nya (terutama bandara transir seperti KLIA dan Changi, waktu extra sangat perlu disiapkan). Belum lagi jika kita transit dengan jarak boarding time berdekatan, apalagi harus pindah terminal. Itu bukan hal mudah.

Nah sebelum itu, kita harus benar-benar kenali betul detil penerbangan kita agar tidak tersesat, walau penanda/signage di negara lain jauh lebih informatif daripada di Indonesia dan information center serta officialnya juga mudah memberikan informasi yang tepat.

Sebagai catatan, jika kita membawa infant kita tidak bisa melakukan web check-in, karena petugas maskapai biasanya ingin tau betul kondisi kita. Di Jepang pun, kita ttap akan kembali ditanya, apakah kita juga sedang hamil, karena perlakuannya akan berbeda.

4. Gunakan dresscode yang nyaman, casual, dan ramah anak saat flight.

Seringkali orang ingin tampak agak heboh saat bepergian. Pakai ini itu yang tidak perlu adalah hal yang sangat dihindari bagi yang bepergian bersama anak-anak. Kenapa? Karena ujungnya kita akan ribet sendiri dengan dresscode kita dan anak ga kepegang.

Jika masih menyusui gunakan pakaian ramah menyusui yang nyaman. Gunakan gendongan kanguru *istilah saya* atau ergonomic style yang tidak ribet. Saya tidak menyarankan menggunalan gendongan wrap jika belum terbiasa karena akan memakan waktu setiap kali memakainya.

Gunakan sepatu yang nyaman untuk jalan jauh ataupun berlari. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan sepatu cantik kecuali jika sudah terbiasa bawa anak jalan jauh dengan menggunakan heels atau wedges dan sebagainya, hehe. Sepatu dengan sketchers style bisa dipilih, walau dengan merk lain yang lebih terjangkau.

Saat di pesawat, jika kita tidak memilih menggunakan priority class biasanya kita akan mendapat perlakuan sama seperti penumpang lainnya. Otomatis kita punya pe-er ganda karena juga sedang membawa bayi. Kita perlu memastikan bahwa kita siap handling bayi saat kondisi terbang, baik saat take-off maupun landing. Seperti menyusui bayi atau cukup menenangkan atau memberi cemilan agar telinganya tidak sakit. Selain itu space kursi yang terbatas juga harus kita pertimbangkan untuk memilihkan pakaian anak yang nyaman untuk ‘terbang’ dalam sekian waktu. Jangan sampai karena salah dresscode justru anak menjadi cranky saat di dalam pesawat. Ada safety belt untuk bayi juga yang perlu kita pasang untuk keamanan penerbangan. Nah, biasanya pramugari penerbangan LN lebih ketat mengawasi poin ini kepada kita untuk alasan keselamatan.

5. Pahami kebutuhan anak saat travelling. Seperti anak juga merasa lelah, butuh pemanasan, butuh gerak, butuh eksplorasi tempat baru, butuh istirahat, butuh cemilan, butuh ganti popok, butuh minum, dan sebagainya.

PR travelling bersama anak adalah mengasah kepekaan kita akan kebutuhan anak.

Saya bukan tipe traveller yang suka buru-buru mepet waktu dalam bepergian jauh, sehingga saya selalu mengalokasikan waktu untuk anak bereksplorasi di tempat-tempat yang kami kunjungi.

Biasanya, saya memberi kesempatan kepada anak untuk berjalan-jalan, mengenal lingkungan sekitar saat bukan di waktu-waktu penting. Misalnya, saat antri imigrasi panjang, saat di ruang tunggu, anak boleh saja bermain. Atau saat saya sedang rapat, anak ingin eksplorasi ruangan, boleh saja. Eeeits, ini dengan catatan peserta rapat sudah dalam kondisi saling memahami dan siap menerima kita sebagai peserta rapat yang akan membawa bayi ya dan bayi kita tidak menggangu jalannya acara. Ini wajib dikomunikasikan ☺

Akan menjadi PR banget kalau kita tidak tahu kapan kebutuhan anak harus dipenuhi. Anak pasti akan tantrum dan marah ke kita saat kita tidak memahaminya.

Apa yang harus kita lakukan saat itu terjadi? Segera pegang kendali, tenangkan anak, sounding, minta maaf, dan penuhi kewajiban, insyaAllah itu akan segera reda.

6. Miliki partner traveller yang supportif dan menyenangkan-menenangkan.

Satu hal yang membuat saya alhamdulillah biidznillah sejauh ini sukses membawa anak bayi jalan-jalan bersama kegiatan saya adalah ketika saya punya teman-teman tim yang saling membangun dan membantu kondisi saya. Teman-teman di negara tujuan yang memang sudah satu visi maupun menghargai pilihan saya perihal pengasuhan anak.

Saya pernah bertemu teman perjalanan di bandara dan membantu tanpa diminta. Saya pernah mendapat surprise untuk anak saya di negara tujuan, hadiah besar maupun kecil yang membuat anak nyaman travelling dan bertemu orang-orang baru dan budaya baru.

Saya sangat bersyukur memiliki jaringan kawan-kawan muslim yang murah hatinya untuk membantu kami di negeri tujuan, baik sekedar memberi informasi, ataupun hingga mentraktir makan gratis, sampai menjamin hidup dan travelling kami selama berada di negaranya, masyaAllah, laa quwwata illa billah. 😊

7. Terakhir, perkuat komunikasi dengan anak saat akan-sedang-selesai travelling.

Bagi saya, sounding itu penting sekali. Menyiapkan anak seperti kita menyiapkan diri kita. Memberi gambaran ke anak tentang apa yang akan kita jalani bersama. Menceritakan apa yang akan kita lakukan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Contohnya, “Nak, kita akhir bulan ini akan jalan-jalan lho kesini..” Kita ceritakan seprti apa tempatnya. Jika perlu tunjukkan dalam bentuk video. Afirmasi dirinya, mau engga kita ajak jalan-jalan. Membangun imajinya tentang kebersamaan kita belajar berpetualang.

Kemudian memberi apresiasi atas kerjasama anak. Memenuhi haknya jika ia lelah. Misalnya mijitin, we-time, dan sebagainya. Tanya perasaannya pasca bepergian. InsyaAllah, bepergian bersama anak akan menjadi memori yang menyenangkan bagi semuanya.

Semoga ini bermanfaat yaa! Selamat mencoba!

*Tulisan ini ditulis dalam rangka event OWOW (One Week One Writing) KAMI Menulis IIP DEPOK

Materi Kelas Bunsay 7 : Semua Anak Adalah Bintang

Institut Ibu Profesional

Kelas Bunda Sayang sesi #7

SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering β€œmembanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.  

BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN

Jadi kalimat yang harus sering anda keluarkan adalah,

βœ… β€œ Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?”

bukan dengan kalimat

❌ β€œMengapa kamu tidak seperti si A, yang nilai raportnya selalu bagus?”

❌ ”Mengapa kamu tidak seperti adikmu?” 

Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan β€œ mental jawara” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya. 

MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH

Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-harinya dengan belajar terbang dan berharap terbangnya sepintar burung

Seringkali kalau ada anak-anak yang tidak menyukai matematika, kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan matematika agar nilainya sama dengan anak-anak yang sangat menyukai matematika. Ini namanya meratakan lembah. Anak akan menjadi anak yang rata-rata.

Burung itu jago terbang, apabila sebagian besar waktunya habis untuk belajar terbang, maka dalam beberapa waktu ia akan menjadi maestro terbang

Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini. 

ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN

Kita sebagai orangtua harus sering melakukan β€œ discovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.

Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar(enjoy) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (easy)dan menjadi hebat di bidangnya (Excellent).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).

ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL

Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orangtua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya. 

ANAK-ANAK TERLAHIR HEBAT, KITALAH YANG HARUS SELALU MEMANTASKAN DIRI AGAR SELALU LAYAK DI MATA ALLAH, MEMEGANG AMANAH ANAK-ANAK YANG LUAR BIASA
Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
πŸ“šSumber bacaan

Septi Peni Wulandani, Semua Anak adalah Bintang, artikel IIP, 2016

Abah Rama, Talents Mapping, Jakarta, 2016

Dodik Mariyanto, Belajar Cara Belajar, paparan seminar, 2016                        

Bahan referensi video:

1. Bentuk kecerdasan yang berbeda

2. Menggugat sistem pendidikan

Games Kelas Bunsay Level 6 : Math Around Us – Day 10

Target ​pembelajaran matematika logis May akan meliputi :

  1. Pengenalan benda
  2. Pengenalan warna
  3. Pengenalan bentuk
  4. Pengenalan nama/sebutan orang di sekitar
  5. Pengenalan angka
  6. Membedakan ukuran benda
  7. Membedakan rapi atau tidak rapi
  8. Merangkai puzzle sederhana

STIMULASI BELAJAR BERJALAN DAN SERBA SERBI TENTANGNYA

Pembelajaran ini sebenarnya telah dimulai sejak May berusia 9/10 bulan. Kakung Utinya May berharap May segera bisa jalan krn Yayanya May sdh bisa jalan di usia itu. Tetapi mereka menyadari it is not work for May. May has her own style. 

May memulai belajar berjalan dg fase berdiri berpegangan – merambat – berdiri sendiri – melangkah 1 langkah 2 langkah 3 langkah – dan akhirnya berani berjalan sendiri.

Satu catatan saya: bayi itu pembelajar dan pantang menyerah. Ketika dia bisa sesuatu dia sangat excited untuk mengulanginya walau dia lelah. May pun begitu. Ia jatuh, bangun lagi coba lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. MasyaAllah.. dan tidak mau dibantu. She straight to her faith, “I can do it by myself, Mom!”

alhamdulillah sekarang May sudha bisa jalan ☺☺☺☺☺

Bubu bahagiaa sekalii walau ga bs attach video kesini, wkwkwk

Keep learning, dear!

πŸ™‚

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

Games Kelas Bunsay Level 6 : Math Around Us – Day 9

Target ​pembelajaran matematika logis May akan meliputi :

  1. Pengenalan benda
  2. Pengenalan warna
  3. Pengenalan bentuk
  4. Pengenalan nama/sebutan orang di sekitar
  5. Pengenalan angka
  6. Membedakan ukuran benda
  7. Membedakan rapi atau tidak rapi
  8. Merangkai puzzle sederhana

MENGENAL KATA IYA DAN TIDAK, SERTA BEBERAPA KATA KUNCI KOMUNIKASI LAINNYA

Pembelajaran ini memang tidak termasuk dalam kategori matematika dalam target pembelajaran, namun pembelajaran ini penting utk menjelaskan ttg konsekuensi logis dari komunikasi sederhana. 

Karena May sudah mampu belajar bahasa dan dapat diajak komunikasi 2 arah, sebagaimana mestinya saya sebagai orangtua dan fasilitator mengenalkan konsep Ya dan Tidak kepada May. Selain itu, saya juga mengenalkan Boleh, Tidak Boleh, Jangan, Hati-hati. Termasuk kata apresiasi dan ungkapan seperti Bagus, Hebat, Pintar, MasyaAllah, luar biasa, maaf, sayang, peluk, cium, cinta. 

Saya sangat bersyukur bahwa May memahami bahasa itu. Dia faham mulanya walau belum bisa menjawab. Tetapi kini dia bisa mengekspresikan sesuatu: peluk, sayang, mau, gamau, no no. Dia tau ketika Bubunya bilang boleh nak, dia akan lanjutkan dg senang hati. Ketika bubu say No/stop, dia berhenti. Yg masih challenging bagi May adl kata jangan. Ketika dia dilarang sesuatu yg sekiranya dpt membahayakannya. Perlu tambahan kata-kata pemahaman dalam menjelaskan makna bahasa yg dikenalkan. 

Misalnya, “May, jangan bermain disitu nak, Teteh masih menyapu, itu banyak kotorannya, perut May belum bersahabat dg debu Nak,”

walo ini msh belum sempurna karena kalimat bertingkat, hehehe

selamat menyimak 😊😊😊

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs