Mengarungi Bahtera Bernama Keluarga

Saya teringat, dulu, saya punya we-time bersama almh ibu saya. Waktu itu adalah waktu-waktu ibu saya sedang dirawat di rumah sakit atau waktu-waktu saya men-charging rindu dengan beliau. Duduk di teras rumah, naik becak, atau sekedar menggeggam tangannya setelah operasi dan masa cuci darah adalah saat-saat saya menggali sebanyak-banyaknya petuah dari beliau tentang apa saja; salah satunya tentang berkeluarga, juga tentang cuplikan kisah perjalanan ibu dg alm ayah saya.

Suatu hari ibu saya berpesan, “Dulu Eyang Kakung itu berpesan pada ibu, ketika ibu akan menikah. Nduk, berumahtangga itu seperti kita sedang melaut dengan bahtera. Ketika kita mengarungi samudera tentu saja kita ketemu badai, ketemu karang. Lek ono kapal ketemu karang, kapale opo karange sing ajur? Sing ajur kudu karange, ojo kapale.

Ibu saya berpesan, dalam berumahtangga, nanti kita pasti kita akan ketemu masalah, sebagaimana kapal yg berlayar. Tetapi jika ketemu masalah, jangan sampai kapal kita yang hancur karena masalah itu. Kapal harus lebih kuat daripada karang. Jika kapal bertemu karang, jangan sampai kapal yang pecah nabrak karang, tapi karanglah yang harus pecah. “Itulah yang menjadi landasan ibu tetap selalu bersama ayah hingga maut memisahkan, walau sampeyan (kamu, dlm bhs Jawa) tau kan ibu juga pernah bertengkar sama ayah.”

Saat itu, belum terbayang bagi saya seperti apa kelak ketika bahtera keluarga saya berlayar. Kini, setelah saya menjalani hampir 4 tahun usia pernikahan; saya memahami dan menyelami pesan singkat ibu saya tadi. Bahwa menikah dan berumahtangga itu bukan tanpa masalah, tetapi justru kita ketemu masalah-masalah dan mendewasa bersama masalah-masalah itu. Ibarat sebuah CV, pada akhirnya kita punya sederet pengalaman menangani masalah seiring perjalanan pelayaran bahtera ini.

Saya melihat lagi, foto keluarga kecil kami. Laki-laki yang berdiri di sebelah saya ini ketika masa taaruf menyampaikan bahwa kami memiliki banyak persamaan tapi juga banyak perbedaan, yang itu akan menjadi tantangan saat bersama. Dan benar adanya.

Ketika ada dua orang sama-sama teguh pendirian, sama-sama punya track hidup yang kuat masing-masing, sama-sama seneng belajar, sama-sama senang menchallenge diri, sama-sama kritis, sama-sama keukeuh; apa kira-kira yang Anda bayangkan yg terjadi dalam rumah tangga mereka? Waktu diskusi kami lebih seru dari acara debat capres *wkwk, bahkan bisa dikira bertengkar karena perbedaan pendapat dan sudut pandang.

Saat kami belum bisa nemu ritme ngegas dan ngerem yang tepat, memang rasanya bahtera bernama keluarga ini seperti begitu mendebarkan seperti roller coaster di tengah badai laut. Seru banget! Itu karena kami bukan tipe yang sama-sama mengalah. Alhamdulillah kami tak bisa berlama-lama berbeda, karena visi dan misi kami yang sudah searah, membuat kami tau kapan meletakkan ego masing-masing dan menyeduh kopi bersama lagi.

Waktu demi waktu mendewasakan kami. Ilmu membuat kami tidak berhenti belajar terus untuk mengenali lebih dalam diri kami masing-masing dan peran kami masing-masing untuk membuat bahtera kami terus bisa berlayar dampai tujuan. Semakin kesini, alhamdulillahi bini’matihi tatimmush shalihat, kami tak lagi menunjuk, memaksa, menuntut siapa harus bagaimana. Kami memberikan versi terbaik yang bisa kami lakukan. Pada akhirnya kami belajar bagaimana caranya mengemudikan bahtera ini. Mohon doakan kami semakin lihai menahkodai bahtera kehidupan kami.

Kata pakar keluarga, lima tahun pertama adalah masanya sebuah pasangan yang berumahtangga menyelesaikan dirinya sendiri karena setelah itu mereka harus fokus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tidakkah lebih baik jika itu bisa kita capai sebelum deadlinenya?

Kini saatnya, si kecil juga belajar dan diajari bagaimana berlayar bersama di bahtera kita yang penuh kejutan dan keajaiban. Mari terus berlayar, putri kesatria!

_____

Ketika saya bertanya kepada ibu, menantu seperti apa yang ibu inginkan untuk menemani saya. Ibu menjawab, “Nggih sing saged nyrateni sampeyan, sing saged ngerti kepengenan sampeyan..” (Ya yang bisa mengayomi (memahami betul semua hal) tentang kamu, yang bisa ngertiin pengennya kamu..)

Saya berkali-kali mengucap syukur ketika saya telah menikah, “Ibu, terimakasih atas harapan dan doa-doa itu. Terimakasih Rabb telah mengabulkan doa ibu, bahwa kini saya didampingi oleh partner berjuang yang sesuai dengan doa ibu saya“.

*ditulis diatas bed sebuah ruangan di RS tipe C menemani anak kecil yg sedang berjuang utk sehat kembali 🙂 be strong my strong girl!

*ditulis dalam rangka mengikuti tantangan One Week One Writing Kelas Minat Menulis Komunitas Ibu Profesional Depok

Advertisements

2 thoughts on “Mengarungi Bahtera Bernama Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s