Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual Anak

​🎓🎓 *RESUME KULWAPP IIP TANGSEL* 🎓🎓

Senin, 12 September 2016

Pukul : 20.00 – 21.00 wib

👸🏻 Narsum : Septi Peni Wulandani

🎤 Host : Nani Nurhasanah

      Co Host : Kurmiyati

👤 Admin : Adit/ Novita /Fitri/Hani

=======================

_*Materi*_:

*📚” Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spritual Anak “*📚

Keberhasilan seseorang tidak hanya terletak pada kecerdasan intelektual belaka, tetapi juga pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. 

Kecerdasan emosional adalah kemampuan anak memahami emosi dan kesanggupannya dalam mengelola emosi tersebut. Hal ini dapat dilihat ketika seseorang tersebut mampu mengambil keputusan, menjadi penengah konflik, mengatasi tekanan, berlaku empati, berkomunikasi dan kemampuan membuka diri. Selain itu anak juga mempunyai kesadaran akan diri sendiri, tanggung jawab pribadi, keasertifan, dan kepribadian yang dinamis.

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan anak mengenal Allah dan memahami posisinya sebagai hamba Allah. Banyak orang yang cerdas secara Intelektual tapi tak berhasil bahkan terpuruk dalam persaingan hidup yang sulit, itu dikarenakan kecerdasan emosinya kurang. Maka hendaknya kita tingkatkan kecerdasan emosi kita. 

Salah satu cara mengembangkan kecerdasan emosi atau perasa dalam hati kita adalah dengan membiasakan berbuat baik pada diri sendiri maupun orang lain, buang sifat-sifat buruk yang sering kita lakukan dan bersikap empati , peka terhadap orang lain adalah salah satu dari bentuk kecerdasan emosi.

Dengan kecerdasan emosi saja tidak cukup untuk kehidupan ini, namun ada yang paling utama dan kecerdasan tertinggi adalah kecerdasan spiritual.

Kecerdasan emosi hanya di aplikasikan pada sesama manusia saja dan kecerdasan spiritual adalah aplikasi dari manusia dan Allah. Alangkah sempurna jika kecerdasan emosi dan spiritual telah berada dalam diri kita dan kecerdasan intelektual sebagai pendukungnya. 

Kita di karuniakan radar hati untuk menentukan keputusan jalan baik dan buruk. Dan radar hati merupakan rekaman dari sifat Allah yang sudah di patri sebelum lahir ke dunia.

Suara hati seseorang akan menjadi teriris karena tidak di

dengarkan dan hati kita menjadi buta. Maka kita akan kehilangan arah dan memilih jalan hidup yang salah. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan suara hati dan hati menjadi buta dan berikutnya menjadikan belenggu. Belenggu-belenggu itu bisa Prasangka negatif, pengalaman buruk, kepentingan, sudut pandang, pembanding, fanatisme dll. Kesemua belenggu-belenggu tersebut harus dihilangkan agar otak kita berfungsi baik dan menuntun kita ke jalan yang benar. 

Semua anak adalah Cerdas, namun kecerdasan perlu dimaknai agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.

*KEAHLIAN/BAKAT YANG MEMBUAT KITA BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN.*

*Kecerdasan intelektual (IQ) : Membuat seseorang menjadi PANDAI*

*Kecerdasan emosional (EQ): Membuatnya bisa MENGENDALIKAN DIRI*

*Kecerdasan spiritual (SQ): Memungkinkan hidupnya PENUH ARTI*

Orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang

memahami kondisi dirinya, memahami perasaan yang terjadi pada dirinya dan bisa mengambil tindakan yang positif sebagai respon dari munculnya perasaan itu. Orang tersebut juga mampu merasakan perasaan orang lain dan bisa menanggapinya secara proporsional. Banyak anak sulit diatur karena proses pengendalian diri lemah hal ini disebabkan karena kecerdasan emosional tidak diasah.

Banyak orang merasa kosong dalam menjalani kehidupan.

Tidak punya tujuan yang jelas dalam hidup dan merasa diombang-ambingkan oleh arus kehidupan, tanpa tahu harus berbuat apa. Itu adalah tanda lemahnya kecerdasan spiritual. Bila kita mengira kecerdasan spiritual adalah hanya sekedar rajin beribadah, sekedar banyak hafalan, dan berbalut pakaian takwa saja, maka itu belum sempurna.

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini.

Ciri kecerdasan spiritual adalah senang berbuat baik, menolong, memiliki empati yang besar, mampu memaafkan tanpa syarat, mampu memilih kebahagiaan, mampu berpikir secara luas, memiliki selera humor dalam kehidupan dan merasa perlu berkontribusi dalam kehidupan manusia.

Salam Ibu Profesional,

*/Septi Peni Wulandani/*

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

♻ *_Tanya Jawab_* ♻

1⃣ Bagaimana melatih kecerdasan emosi anak sejak usia balita, terutama pada fase anak tantrum sekitar 1-3 tahun?

Terimakasih (Anggita)

1⃣ Bunda Anggita, anak-anak balita itu, memiliki fase pembentukan pola dari sisi emosi. Sehingga mereka akan mengeluarkan emosinya kemudian melihat respon orang dewasa di sekitarnya. Sehingga dari awal kita mesti benar dalam penanganan emosi anak. Contoh anak yang tantrum ketika minta sesuatu selama tidak membahayakan diri mereka sendiri, maka diamkan, jangan pernah ditanggapi, dan jangan loloskan permintaannya.

Setiap 5 menit sekali ditanya, 

“Sudah selesai?”

Kalau masih menangis dan tantrum

” oke lanjutkan, ibu tunggu disini sampai selesai”

Kalau sudah agak tenang. Ambil air wudhu dan ajak bicara.

Setelah itu kunci dengan kesepakatan. 

*Di rumah ini tidak ada yang berhasil minta sesuatu dengan marah. Menangis dan berteriak-teriak* ✅

2⃣ Tugas orang tua adalah memupuk terus semua lini kecerdasan sang anak ya bunda, saya memiliki tiga anak yang dua masih balita, o iya ada satu lagi keponakan. Jadi empat anak yang sehari-hari dengan saya. Tantangan saya adalah memupuk semua kecerdasan sang anak, seringkali saya merasa kesulitan, karena waktu, perhatian dan fokus saya terbagi-bagi. Belum selesai dengan yang pertama, yang lainnya sudah “mengantri”. Apalagi bila sedang menyusui, yang lainnya kurang saya perhatikan. Bagaimana Bu Septi menjalani ini saat anak-anak masih bayi dan balita ya bu? (Ami)

2⃣ Bunda Ami, hal ini dulu saya alami ketika Enes Ara masih balita dan elan sdh lahir. Enes dan Ara berjarak 15 bulan. 

Di saat itulah saya harus mempelajari yg namanya “manajemen kelas”

Yang pertama adalah saya menentukan jam khusus ( saat itu dari jam 07.00-14.00) untuk fokus bersama anak, seakan-akan punya kelas yang muridnya dari bayi sampai balita.

Saya menyiapkan menu bermain dengan mereka, dan anak-anak dari awal dikondisikan bahwa mereka bisa ambil menu main apa saja, kami buat kesepakatan di awal, kalau adik bayi menangis, maka apa yg harus dilakukan kakak-kakak. 

Berikutnya adalah membuat skenario pembelajaran bersama mereka. Biasanya saya membuat beberapa plan. Jadi ada plan A, B dan C. Sehingga siap dg segala macam kondisi ✅

3⃣ Bagaimana cara memupuk semua kecerdasan pada semua anak dan pada saat usia berapa sudah bisa menilai indikator keberhasilan atau belum berhasilnya? (Ami)

3⃣ Bunda Ami, anak-anak itu lahir hebat dan cerdas, maka tugas kita adalah menstimulus kecerdasan itu sesuai fitrahnya. Yang diperlukan dari orangtuanya adalah rasa percaya diri dan rileks, jangan terlalu menggegas. Ada beberapa tahapan yang perlu dilalui oleh anak-anak. Kalau di keluarga kami mengembangkan kecerdasan anak-anak sesuai tabel.

https://drive.google.com/file/d/0B_cOc46GoiExS0dtczFMRUhUNTJsd2hDQzhVejNmejZIS25n/view?usp=drivesdk

Menurut pengalaman kami, dengan menggunakan tahapan di atas, kecerdasan anak-anak akan tumbuh sesuai dengan kehendakNya, bukan sesuai dengan kehendak kita sebagai orangtuanya. Karena yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah✅

4⃣ Bagaimana cara membesarkan hati anak yang cenderung cepat putus asa, kalau mengerjakan sesuatu yang dia tidak /kurang bisa dia cepat menyerah dan marah lalu tidak mau mencoba lagi. Sedangkan saya sering mengatakan kepada anak kalau tidak apa-apa melakukan kesalahan, yang terpenting adalah belajar dari kesalahan tersebut. Usia anak saya hampir 8 tahun (Adit)

4⃣ Bunda Adit, coba dilihat kembali pola komunikasi kita ke anak-anak, kalau semua orang dewasa di sekitar anak kita yang ada di rumah, semua  sudah konsisten bahwa hasil adalah hak Allah dan proses/ikhtiar adalah hak kita. Langkah selanjutnya adalah lihat komunikasi para gurunya di sekolah, apakah sama?. Karena anak yang tidak bisa menghargai proses / resah dengan ketidaksempurnaan itu biasanya akibat penerimaan pola komunikasi dari orang dewasa di sekitarnya. 

Kalau sudah tahu penyebabnya, maka berikan kebebasan ke anak-anak untuk memilih tugas sendiri, buka tugas dari orang dewasa lain, yang kadang menuntut kesempurnaan. Biarkan dia bertanggungjawab untuk dirinya sendiri. Apakah masih menyerah? kalau iya berarti faktor mental, harus sering dilatih untuk mengerjakan project keluarga dengan durasi pendek tetapi sering✅

5⃣ Bagaimana cara mengasah kecerdasan emosional dan spiritual anak batita dan usia pra baligh?

Dan jika anak terlambat diasah kecerdasan emosional dan spiritualnya pada usia sekolah, apa yang bisa dilakukan orangtuanya untuk mengejar ketinggalan tsb? (anonymous)

5⃣ Bunda, untuk pertanyaan awal silakan lihat di jawaban-jawaban sebelumnya karena hampir mirip. 

bagaimana cara mengejar ketertinggalan, segera lakukan apa yang seharusnya kita lakukan, yang tidak boleh adalah berhenti menstimulus anak-anak. ✅

6⃣ Bagaimana langkah awal menanamkan kecerdasan emosi dan spritual kepada anak ? Apakah perbedaan umur beda juga cara /

metodenya? Bisa dijelaskan jika beda, Bu.

Terimakasih (Erna, Makassar)

6⃣ Bunda Erna, sebenarnya tidak ada perbedaan dalam menstimulus kecerdasan anak, semua usia hampir sama untuk urusan fitrah dan value  yang diperjuangkan,  hanya kadarnya yang berbeda-beda. Lebih detilnya bisa lihat tabel di atas. 

Ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan sbb :

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.

2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.

3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.

4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.

5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.

6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana mengatasi gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,”Olok-olok enggak bikin sakit tuh.” atau cuma sekedar menanggapi dengan senyum, tanpa terpancing emosi. Tapi kalau yang diolok-olok  sudah urusan harga diri, berikan cara ke anak-anak bagaimana untuk mengatasinya. Kalau perlu lawan, lawan, jangan cuma diam. Maka kita perlu melatih anak bagaimana “berkelahi secara benar”.

7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.

8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.

9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Semoga bisa lebih membantu✅

7⃣ Seringkali kita melihat minat anak berubah-ubah. Kadang dia minta les ini, kadang dia minta les itu. Bagaimana membedakan mana yang benar2 serius dan diarahkan untuk lebih didalami, mana yang tidak.

7⃣ Bunda, minat anak yang berubah-ubah itu tandanya NORMAL, maka ikuti saja dulu, lama-lama kitaakan melihat mana yang membuat matanya berbinar-binar, tanpa disuruh sudah sangat semangat belajar dan mempersiapkan diri, dan ada yang memang harus disuruh-suruh. 

maka kita ikuti saja dulu, kemudian dari hari ke hari beralih fokus ke minat yang membuat matanya berbinar, bisa dipilih 2-3 minat, amati, mana yang makin bertahan, dan jadikan hal tersebut minat yang ditekuni secara serius. ✅

8⃣ Apakah bijaksana sebagai orangtua menawarkan berbagai les/peluang untuk menggali potensi di usia anak balita?

8⃣ Menawarkan les boleh, memaksakan itu yang tidak boleh, dan usahaan les tambahan itu yang berhubungan dengan minat dan bakat anak ya mbak✅

9⃣ Bagaimana cara yang tepat untuk mengarahkan potensi anak?

9⃣ Untuk mengarahkan potensi anak, silakan lihat tabel di atas, di bidang fitrah bakat. Bisa dimulai dari Tour de talents, kemudian nyantrik/magang dst.✅

🔟 kalau boleh, bisakah Bu Septi memberikan contoh project keluarga Bu Septi? (Adit)

🔟 saat anak-anak usia 2-9 th project keluarga kami masih seputar urusan domestik, misal “Detektif Sampah” ini adalah project untuk membersihkan sampah seputar rumah. Ada lagi “Perpustakaan Ceria” ini adalah project anak-anak bikin perpustakaan di rumah. Usia 10 th ke atas, baru menjalankan project yang berkaitan dengan isu sosial masyarakat. Seperti 

Moo’s Project (ARA)

https://www.youtube.com/watch?v=lTYbn6kFzIk dan https://www.youtube.com/watch?v=bm_jprMNeog

SEMI Project (ENES)

SOBIKE Project (ELAN)

https://www.facebook.com/notes/septi-peni-wulandani/press-release-workshop-sobike-1-temanggung-3-5-april-2015/10152683666786957/

atau di https://www.youtube.com/watch?v=46fOCS6NQLQ

1⃣1⃣ Saya meyakini,emosi anak sangat dipengaruhi emosi orang tua ketika berhadapan langsung dengan sang anak..

Pertanyaan nya: mengapa saya begitu sulit memanage emosi saya??😭😭😭

Latihan seperti apa yang harus saya lakukan??

#saya sangat temperamental (ati)

1⃣1⃣ Bunda Ati, perkuat hubungan anda dengan Allah, insya Allah hati makin tenang. Kemudian ketika ingin marah, segera ambil air wudhu, minum air putih dan ubah posisi anda dari kondisi semula. Dengarkan anak-anak, berdialoglah dengan mereka jangan hanya bersuara. Dialog itu dengan hati, sedangkan bersuara itu hanya pakai mulut. Pelajari komunikasi produktif dengan benar dan praktekkan. 

Kalau anda ingin anak anda baik, maka yang harus berubah orangtuanya, seperti Bagan dibawah ini:

https://drive.google.com/file/d/0B_cOc46GoiExZS1wVm8wejJ4b2lfU0xzSEg0RzBsdVNZTDJ3/view?usp=drivesdk

https://drive.google.com/file/d/0B_cOc46GoiExT3ptNFd3Y1l5anNzTWxwV0FFc1hjYzBOdzdz/view?usp=drivesdk✅

📕📗📘📙📔📒📕📗📘

💝Semoga bermanfaat💝

Mohon maaf atas segala kekurangannya:)

☘☘☘☘☘☘☘☘☘🍀🍀🍀

*🌹Salam IIP TANGSEL*🌹

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s