‘Ruang Dan Tempat’ Urban: Antara Lokalitas Dan Universalitas

Karena antara kita dan kota jang kita tinggali

Karena antara rumah dan kita sendiri, tiada lagi hubungan.

— Ajip Rosidi, cukilan puisi “Djembatan Dukuh”, 1956

Fenomena Ruang Urban Kita

Ada hal yang tidak dapat dipisahkan dalam ruang urban kita hari ini (Tardiyana, 2011), yakni yang biasa disebut dengan urban culture, yang dapat diuraikan dalam beberapa poin, yaitu work hard, play hard; café culture; consumtive society; dan aesthetic daily life. Pada kondisi kota masa kini setiap hal berjalan dengan cepat, aktivitas manusia kota sangat padat, dimana hal tersebut menyebabkan tingkat stress yang tinggi bagi penghuni kota. Kultur ‘nongkrong’ duduk berlama-lama di café membutuhkan desain café yang artistik dan menarik. Selain itu, kesibukan yang tinggi menyebabkan penduduk kota menjadi masyarakat yang konsumtif, terutama budaya perkotaan yang selalu menjadi sasaran pertama program globalisasi dunia, sehingga banyak sekali produk barang dan jasa masuk dan merambah di sudut-sudut horisontal maupun sudut vertikal perkotaan. Kehidupan sosial yang estetis menjadi tuntutan perkembangan jaman yang tidak dapat dielakkan. Arsitektur sebagai penyokong fisik perkotaan tidak bisa terlepas dari tuntutan ini juga. Perancangan ruang urban, mau-tidakmau, harus mengakomodir kebutuhan tersebut.

The body, landscape, time, all progressively disappear as scenes. And the same for public space: the theatre of the social and the theatre of politics are both reduced more and more to a large soft body with many heads. Advertising in its new dimension invades everything, as public space (the street, monument, market, scene) disappears. It realizes, or, if one prefers, it materializes in all its obscenity; it monopolizes public life in its exhibition… It is our only architecture today: great scenes on which are reflected atoms, particles, molecules in motion. Not a public scene or true public space but gigantic spaces of circulation, ventilation and ephemeral connections (Jean Baudrillard, “The Ecstasy of Communication”). Ungkapan dari Jean tersebut menegaskan bahwa potret arsitektur masa kini, terutama pada ruang publik seringkali menjadi pertunjukan teater yang menjelaskan kondisi politik dan sosial dari sebuah kota; sebuah pertunjukan monopoli ruang publik perkotaan. Dari sini, dapat kita ketahui bahwa arah perkembangan arsitektur perkotaan memegang peranan penting pula dalam perkembangan kota, terutama dalam menyokong aktivitas yang diwadahi. Adakah arsitektur menjadi penyokong yang berpihak pada kultur kekuasaan atau kultur kehidupan sosial yang telah dibiarkan berjalan; atau justru arsitektur sebaiknya berperan memperbaiki alur perkembangan peradaban kota? Poin-poin ini menjadi renungan awal dalam gagasan tentang ruang urban.

Kiblat Arsitektur Indonesia

Arsitek Indonesia saat ini, sering mendapat kecaman terlalu berkiblat ke arsitektur Barat dan berorientasi ke atas. Padahal, para arsitek di negara maju justru sudah merasa kesasar dengan arsitektur modern bergaya internasionalnya yang melepaskan diri dengan kaitan tradisi dan terperangkap pada teknologi universal yang serba baku-mutu. Dalam kata pengantar buku Architecture and Its Interpretation, Geoffrey Broadbent mengatakan bahwa krisis dan kegagalan dari arsitektur modern disebabkan oleh tiga hal, pertama, yaitu bentukan yang terlalu sederhana, seperti kantor dan apartemen pencakar langit yang mirip kotak-kotak raksasa yang homogen. Kedua, kelemahan dalam environmental control yang meliputi pencahayaan, penghawaan, dan akustik yang terlalu artificial dan mengabaikan lingkungan sekitar. Ketiga, berkaitan dengan makna (meaning), dalam arti tipisnya jati diri atau identitas dari karya arsitektur itu yang sering lepas dari konteks lokalnya” (Budihardjo, 1997). Perkembangan arsitektur perkotaan kini, yang juga mengikut perkembangan secara umum, mengakibatkan hal-hal atau nilai-nilai yang dianggap lokal seringkali diabaikan dan dianggap tidak diperlukan.

Beberapa kalangan arsitek Indonesia telah banyak membahas mengenai kemampuan lokal yang dapat dikembangkan dalam perancangan arsitektur. Lokalitas pun di re-definisi kembali untuk menunjukkan eksistensinya di tanah sendiri. Isu-isu dalam lokalitas yang coba digaungkan selama ini berkisar diantara: [1] me-reposisi nilai lokal dalam arsitektur; [2] lokalitas dalam sudut pandang kontemporer; [3] memahami lokalitas, menemukan identitas; serta [4] memandang lokalitas dan universalitas sebagai konstruksi personalitas, lokalitas, hibriditas dan spirit universalitas. Dalam sebuah seminar mengenai perkembangan arsitektur Indonesia, salah seorang pakar Arsitektur Nusantara menyampaikan, arsitektur bukan bangunan tunggal, atau monumen mati; arsitektur adalah bagian dari lingkungan binaan, dan juga bagian dari budaya yang hidup. Dengan demikian, arsitektur secara sosietal dan ekologis dinamis, dan secara spasio-temporal selalu terbuka (untuk tumbuh-berkembang lanjut) (Pangarsa, 2011). Lokalitas bukan hanya menjelaskan hal-hal yang ‘lokal-usang-tidak berkualitas-tidak modern’, akan tetapi, lokalitas merupakan budaya hidup yang harus dipahami dan ditanggapi oleh arsitek dimana tempat ia merancang.

Lokalitas bukanlah hal yang terkait dengan tradisi dan histori saja, akan tetapi juga meliputi lokalitas geografisnya. Sebuah rancangan pada skala urban, arsitek perlu memperhatikan dan menyadari lokasi dimana ia sedang merancang. Arsitek perlu memahami nilai-nilai apa saja yang membangun lingkungan binaan yang terjadi masa kini, sehingga rancangan tidak hanya sekedar menuang visi arsitek diatas kertas, lalu merealisasikannya dalam wujud fisik nyata terbangun, tetapi juga tentang visi jangka panjang, tentang keberlanjutan pengembangan lokasi pada skala urban yang didesain; ke arah mana ia akan dikembangkan di masa yang akan datang. Hal ini menjadi penting, karena akan memiliki efek pada komunitas masyarakat yang diwadahi. Sebuah karya desain, dengan langgam tertentu, mampu menstimulan pemikiran dan persepsi visual masyarakat akan perkembangan zaman, yang menjadikannya memberi pandangan positif maupun negatif pada hal tertentu, misalnya, moral apa yang kini dibangun, kultur apa yang sedang berkembang, fashion apa yang relevan di jaman kekinian. Desain merupakan salah satu kontributor yang signifikan terhadap pertumbuhan hal-hal tersebut.

Memahami Arti ‘Ruang’ dan ‘Tempat’

Berdasarkan salah satu teori yang mendasari keterhubungan antara ruang dan tempat yang diungkapkan oleh Yi Fu Tuan (1979), ruang dan tempat merupakan sifat dasar (nature) dari geografi sebuah lingkungan. Ruang (space) lebih didefinisikan sebagai sebuah hal yang abstrak , sedangkan tempat (place) diartikan sebagai sebuah entitas unik, a special ensemble, yang memiliki sejarah dan makna. Tempat mampu mewujudkan pengalaman dan aspirasi dari masyarakat. Tempat bukan sekedar fakta yang yang dapat dijelaskan lebih luas dari pemahaman tentang ruang tetapi juga sebuah realitas data yang dapat diklarifikasi dan dimengerti dari cara pandang masyarakat yang memberikan makna sendiri tentang sebuah tempat. Ralph (1976) juga menjelaskan, bahwa tempat diartikan sebagai setting fisik (ruang) yang memiliki aktivitas dan makna. Kemudian mucul pertanyaan, apakah hal tersebut menegaskan bahwa ruang tidak memiliki makna?

Pada teori lain (Pultar) disebutkan, ruang merupakan konsep yang sentral, yang melingkupi berbagai jenis studi keilmuan dan memiliki berbagai makna, dari gagasan yang murni abstrak hingga ruang matematis, dari ruang fisik seperti ruang astronomi hingga yang lebih membumi seperti ruang permukaan yang berada di sekitar kita. Ruang juga mengungkap tentang gagasan perilaku  seperti ruang teritori dan ruang personal. Banyaknya ragam tipe definisi dari ruang tersebut membuat definisi ruang dalam perencanaan dan desain menjadi sulit. Akan tetapi, secara intuitif, ruang (Rapoport, 1980 dalam Pultar) merupakan dimensi tri matra yang berada di lingkup sekitar kita, dengan interval berupa jarak dan hubungan antara manusia dan manusia, manusia dengan sesuatu, dan sesuatu dengan sesuatu.

Sehingga, dari sini kita dapat melihat posisi keterhubungan antara ruang dan tempat itu sendiri. Ruang memiliki makna dan jangkauan yang lebih abstrak, lebih intuitif, daripada tempat. Ruang melingkupi batas-batas yang imajiner dan tampak –seperti yang diungkap Edward T. Hall (1966) dalam bukunya, bahwa ada dimensi-dimensi ruang yang tidak terlihat (hidden dimension) tetapi memiliki kontribusi dalam pembentukan ruang arsitektural; sehingga untuk memudahkan jangkauan pemahaman, tempat menjadi lebih rasional untuk dibahas dan diulas lebih jauh dalam ranah fisik arsitektural.

Yi Fu Tuan (1979), dalam narasinya, menyebutkan bahwa, kombinasi persepsi visual (visual perception), suasana/sentuhan (touch), pergerakan (movement), dan pemikiran (thought) akan membentuk karakteristik dari sense of space. Hal ini menjelaskan bahwa ruang selalu terkait dengan perjalanan antar waktu, yang melingkupi masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Hal tersebut akan memberi warna yang berbeda pada suasana yang dibentuk, persepsi yang muncul, pemikiran yang terjadi dan perkembangan desain arsitektural yang ada pada setiap perjalanan zaman.

Berikutnya, untuk memperdalam pemahaman mengenai tempat (place), kita perlu memahami definisi dan makna dari tempat. Mengenai hal ini, digunakan pula pendekatan dari teori Yi Fu Tuan (1979). Pengertian umum mengenai tempat erat kaitannya dengan dua hal, yakni posisi seseorang dalam sebuah masyarakat (dalam hal sosiologi) dan lokasi spasial (dalam hal geografis). Sedangkan dalam artian makna, tempat dimaknai sebagai spirit yang berarti semangat/emosi yang menjadikannya lebih terasa dari sekedar suatu hal dengan fungsi tertentu; personality yang menjelaskan tentang keunikan ‘kepribadian’ sebuah tempat. ‘Kepribadian’ sebuah tempat merupakan gabungan dari  dorongan sifat dasar (nature endowment) dari kondisi fisik dan modifikasi yang dibuat secara berturut-turut dari generasi ke generasi oleh manusia di dalamnya. Tempat dapat memiliki spirit dan personality, tetapi manusia di dalamnya-lah yang dapat memiliki sense of place. Manusia mengungkapkan rasa yang dimiliki terhadap sebuah tempat ketika mereka mengaplikasikan nilai moral dan ketajaman estetika terhadap sebuah site dan lokasi tertentu. Pada masa sekarang, manusia modern, sering diklaim tidak memiliki sensitivitas tersebut. Manusia masa kini melampaui dan melanggar/mengingkari genius loci (sifat suatu tempat) karena belum mampu mengenali hal tersebut. Hal ini dikarenakan banyaknya lingkungan modern yang masuk dan menyebar secara blandness (menyatu dengan lembut) dikombinasikan dengan jiwa dominasi manusia yang mengerdilkan penanaman,  pengembangan, dan penguatan dari kesadaran akan tempat.

Dalam konteks lingkungan urban, hal ini sejatinya harus dipahami, bagaimana seharusnya lingkungan urban tercipta dalam sebuah tatanan masyarakat dengan dasar genius loci yang dimiliki, kondisi fragmen pemikiran tertentu, spirit dan personality yang membangun keadaan masyarakat dari waktu ke waktu. Apabila merujuk kembali pada dasar nature kultur heterogenitas masyarakat Indonesia dari dulu hingga kini, perlukah kita mengenal-kembali definisi ruang-tempat yang dipahami oleh masyarakat kita? Definisi apakah yang digunakan dalam aktivitas yang dijalani setiap hari seiring berjalan waktu. Bagaimana ruang dipahami dan tempat dikenali.  Hal ini akan menjadi penelitian yang menarik dalam arsitektur, dimana arsitek mampu menemu-kenali kebutuhan dasar ruang-tempat dalam kehidupan masyarakat masa kini, terutama pada kalangan urban. Seperti apakah ide gagasan rancangan desain yang mampu menghadirkan sense of space and place pada sebuah lingkungan urban, sehingga human being lebih mampu mengapresiasi lingkungannya, lebih partisipatif dalam mengelola, mengikut-sertakan rasa dalam setiap pergerakan aktivitas, dalam hal ini, sehingga tujuan arsitek dalam merancang lingkungan binaan dapat tercapai lebih baik.

ISU UTAMA: Gagasan Ruang dan Tempat di Lingkungan Urban

Menuangkan rasa dalam sebuah ruang dan tempat memiliki dua makna (Tuan, 1979), yakni visual/estetis dan keindahan. Hal ini dikarenakan, manusia memiliki fokus dalam melihat, indera ini yang kemudian membangun persepsi visual dari manusia pada sebuah ruang maupun tempat. Merasai (to sense) berarti mengetahui, memahami fokus dari visi seseorang (dalam hal ini, perancang), pengetahuan yang eksplisit. Artinya, sebuah ruang maupun tempat dapat menjadi penyalur gagasan, memberikan rambatan energi spirit yang diberikan oleh arsitek, sebagai perancang, kepada entitas yang menikmati lingkungan binaan. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, sehingga perlu untuk diteliti lebih jauh gagasan-gagasan mengenai ruang dan tempat yang dibutuhkan oleh lingkungan urban.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana gagasan ruang dan tempat yang harus diwujudkan dalam lingkungan urban? Mengenai hal ini, dapat dimulai dengan isu tentang keberpihakan antara lokalitas dan universalitas yang terdapat dalam pemahaman perkembangan kultur kehidupan masyarakat. Pada masa sekarang ini, kita dapat melihat bahwa dalam dunia perancangan arsitektur, arsitek seringkali ”bertugas” melayani kebutuhan klien dari arsitek. Dalam narasi Gerilya Urban (Yunanto, 2010) dijelaskan, arsitektur “terklasifikasikan” sebagai sebuah disiplin yang berurusan dengan “bangunan gedung”, kebutuhan pengembang, efisiensi ekonomis ruang, kegiatan untuk memperindah tampak luar, industri konstruksi, industri citra, dan sebangsanya. Sedangkan, esensi bidang keilmuan arsitektur tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lingkungan binaan yang terkait dengan hal-hal fisik, ekonomi, estetika, image, tetapi juga pada pembentukan karakter lingkungan peradaban yang lebih baik, saling terhubung dengan manusia sebagai penghuni lingkungan binaan, sehingga dapat menjalin simbiosis mutualisme dalam nalar berfikir rancangan yang dihidupi dan menghidupkan lingkungan lebih harmonis, mampu bertahan secara berkelanjutan.

Heidegger (dalam Yunanto, 2010) menyebutkan bahwa makna keberadaan seorang manusia amat terkait dengan batas-batas (pera, demikian istilah Yunani yang ia gunakan pada karya tulis tersebut). Batas-batas itu membatasi secuil dari ruang. Secuil ruang yang dibatasi tersebut ia sebut sebagai tempat, locus. Di tempat tersebut, yang ada bukan hanya si manusia dan tempat itu sendiri, tetapi juga ada hal-hal lain. Misalnya langit yang meliputi tempat tersebut, manusia-manusia lain di tempat itu, kepercayaan maupun pandangan-pandangan manusia di tempat itu, aspek topografis tempat itu, dan sebagainya. Semua itulah yang memberikan makna pada keberadaan si manusia. Heidegger meminta kepada para arsitek untuk memandang arsitektur dalam konteks tersebut. Hal yang diungkapkan oleh Heidegger tersebut yang seringkali terabaikan dalam eksistensi nalar arsitek dalam merancang, sehingga desian yang muncul lebih pada single building, seakan-akan tidak memiliki keterkaitan dengan cakupan lingkungan binaan di sekitarnya.

VISI: Membangun ‘ruang dan tempat’ urban yang menyatu antara lokalitas dan universalitas

the we they syndrome

Pada masa sekarang ini, arsitek tidak mungkin menutup mata akan kemampuan mewadahi dalam kebutuhan skala universal, sedangkan dapat dilihat keragaman yang ada juga memiliki benang merah persamaan yang harus mampu ‘dibaca’ oleh perancang dalam mendesain. Mengenai skala universalitas yang dipakai dapat beragam berdasar skala jangkauan yang diterapkan. Berdasarkan the ‘we-they’ syndrome dalam teori Space and Place Yi Fu Tuan (1979), terdapat dua jenis penjenjangan yang digunakan, pertama, penjenjangan jangkauan yang diterapkan masyarakat dengan kelas sosio-ekonomi menengah ke bawah; kedua, penjenjangan jangkauan yang diterapkan oleh masyarakat kosmopolitan dan tipe pendidikan tinggi (Lihat Gambar 1). Pada jenis pertama, pengertian ‘we-they’ lebih pada pemeliharaan dan pengakuan level lokal dan nasional (superpatriotikal). Kecurigaan terhadap orang asing lebih meluas pada jenis ini. Sedangkan pada jenis kedua, home-base meluas melewati batas lingkungan lokal hingga regional, dan nasionalisme (batas nasional) lebih pada keakraban/kebiasaan gaya hidup internasinal. Dalam hal ini, arsitek harus jeli memposisikan diri, dimana ia harus berpijak, menjembatani perbedaan dan persamaan yang ada.

Berdasar paparan diatas, arsitek harus cerdas berpijak, mengambil keputusan dalam ide-ide/gagasan dalam merancang. Pada konteks urban, apa sajakah yang harus ia perhatikan untuk menghadirkan lingkungan binaan yang tidak sekedar muncul sebagai benda fisik mati, tetapi me-ruang, melingkupi kebutuhan tempat yang bukan hanya be (menjadi) tetapi being (ada dan hadir) dan dapat dirasakan oleh masyarakat, sebagai penghuni lingkungan binaan itu sendiri. Strategi yang harus dipersiapkan diantaranya, konsep ruang dan tempat harus dikuasai dengan optimal dan beriringan, juga pemahaman skala pengaruh rancangan yang akan diberikan, pada konteks apa suatu rancangan memiliki konsep lokalitas dan universalitas diterapkan dengan porsi tertentu. Berikut beberapa poin konsep yang dapat dijadikan acuan dalam perancangan ruang dan tempat urban yang mengakomodasi kebutuhan lokalitas dan universalitas.

konsep

Dari sini, dapat disimpulkan, berkaitan dengan “ ’Ruang dan Tempat’ Urban: Antara Lokalitas dan Universalitas”, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan para perancang: [1] Memahami definisi ruang dan tempat yang di-persepsi oleh masyarakat lingkungan binaan, di mana ia merancang; [2] Memahami posisi lokalitas-universalitas dari keseluruhan entitas lingkungan binaan itu sendiri, agar desain yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, dan memberikan kemanfaatan, memberi stimulan pemikiran yang lebih tepat-guna untuk kehidupan yang lebih baik. Pada akhirnya, lokalitas dan universalitas bukanlah dua sisi yang harus dilihat secara berseberangan, akan tetapi lebih seperti dua sisi mata uang: menyatu-bersama. Yang harus dilakukan untuk mewujudkan ruang dan tempat pada skala urban adalah menggalakkan budaya hybrid, yakni membangun kesadaran lokalitas dan mem-blending-kannya dengan spirit universalitas.  Menghadirkan rasa terhadap ruang dan tempat secara utuh, yang mampu mengikat manusia, sebagai pengguna lingkungan binaan untuk turut memiliki dan memahami untuk apa sebuah ruang dan tempat itu hadir dan ada.

Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.

—Tan Malaka—

….kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata…

-WS Rendra: Sajak Sebatang Lisong-

Referensi:

  • Budiharjo, Eko. 1997. Tata Ruang Perkotaan. Bandung: Alumni.
  • Pangarsa, Galih Widjil (2011). Not Only Tradition and Historical Values, But Also Geographical Locality. Key-Note Speech Paper dalam SENVAR 12, 10 November 2011 di Universitas Brawijaya.
  • Hall, Edward T. (1966). The Hidden Dimension. USA: Anchor Books Editions.
  • Mustafa Pultar. A Structured Approach To Cultural Studies Of Architectural Space. http://pultar.bilkent.edu.tr/Papers/Spacult/Spacult.html. Faculty of Art, Design and Architecture, Bilkent University
  • Sutanto Agustinus. 2009. Memaknai Lokalitas. Dimuat dalam Artikel LAumni Arsitektur Tarumanegara (ILUMARTA). http://www.junctionzero.com/websites/ilumarta/berita/07 _memaknailokalitas.htm
  • Tardiyana, Achmad D. 2011. Arsitektur Waktu Luang dan Gaya Hidup Metropolis. Dimuat dalam Ruang17 dan Sketsa+.
  • Yi Fu Tuan (1979). Space and Place: Humanistic Perspective. Dalam S. Gale dan G. Olsson (eds.), Philosophy in Geography, 387-427. All Rights Reserved.
  • Yunanto, Ardi dan Farid Rakun, ed. (2010). Gerilya Urban: Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer 2010. Jakarta: Jurusan Arsitektur FT Universitas Tarumanegara
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s