Jadi, bagaimana seharusnya pemahaman kita tentang pendidikan (anak)?

Dini hari ini, masih dari bilik rumah cahaya yang menghangatkan. Saya, ditemani salah satu member B-family membincangkan banyak hal tentang pengembangan kepribadian. Salah satunya adalah tentang trend pendidikan di rumah pada jaman kini. Saya menyampaikan padanya bahwa, di era timeline medsos saya dipenuhi dengan kebanggaan kawan-kawan yang fokus mendidik dari rumah [saja], entah mengapa saya belum menemukan titik ketenangan untuk meng-ikut jalur yang sama. Ada puzzle yang sepertinya belum terpenuhi dengan memilih metode itu. Barangkali ini juga karena kedangkalan ilmu saya tentang itu, ekspektasi yang belum terpenuhi berkaitan dengan metode itu dan as usual, tingkat kepuasan nalar intelektual saya tentang visi-misi pengembangan karakter yang belum terakomodasi dengan metode tersebut.

Suatu waktu di hari yang lain, sembari berselancar di laman-laman artikel mengenai urgensi, konsep, atau metode operasional tentang pendidikan di rumah; saya bertanya pada diri saya sendiri, “apakah itu cara terbaik yang sesuai dengan kondisi dan fase kehidupan masa kini (dan jika nanti akan saya pilih, maka itu harus menjadi pilihan yang mampu dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan)?“. Sampai hari ini, saya belum menemukan kecenderungan lebih untuk memilih opsi itu sebagai satu-satunya jalan pendidikan yang akan ditempuh dalam keluarga di masa depan.

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di keluarga dengan perhatian nilai religius dan intelektualitas yang dominan, mau tidak mau, cara pandang saya terhadap pendidikan tentu tidak terlepas dari cara saya tumbuh hingga saat ini. Saya mengevaluasi proses yang dijalani, mengelompokkan kelebihan dari metode yang sudah diterapkan untuk mencapai suatu goal tertentu dalam pendidikan, dan mencatat serta menambal kekurangan-kekurangan yang selama ini terabaikan. Berdasarkan latar tersebut, tentunya saya memiliki kecenderungan orientasi pendidikan dengan nilai dasar utama berbasis agama dan kecerdasan intelektual. Tetapi seiring dengan perjalanan yang saya lalui, saya melihat ada orientasi yang perlu dididikkan dan ditambahkan, yakni, kecerdasan emosional dan sosial, khususnya dalam hal bridging ideas to people serta organizing self and people. Ada yang perlu diasah dalam hal ini, sejak dini kepada anak-anak di dalam rumah kita.

Saya melihat, bahwa orientasi model pendidikan masa kini yang kian menjamur, seperti sebuah artikel yang pernah saya baca tentang berbagai macam model orang tua, cenderung membentuk karakter anak “superkids” sebagaimana yang orangtua inginkan, dengan latar belakang pengalaman dan karakter orang tua (saya berharap di lain waktu ada kesempatan untuk bisa menuliskan ini secara khusus). Barangkali memang tak bisa sepenuhnya disalahkan, tetapi agaknya kita perlu lebih terbuka dalam memandang asegala sesuatu, lebih luwes dalam membaca keadaan yang saat ini penting untuk diperhatikan, karena kkeadaan itu akan menjadi arena hidup anak-anak kita di masa mendatang; yang seiring jaman berjalan, maka seiring juga anak bertumbuh dengan segala pemikiran dan pemahamannya tentang kehidupan di sekelilingnya. Maka pilihan pengajaran menjadi penting untuk membentuk pandangan anak tentang apa ini dan itu, siapa ini dan itu, dimana tempat ini dan itu, bagaimana menanggapi ini dan itu dan mengapa kehidupan begini dan begitu. Orang tua memiliki peranan penting dan utama dalam hal tersebut, iya bukan?

Nah, lama juga ya prolognya. Duh, maafkan kerumitan cara berpikir saya membuat saya harus menjelaskan terlebih dahulu segala hal, agar orang memiliki tahap pembacaan yang sama dengan apa yang saya maksudkan sebelum terlibat lebih jauh dalam perbincangan. Dalam case pendidikan ini, trend model pendidikan yang kini ada pun (menurut saya) masih belum mampu mengakomodasi hal tersebut dalam tantangan zaman yang ada.

Orang-orang yang memilih pendidikan di rumah, menurut saya, cenderung pada mereka yang telah ‘menyerah’ pada 2 hal tentang pendidikan konvensional yang ada, yakni jam pendidikan yang terlalu lama, kurikulum yang terlalu berat, yang keduanya kemudian memberikan efek hasil pendidikan yang kurang memuaskan. Sedangkan pemahaman yang digaungkan adalah potensi pengembangan diri di usia-usia emas seringkali terabaikan karena forsir waktu yang sebenarnya tidak perlu. Dengan kondisi tersebut, maka alternatif solusi yang dilakukan adalah bagaimana menyuguhkan model pendidikan yang dapat diatur sendiri dengan takaran yang tepat sesuai dengan kondisi anak, dengan mengharap pertumbuhannya dapat lebih simultan, dari sisi eksternal pendidik, dan internal sang anak. Waktu yang lebih singkat, dengan pemahaman yang lebih banyak. Beberapa yang saya lihat, result yang ditonjolkan adalah prestasi-prestasi anak yang unggul di masanya melebihi anak-anak seusia dengan pendidikan konvensional.

Namun sejauh ini saya tetap mengamati, tetap selalu pincang. Sekali lagi karena latar belakang pemahaman saya, saya pernah melontarkan pertanyaan dalam benak saya, “Mungkinkah atau adakah anak-anak dengan model pendidikan di rumah yang menghasilkan keseimbangan pemahaman keagamaan sekaligus intelektual dan sosial saat ini? Misalnya, anak-anak dengan usia kisaran 15 tahun dengan pemahaman Quran di ingatan dan pemikiran, namun dengan amal intelektual dan sosial yang sesuai dengan kebutuhan jaman. Adakah?” Jujur saja, saya belum menemukannya. Biasanya selalu ada titik menonjolnya, anak hanya akan mampu ‘lebih’ pada satu hal tertentu saja. Lalu, apa bedanya dengan pendidikan konvensional yang ada yang juga mampu membentuk kepribadian yang sama?

Saya mencoba mencerna dan berpandangan, sebenarnya problem yang terjadi pada pendidikan konvensional bukan semata karena sistem yang diterapkan; tetapi juga keterlibatan orangtua dalam pendidikan itu sendiri. Tidak jarang orang tua yang sekedar mengawal pendidikan anak seperti meletakkan baju kusut yang lusuh ke laundry, berharap nanti ketika diambil sudah rapi wangi dan tinggal mengganti jasa perawatan. Lalu apa guna orangtua? Ketidakberimbangan peran masing-masing pihak dalam pendidikan lah yang menjadi pemicu utama tedikaberhasilan sebuah pendidikan. Baju yang sudah rapi wangi itu akan kembali kusut jika kemudian hanya diambil, dipakai beraktivitas ‘begajulan’ tanpa terkontrol baik bagaimana operasional pemakaiannya, dan saat dikembalikan lagi ke tempat laundry, baju itu kembali lagi dalam kondisi lusuh dan kusut. Bukan itu kiranya analogi tepatnya dalam hal pendidikan anak ini.

Apabila dilihat dari segi agama, saya juga melihat para salafus shalih dan anak raja itu juga memiliki guru, bahkan pergi ke tempat guru, bukan serta merta “hanya” dididik orangtua mereka sendiri. Mereka juga berinteraksi dengan orang banyak, mengamati banyak keadaan luar lalu menanggapinya. Artinya apa? Satu hal yang penting yang mengusik ketidak-tenteraman saya adalah kurangnya pendidikan untuk mengasah kemampuan anak berinteraksi dengan kehidupan yang serba heterogen; disamping ia harus memahami kondisi internal asal mereka adalah ruang homogen. Ketidakpahaman akan hal ini akan menyebabkan ketimpangan dalam konsep mendidik dan memahamkan anak tentang kehidupan. Dan ini justru akan membahayakan jika anak tidak siap dengan kondisi-kondisi krusial, naik-turun yang justru itu banyak terjadi dalam realitas kehidupan.

Tidak ada yang salah dengan pilihan pendidikan konvensional ataupun pendidikan di rumah selama pemahaman di atas selesai pada masing-masing orang tua. Tidak menjadikan anak sebagai obyek superkids dan memahami pertumbuhan mereka dengan jaman mereka tumbuh; mengawal pertumbuhan itu agar mereka siap tumbuh dan berkembang di jamannya. Tanpa pemahaman itu, kita hanya akan mengulang produk yang sama dengan metode berbeda. Mungkin akan tampak wah pada satu sisi karena perbedaannya, tapi sesungguhnya keduanya memiliki kesamaan: kurang mampu menghadapi tuntutan jaman.

Anak-anak dengan pendidikan konvensional tanpa keterlibatan orang tua akan pincang pemahamannya akan pentingnya satu ‘entitas homogen’ yang membentuk karakter-karakter kuat dalam dirinya sebagai pijakan prinsip-prinsip hidup, yang membuat mereka tidak goyah apapun medan di hadapan. Sedangkan anak-anak dengan pendidikan di rumah akan kekurangan pemahaman manajemen strategi tentang kondisi keberagaman pada masyarakat, dengan segala status, konflik yang seperti roaller-coaster dan tempaan itu tidak akan mereka dapatkan di lingkungan homogen.

Seperti yang saya katakan diatas, kemampuan bridging ideas to people, bagaimana bukan hanya sekedar menyampaikan ide kepada orang lain lalu mundur menciut ketika ide tertotak, tapi bagaimana bertahan, bagaimana mempersuasi keadaan; kemampuan organizing self and people, bagaimana memanaj diri dalam hal nilai-nilai dasar dianut, fisik, intelektual, waktu, dan emosi, hingga bagaimana hidup bersama orang banyak dan terlibat aktif disana, try to solving the problem, try to taking desicion, try to listen others, kesemuanya itu membutuhkan keberimbangan pendidikan secara homogen dan heterogen, yaitu pendidikan di rumah dan diluar rumah yang relevan.

Dan sebagai orang tua, sebaiknya memiliki pembacaan yang jeli terhadap perkembangan dan perjalanan jaman, kira-kira akan kemana dan bagaimana anak-anak akan disiapkan menghadapi masanya. Ini tidak serta merta dengan memilih model pendidikan A atau B karena konsep A atau B atau C. Tetapi ini tentang visi, misi, goals, yang kesemuanya itu bukan hanya tentang diri kita, anak kita, tapi juga terbentuknya satu masyarakat peradaban yang lebih baik, lalu bagaimana kontribusi keluarga kita di dalamnya. Selamat berselancar dalam nalar dan pemikiran yang mendalam!

Anak-anak tumbuh dan hidup sesuai dengan kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu – Ki Hajar Dewantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s