Hasil diskusi di meja makan

Seperti biasanya, dalam ‘ritual’ makan malam keluarga, selalu ada saja hal yang bisa diperbincangkan. Seperti waktu itu, ketika saya pulang dari kampus dan mengurus segala keperluan pasca lulus sarjana. Inilah sari dari diskusi tersebut.


puzzle 1: setiap manusa itu diciptakan on mission, so dia harus punya fungsi seperti yang Allah minta.

question: sudahkah kamu menemukan misimu, f(x)mu?

untuk menuju pencapaian jatidiri fungsi itu, atau aku menyebutnya dengan f(x) itu, ia butuh fokus pada orientasinya, ia mampu mendeterminasikannya, dan ia punya passion dalam mewujudkannya. Dengan itu ia akan paham sebenanya untuk apa, sebagai siapa, ia diciptakan. Yah, tiap orang memang harus fokus, bukan berarti dengan fokus kemudian ia mengabaikan orang lain. menjadi helper bagi orang lain itu boleh, tapi ingat, harus paham konsep helper itu juga. Setiap orang memikul hisabnya masing-masing. Jangan sampai ketika f(x) kita dipertanggung jawabkan justru kita tak mampu menjawab.

puzzle 2: amburadulnya sistem di negeri ini

smakin tinggi jabatan, makin dikit kerjaan, main banyak emnyuruh, makin banyak serakah, makin pelit berbagi

seseorang, jika ia paham f(x) hidupnya, maka ia akan menggunakan metodologi yang benar, di jalur yang benar, tidak mudah puas, tidak greedy, senang berbagi. Negeri ini punya banyak orang cerdas, tapi . . . ia tidak didukung dengan kultur belajar yang benar sehingga mudah puas, melemah dan melempem.

satu lagi kesalahan yang belum tertuntaskan di negeri ini adalah ikim riset yang lemah.Selama negeri ini tidak punya iklim dan respon riset yang baik, selama itu pula ia takkan mampu mencetak seorang ahli, maka selama itupula ia takkan bisa berbenah. Why? karena tiap orang berbicara bukan dari expertasi bidangnya.

puzzle 3: belajar dari negeri orang lain

satu saja, jepang. sebenarnya jika orang kita diuji 1:1 dengan Jepang, insyaAllah kita bisa menang. Tapi . .  jika kita diuji 1 grup:1grup dengan Jepang, maka dijamin kita akan kalah. Why? Karena kebanyakan orang Indonesia jika bekerja dalam tim, ketika masing-masing diminta membawa segelas air, maka ia justru akan membawa kurang dari itu, sedangkan orang Jepang, jika masing-masing diminta melakukan hal yang sama, membawa segelas air, ia akan membawa sebaskom air. Paham? ini hanya sebuah perumpamaan, bahwamereka hidup dengan passion sedangkan kita tidak.

di negeri kita tercinta ini, ketika seseorang ditempatkan di amanah yang lebih besar, yang muncul adalah paradigma ‘pekerjaan berat dan butuh dibantu, butuh fasilitas yang lebih, staf khusus yang lebih’. Padahal sejatinya, pekerjaan beberapa orang digantikan seseorang karena ia memiliki kemampuan lebih untuk itu, dan faslitas diberikan untuk dioptimalkan, bukan malah meminta tambahan SDM. Kalo SDM nya ditambah lagi, lantas apa bedanya..

puzzle 4: paradigma ‘mantan’ guru dan totalitas seorang pendidik

jarang sekali kiranya meliat paradigma sensei di negeri ini.

Suatu hari di hari pelepasan wisudawan di salah satu universitas ternama di Jepang, seorang sensei beresan kepada mahasiswanya, “Setelah ini, anda akan keluar dari universitas ini. Dimanapun anda berada, dimanapun anda bekerja, saya adalah sensei anda. Oleh karena itu, kapanpun anda butuh, pulanglah, mengadulah pada saya, saya akan membantu Anda”.

ada lagi kisah yang lain saat seorang sensei sedang sakit tiga bulan harus menjalani perawatan intensif dan tidak bisa menghandle bimbingannya, ia mendelegasikan seorang kandidat doktor untuk menggantikan supervisinya terhadap mahasiswa bimbingan yang menjadi tanggungannya. Sampai deadline yang harus ditempuh mahasiswa bimbingannya tersebut, kandidat doktor ini tidak mampu menyelesaikan persoalan yang diangkat dan harus sensei yang menyelesaikannya. Waktu berjalan, hingga ahirnya tepat setelah sensei menjalani erawatan, sensei langsung mengajak bertemu mahasiswa yang bersangkutan d labolatoriumnya di kampus saat malam hari, meminta mahasiswa tersebut meletakkan pekerjaannya di meja sensei, dan sensei berpesan, “tingalkan pekerjaanmu disini, biar saya yang memeriksa dan menyelesaikannya, mngkin 3-4 hari ke depan ini selesai, nanti saya akan menghubungimu”. Sang mahasiswa pun dapat lega pulang. Esok harinya, sensei tiba-tiba menelpon, dan subhanallah, di seberang telepon ia berkata, “bisa kamu temui saya hari ini? masalahmu sudah saya selesaikan”. Luar biasa.

Di cerita yang lain, ketika seorang mahasiswa hendak sidang akhir,sensei-nya sedang dirawat d rumah sakit. Sensei sudah berpesan kepada kawannya yang lain untuk mendampingi mahasiswa tersebut saat sidang akhir. Saat hari itu tiba, saat mahasiswa tersebut bersiap-siap untuk maju sidang akhir, tiba-tiba, di depan gedung kuliah, sebuah mobil ambulance berhenti, dan apa yang terjadi? Sensei turun dari mobil tersebut menuju ruang sidang. Mahasiswa bimbingan lainnya bertanya, “Sensei, bukankah sensei sedang sakit? dan bukankah sudah sense sudah memnta orang lain untuk menggantikan hari ini?” Dengan santai sensei menjawab, “ya, memang benar. Saya datang kesini hanya untuk melihatnya presentasi sidang, setelah itu saya harus kembali ke rumah sakit.” Subhanallah… Dan, tepat seperti yang dikatakan sesnsei, selepas menjabat tangan mahasiswa bimbingannya yang usai sidang, beliau kembali ke rumah sakit dengan ambulans.

Yah…mungkin itu sekelumit cerita di sisi dunia yang lain bagaimana totalitas seorang pendidik, bukan di kalangan sekolah dasar, tetapi di kalangan kampus, akademisi, tataran profesor, yang juga mengerjakan project perbaikan negeri sejuta semangat itu..

kapan hal itu terwujud di negeri ini?


yah, beginilah, meja-meja diskusi yang ‘kan selalu dirindukan. Bahkan tempe saja dapat menjadi bahan diskusi kami di meja makan.

inside-expat-coloriage-discussion-enfant-table-fete-anniversaire

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s