Wanita-Wanita Al Qur’an

Di posting di facebook pada tanggal March 4, 2015 at 5:43pm

Bismillahirrahmanirrahiim, hai, sahabat 🙂

Semoga kabar baik, nikmat indah selalu menaungi hari-hari kita dariNya 🙂

Tidak terasa, sudah catatan ke 229 saja ya. Bermula dari ocehan tidak penting (dan tidak mutu barangkali), catatan kecil ini beranjak mendewasa sebagaimana pemiliknya yang terus belajar untuk menjadi pribadi lebih baik setiap waktu yang dilewati. Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimmush shaalihat 🙂

Sahabat, beberapa waktu lalu saya membaca buku berjudul Wanita-Wanita Al Quran atau dalam judul aslinya Nisa’ Fil Hayat Al Anbiya, karya Fathi Fawzi Abd Al Muthi. Barangkali belum tentu itu buku yang sempurna menjelaskan perempuan-perempuan yang bisa kita pelajari di masanya, tetapi setidaknya buku yang bersumber dari Quran, Injil, dan Taurat itu memberikan wawasan pada kita, apa sih yang harus kita pelajari dari mereka?

1925060_10204223031558873_118692489336308183_n

Bila tertarik, sila disimak, berikut hikmah dan ibrah yang saya ambil dari hasil membaca. Mungkin agak panjang, tetapi itu tidak seberapa dibanding nilai di dalamnya, saya coba sederhanakan dari 300 halaman bagian pertama menjadi kurang lebih 4 lembar A4, semoga tak mengurangi esensinya 🙂

Pada bagian pertama ini, saya akan menceritakan 14 orang wanita di sekitar para Nabi, yang diceritakan lebih dulu pada buku tersebut. Bila saya boleh mengelompokkan, setidaknya ada dua kelompok besar macam wanita yang harus kita pelajari untuk kita tiru keteladanannya, atau kita waspadai kekurangannya.

Kelompok pertama, saya pilih yang harus kita waspadai dulu karena kita ini sering lalai, jadi harus diingatkan dulu banyak-banyak tentang hal-hal yang menggelincirkan kita. Pada perempuan kelompok pertama ini, saya belajar bahwa betapa benar sabda Nabi, “Perempuan itu fitnah.” Astaghfirullah. Kita harus menyadari bahwa kita memiliki kekurangan yang amat sangat berkaitan dengan emosi, perasaan, dan lisan kita.

[1] Lisan yang fasih ini, sejak awal orang tua pertama kita terlahir, lisan seorang perempuan bernama Hawa telah berkontribusi untuk mengajak suaminya memakan buah Khuldi hingga mendapat murka Allah subhanahu wata’ala. Lisan itu yang menggiring mereka tetiba tak berpakaian, turun dari syurga, terpisah jauh, menangis bertaubat bertahun-tahun, agar dipersatukan kembali olehNya. (QS Thaha:123, QS Al A’raf:22-25)

[2] Lisan ini juga yang menggelincirkan istri Nuh, Walighah, sehingga menjelek-jelekkan suaminya di depan masyarakatnya, membuat suaminya buruk di hadapan masyarakat, menyampaikan hal-hal buruk tentang seorang ayah bernama Nuh kepada anak-anaknya sehingga mereka tidak mentaati Allah. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un. Hingga manusia mulia itu diingatkan Allah, bahwa anak istrinya bukanlah keluarganya, anaknya adalah buah amal yang tidak shalih. Dan istri yang tak baik itupun tenggelam bersama ke-jumawa-annya, merasa lebih tau tentang kehidupan dan segala isinya. (QS Hud:27, QS Nuh:7, 26)

[3] Lisan juga gerak tangan telah melenakan istri Luth, Walihah, sang pembakar tungku api di rumahnya untuk menunjukkan hadirnya tamu lelaki agar bisa diajak berbuat hina. Perilakunya yang gemar bergabung dengan laki-laki di kampungnya mendukung perbuatan zina membuatnya menjadi perempuan-istri-ibu yang tak semestinya. Dan adzab Allah pun hadir baginya, sebongkah batu jatuh dari langit bertuliskan namanya menimbunnya, berikut kampung itu, yang diangkat oleh para malaikat yang bertugas, kampung yang dibalik dan ditanam rata dengan tanah. Allaah.. Karena lisan, karena perilaku, yang tak menyelamatkan jiwa; tak menyelamatkan dirinya, dan orang-orang di sekitarnya. Ketidaktaatannya kepada suaminya, Luth, yang telah mengingatkan adzab yang menimpa istri Nuh tak juga membuat telinganya mendengar. (QS At Tahrim:10, QS Al Ankabut: 29-32, QS Huud:78-81)

[4] Berikutnya, kita pun telah pernah mendengar, Zulaikha, masih dengan lisannya, ditambah mata yang tidak terjaga baik, yang akhirnya turun ke hati yang bernafsu untuk menuruti rasa yang tidak diridhaiNya. Keterpikatannya pada lelaki shalih di tengah ujian dinginnya perilaku suami, membuat dirinya dan kawan-kawannya tak bisa menahan diri, menyampaikan dusta bahwa ia digoda. Walaupun Yusuf juga sempat menyampaikan kejujuran dirinya yang tak luput dari dosa, tetapi qadarallah, Allah menyelamatkannya dan Yusuf pun bersyukur walau berganti tinggal di penjara. Alhamdulillah, kemudian Zulaikha tersadar akan kesalahannya, hingga masih ada waktu untuk bertaubat hingga akhir hidupnya, sehingga tak datang murka Allah atas apa yang dilakukannya. (QS Yusuf: 21, 23-25, 30-33, 50-51)

Sahabat, betapa saya sedih sekali membaca secara rinci kisah-kisah mereka dan mengingati banyaknya salah dalam diri, melalui lisan, perbuatan, sikap, perasaan. Betapa Allah sayang pada kita, tanpa turut menjalani, Allah hanya minta kita untuk mengambil ibrah dari orang-orang sebelum kita, agar kita tak mengulangi kesalahan yang sama. Apa kesalahan itu? Tidak menjaga lisan dengan baik, justru menjerumuskan orang lain pada kemaksiatan karena lisan kita. Tidak taat pada suami, tidak menolongnya dalam kebaikan, justru mendurhakainya, membuka cerita-cerita yang tidak perlu ke khalayak ramai tentang keluarga kita. Tidakkah kita ingin menghindari kesalahan-kesalahan itu dan memohon ampun atas apa yang terjadi, jujur menginsyafi diri agar Allah sayangi kita di sisa usia yang masih ada.

Kelompok kedua, tentunya berisi wanita-wanita pilihan, yang dapat menempatkan perasaanya dengan baik, yang menggunakan kecerdasan akalnya dengan tepat, dan hartanya tidak melenakannya menemukan jalan kebenaran dan ketaatan kepada Allah.

[1] Maka tersebutlah nama Sarah Ummu Ishaq, istri Ibrahim yang baru dikaruniai anak ketika usianya telah lanjut, 13 tahun setelah kelahiran Ismail, anak Ibrahim dari istri yang lain. Perempuan yang sungguh sabar dan taat kepada Allah, hingga pun ketika, Raja Mesir hendak mengingininya, tak kuasa ia mendekat karena ia menyebut asma Allah hingga ketiga kalinya, yang membuatnya dimuliakan dan dihadiahi Hajar. Sarah, seorang istri yang bersedih karena tidak mampu memberi anak kepada suaminya, dan menawarkan suaminya untuk menikahi Hajar, seseorang yang telah ia kenal baik dan telah mengikuti agama Ibrahim. Sanggupkah kita menjadi perempuan itu? Kesabarannya mengantarkannya pada kasih sayang Allah dari arah yang tidak disangka, bahwa ia sedang mengandung seorang Nabi, Ishaq, yang nantinya menghasil keturunan Nabi yaitu Ya’qub, kemudian Yusuf, dan sebagainya. Sungguh istri yang sabar dan setia walau suaminya harus mondar mandir antara Ka’bah dan Kan’an untuk mengunjunginya dan Hajar. (QS Adz Dzariyat: 24-30, QS Al Hijr: 53-55)

[2] Satu lagi, Hajar Al Mishriyyah, Ummu Ismail. Seorang putri raja di Istana Memphis yang harus rela menjadi budak setelah kerajaannya kalah dikepung pasukan Hexos. Kekuatannya itu membuatnya mengasihi Sarah ketika Allah mempertemukannya dalam satu keadaan tak terduga ketika Sarah diingini Raja Mesir. Ia menghibur Sarah dan kemudian menjadi hadiah bagi Sarah, dan mengikuti agama Ibrahim. Setelah menikah dengan Ibrahim dan melahirkan Ismail, kita pun mengingat cerita Hajar ditinggalkan di padang tandus tanpa manusia, hanya berbekal sekantong kurma dan sekantong air. Ia bertanya kepada suaminya, “Kau meninggalkan kami di tanah yang gersang dan liar ini, Ibrahim? Hendak kemana engkau, Ibrahim?“. Suaminya diam dan tetap terus berjalan. Kecerdasan Hajar membuatnya merubah pertanyaan, “Apakah ini perintah Allah“. Singkat Ibrahim menjawab, “Na’am (Iya)“. Sarah pun dengan ketabahannya dan keyakinannya yang kuat menjawab, “Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami“. Allah.. Bisakah kita teladani itu? Belum lagi tentang ikhtiar Hajar meletakkan bayi Ismail untuk mencari air, berlari-lari Shafa Marwa, yang kemudian ternyata rizkinya justru hadir dari bawah kaki Ismail, bayi yang ia tinggalkan. Sanggupkah kita belajar dari Hajar tentang ketawakkalan dan ridho atas ketentuan Allah, ketika ikhtiar sudah optimal dimana, lalu Allah ngasi rezekinya darimana. Kemudian, dari sumber mata air itu kabilah-kabilah pun datang, dan terbentuklah sebuah kota yang kita semua ingin mengunjunginya: Makkah. Hajar memiliki peran besar dalam pembentukan diri Ismail yang kelak menjadi Nabi dan moyang nabi kita Muhammad. Hajar berperan besar akan tumbuhnya Makkah, dan kemuliaan-kemuliaan itu tersimpan rapi, tak disebut oleh Allah dalam Quran, melainkan disebutnya suaminya, Ibrahim, dan Ibrahim. Sanggupkah kita menjadi perempuan itu? Dan kita pun melihat, prestasi Hajar itu hingga kini kita teladani, dalam Sa’i, aliran air itu kita minum, bernama zam-zam. Bisakah kita menjadi seorang perempuan-istri-ibu bervisi yang prestasinya dinikmati hingga beribu tahun kemudian? (QS Ibrahim: 37)

[3] Berikutnya, Rahmah, istri Ayyub as. Bila terbesit nama Ayyub, apa yang terkenang? Nabi yang diuji dengan sakit? Ya, betul. Tetapi bukan hanya itu ujiannya. Ayyub dikenalkan kepada kita sebagai hamba yang sangat bersyukur dan rendah hati dengan karunia Allah. Tetapi ada yang tidak ridha dengan semua itu: Iblis. Ayyub, dengan segala nikmat kekayaan, anak-anak, serta kesehatan, membuat Iblis ingin menghabisi itu semua darinya. IBlis menghabiskan kebunnya hingga tak ada kekayaannya yang tersisa. tetapi apa yang dilakukan Ayyub? Beryukur kepada Allah, ia mengatakan, “Segala puji bagi Allah, nikmat yang Dia pinjamkan sejenak kepadaku, alhamdulillah kini telah Dia tarik kembali ke pangkuanNya“. Iblis tidak terima, ia robohkan rumah Ayyub, seluruh anaknya meninggal. Apa yang dilakukan Ayyub? Doa yang sama terlontar dari lisannya. Ayub pun jatuh sakit. Tak ada dokter yang bisa mengobatinya, kulitnya gosong, sakit diidap bahkan diriwayatkan 18 tahun dialami, hanya ditemani istri, pengikutnya pun telah menginggalkannya. Subhanallah. Bisakah kita sebagai perempuan, bertahan menemani seseorang yang kondisi seperti itu? Rahmah pun memiliki sisi manusiawi, ia menyampaikan kepada suaminya untuk memohon kesembuhan pada Allah, tapi justru Ayyub menasihatinya, “Rahmah, meminta ampunlah kepada Allah. Tujuh puluh tahun aku hidup bersamamu penuh limpahan kesenangan, kemewahan, dan kesehatan di tengah anak-anakku. Apakah aku tidak sabar menjalani cobaan selama tujuh puluh tahun berikutnya? Tidak, aku tidak akan berdoa seperti yang kau minta. Aku malu, Rahmah. Sungguh, Dia tidak buta. Dia mengetahui keadaanku, dan sangat menyayangiku bahkan melebihi diriku sendiri. Jauhkanlah dirimu dari tipu daya syaithan yang membutakanmu. Beristighfarlah dna bersabarlah!”. Rahmah pun menemani Ayyub dengan penuh kesabaran, mencari nafkah dengan menjadi pembantu, menjual rambutnya yang indah demi kelangsungan hidup mereka. Kesabaran mereka berdua, kesyukuran mereka berdua, kerendah hatian mereka, mengantarkan pada kasih sayang Allah yang kemudian tetiba Ayyub disembuhkan Allah hingga membuat Rahmah pangling padanya. Kemudian mereka dikaruniai nikmat anak-anak dan harta kembali, seperti dalam firman Allah, “Kami kembalikan keluarganya kepadanya, kami lipat gandakan bilangan merka sebagai rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah“. Rahmah dan Ayyub, ikon ketabahan dan ketangguhan, kesetiaan melalui berbagai ujian. (QS Shadd: 41-44, Al Anbiya:83)

Masih semangat membaca, sahabat? 🙂 silakan dilanjutkan,

[4] Berikutnya, Yokabed, Ummu Musa wal Harun, juga anaknya, [5] Maryam, kakaknya Musa. Seorang ibu yang merelakan anaknya untuk diikutkan arus alira sungai Nil, diawasi oleh Maryam, dan ditakdirkan masuk ke istana Asiyah. Yokabed adalah potret seorang ibu yang mengenali bahwa anaknya kelak akan menjadi pewaris Nabi, ketaatannya kepada Allah mengilhaminya akan bisikan iman bahwa suatu hari Allah akan mengembalikan Musa kepadanya. Begitupun anaknya, Maryam yang cerdas dan penyayang pada adiknya pun dengan cermat mengikuti kemana peti berisi adiknya sampai, dan ia pun menawarkan pada Asiyah agar Musa disusui oleh seseorang yang tak lain adalah ibu Musa sendiri. Dua perempuan ini pada hari ini jarang kita dengar namanya, namun mereka berperan penting terhadap kelangsungan hidup Musa, Nabi bani Israil yang kita kenal dengan segala kisahnya itu. (QS Thaha: 37-40, QS Al Qashash: 7,9, 11-12, 25-27, 29)

[6] Di sisi lain, kita dikenalkan dengan Asiyah. Siapakah dia? Istri Fir’aun, Ramses II. Fir’aun beristri banyak, namun yang paling ia cintai adalah Asiyah, yang kemudian menjadi Ibu Musa putra Fir’aun, sebutan Musa di istana. Asiyah begitu menyayangi Musa walaupun Musa bukan anaknya sendiri. Asiyah memiliki jasa besar menahan Fir’aun menyuruh pasukannya untuk membunuh Musa di istana. Ketika pun Fir’aun telah meninggal dan Musa telah hijrah kemudian kembali ke Mesir, ia segera menemui ibu angkatnya. Ketika Musa mengabarkan bila seorang utusan Allah, Asiyah pun langsung menyatakan beriman. Sikap Asiyah yang bangga terhadap putranya yang berhasil menekuk penyihir-penyihir Firaun lalu beriman kepada Allah sungguhlah istimewa, sedangkan ancaman hukuman mati atau salib di hadapannya. Fir’aun berikutnya yang sedang memimpin kala itu, memenjarakan Asiyah di kamar sempit dan gelap, melarangnya berhubungan dengan siapapun di istana, tidak diberi makan dan minum kecuali sekedar menyambung nyawa. Dari dalam ruang itu ia berdoa kepada Allah, yang diabadikan dalam Quran surat At Tahrim ayat 11, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah disisiMu dalam firdaus, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim“. Dari doa itu, kita mendengar sabda Nabi, bahwa Asiyah, merupakan satu dari empat pemimpin wanita syurga. Ma shaa Allah, setiap amal ada ganjarannya. Kegigihannya menjaga Musa, utusan Allah, berbuah syurga nan indah 🙂 (QS At Tahrim:11)

[7] Shafurah, adalah perempuan berikutnya yang dikisahkan. Sahabat kenal dengannya? Dia adalah satu dari dua anak perempuan Nabi Syuaib yang kemduian dinikahkan dengan Musa as. Ya, benar. Dua perempuan yang hendak memebri minum ternaknya tetapi terhalang oleh penggembala lain yang tentunya lumrahnya adalah para lelaki. Musa membantunya. Hingga kemudian tersebut dalam Quran, salah dua ciri laki-laki ideal yang didambakan perempuan adalah seperti Musa, yaitu qawiiyyul aamiin (QS 28:26), kuat dan dapat dipercaya (dapat mengemban amanah, bertanggungjawab, barangkali itu pengembangannya). Kita juga melihat ciri perempuan shalihah ini dalam Quran (QS 28:25), diawali dengan kata ‘istih-yaa-i’ yang artinya dengan malu-malu. Nah, sahabat, perempuan shalihah itu punya sifat malu 🙂 Tetapi dikisahkah lebih detail ketika Shafurah menyampaikan sifat Musa tersebut, ayahnya, Syu’aib menanyakan kepadanya, “Darimana engkau tahu bahwa ia adalah orang yang kuat?” Shafurah menjawab, “Ya ia seorang jagoan, kuat, dan pemberani. Untuk memberi makan gembalaan kami, kulihat ia menyingkirkan batu besar yang menutup mulut kolam“. Ayahnya bertanya lagi, “Bagaimana engkau tahu dia orang yang baik dan dapat dipercaya?” Shafurah menjawab, “Waktu pulang tadi, aku berjalan di depannya dengan langkah malu-malu. Lalu ia memintaku berjalan di belakangnya. Dia bilang, cukup kutunjukkan saja jalan ke rumah. Rupaya ia menghindar dari melihat tubuhku.” Pada kisah lain ditambahkan, bahkan Musa meminta isyarat penunjuk jalan hanya menggunakan lemparan arah batu kecil, tanpa komunikasi langsung, tanpa bicara. Ma shaa Allah, keren ya 🙂 Singkat cerita, keduanya kemudian dinikahkan. Shafurah adalah seorang istri yang cerdas dan bijak, ia sangat simpati kepada suaminya. Ia tau bagaimana membuat suaminya betah dan tidak resah ketika tinggal di negeri yang jauh dari kerabat dan sahabat. Pada suatu waktu, ketika Musa mengutarakan ingin kembali ke Mesir, Shafurah menemaninya bersama anaknya, dari Madyan, melewati Sinna, menuju Mesir. Shafurah banyak berperan menemani Musa dalam perjalanan yang sulit, dalam keterasingan, menemani kesendirian Musa, meredakan kecemasannya, dan membantunya dalam setiap perjuangan untuk menegakkan perintahNya ketika Musa menjadi seorang Nabi. (QS Al Qashash: 25-27, 29)

[8] Namanya Balqis binti As Sairah, Ratu Kerajaan Saba’, timur Shan’a, Yaman. Ia menyembah matahari. Ia hidup semasa Nabi Sulaiman berdakwah, menggantikan ayahnya, Daud as., menjadi Raja di Ursyalim. Nabi Sulaiman baru tau dari Hudhud bahwa ada kerajaan di Yaman yang menyembah matahari. Nabi Sulaiman heran, bagaimana ia, yang memiliki kekuasaan sepanjang Palestina hingga Syria, tidak tahu bila ada kerajaan di Saba’. Akhirnya Nabi Sulaiman mengirimkan surat ajakan menyembah Allah kepada Ratu Balqis, melalui Hudhud, yang diletakkan di singgasana ranjang ratu tersebut. Balqis adalah seorang ratu yang kaya raya. Kerajaannya megah dan berhias permata, perhiasan emas, batu mulia, parfum, dan sebagainya, yang kemudian sempat ditunjukkan sebagai hadiah kepada Sulaiman ketika Balqis memutuskan mengunjungi Raja yang menawarinya agama baru. Tetapi qadarallah, Nabi Sulaiman membuat kejutan dengan memindahkan singgasana sang Ratu ke Ursyalim tepat ketika ia sampai di Ursyalim dan diajak berkeliling. Seketika Nabi Sulaiman menunjukkan singgasana tersebut, “Beginikah singgasanamu?“, Ratu Balqis begitu terkejut, “Sepertinya ya,” bagaimana bisa istananya berpindah dalam sekejap mata. Istana licin yang teruat dari kaca yang membuat sang ratu menyingkap pakaiannya, lalu diingatkan oleh Nabi Sulaiman bahwa itu tidak perlu, menambah keyakinan sang Ratu akan kemahabesaran Tuhannya Sulaiman. Hal ini meluluhkan hati sang Ratu yang membuatnya beriman kepada Allah dan diabadikan dalam QS An Naml ayat 44. Sahabat, kekayaan Ratu Balqis, tidak membuatnya angkuh menerima kebenaran, justru menyambut dengan baik tawaran Sulaiman, dan memberikan hadiah pada Sulaiman, tanpa mengajak berperang. Kebaikannya itu mengantarkannya pada hidayah Allah subhanahu wata’ala. (QS An Naml: 23-24. 29-31. 41-42, 44)

[9] Adakah kita mengenal perempuan ini? Namanya Elizabeth, Ummu Yahya, artinya, ia istri Nabi Zakaria keturunan Sulaiman. Kita mengenal kisah doa Zakaria yang amat tenar, tentang keinginannya memiliki keturunan (QS Al Anbiya:89). Elizabeth telah melampaui usia 70 tahun, rambutnya telah memutih. Kemandulan membuatnya merasa bersalah, merasa bahwa Allah mengadzabnya, padahal ia mukminah, ahli ibadah dan taat kepada Allah. Mereka berdua disayangi rakyatnya. Mereka agak terhibur ketika saudaranya Hannah melahirkan Maryam, keponakannya, yang sempat hidup bersamanya. Tetapi kemudian Maryam bertunangan dengan Yusuf al Najjar sehingga harus meninggalkannya, sehingga hidupnya kembali kesepian. Allah kemudian memberi kabar gembira pada Zakaria akan lahirnya seorang anak bernama Yahya (dalam QS Maryam:7). Keceriaan menyelimuti mereka beruda, hingga ketika Yahya telah lahir dan berusia sekitar 1 tahun, hal mengejutkan terjadi. Pemimpian Adum, Herodes, dari Romawi berkehendak menjagal setiap anak laki-laki di daerah tersebut. Zakaria saat itu sedang berdoa di tempat ibadah di desa bersama warga, dan Elizabeth akhirnya pergi membawa putranya ke tempat yang jauh, gurun lepas. Pasukan Herodes menggeledah rumah mereka, tak ada siapa-siapa hingga mereka menemui Zakaria, sedang ia tak tahu apa-apa. Zakaria pun dijagal lehernya di depan para jamaah. Zakaria telah bersabar menunggu dan bersabar menunggu memiliki anak, bersabar menuntun kaumnya ke jalan hidayah, dan meninggal saat memimpin kaumnya walau dengan cara yang membuat kaumnya menangis histeris. Elizabeth pun merawat Yahya di tengah gurun, 6 tahun bolak balik ke rumahnya hingga akhirnya wafat. Semoga Allah menyayanginya karena keimanan dan kesabarannya, kesetiaan pada suami, dan kekhawatiran dan penjagaan kepada keselamatan anaknya. Kelak kemudian kita mendengar kisah Yahya menjadi Nabi, didustakan kaumnya. Yahya pun mengikuti jejak ayahnya menjadi pemberi peringatan. Hingga kemudian ketika Yahya ditawari Herodia (janda penguasa) menikah dengan seorang perempuan bernama Salome namun dengan cara yang bertentangan dengan ajaran agama, Yahya menolak dan akhirnya dipenjarakan. Karena Herodia dendam kepada Yahya, ia ingin Yahya mati. Pada suatu pesta, Herodia membuat rencana licik dengan meminta Salome menari untuk melenakan Raja Antibes (yang ingin dinikahi oleh Herodia), kemudian Salome membujuk pamannya, Antibes untuk memberikan kepala Yahya di hadapannya. Dari situ kemudian Yahya as wafat. Tiga bintang ini, Zakaria, Elizabeth, dan Yahya; manusia-manusia mulia yang tidak mudah hidupnya. Kita mendengar dalam hadits Nabi, kelak Yahya menjadi pengawal pemuda syurga bersama Isa, Hasan dan Husein.

[10] Dan yang terakhir adalah Maryam binti ‘Imran. Maryam ini berbeda dengan Maryam diatas. Maryam ini adalah keponakan Elizabeth, Ummu Isa Al Masih as. Ibunya bernama Hannah binti Fakud, keturunan Sulaiman as. Ia dan suaminya sangat ingin memiliki anak. Hingga suatu hari ketika Allah mengabulkan doanya, Hannah bernadzar anaknya menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (mengabdi) di Baitul Maqdis. Qadarallah, Hannah tidak melahirkan anak laki-laki, melainkan perempuan. Hal ini dikisahkan dalam ‘Ali imran : 35-37. Walaupun perempuan, Maryam pun menjadi menjadi pelayan kuil ibadah, hingga kemudian ketika tiba masa usia berkeluarga, Maryam dia hendak dinikahkan dengan Yusuf Al Najjar. Tetapi Allah berkehendak lain, sebelum Yusuf menyentuhnya, Maryam telh ditiupi ruh dalam rahimnya hingga ia mengandung Isa. Yusuf tetap menemaninya karena mendapat ilham bahwa kandungan Maryam merupakan anugerah dari Allah. Maryam melahirkan sseorang diri, karena saat ia hendak melahirkan, Yusuf mencoba mencari ornag yang bisa membantu namun sudah terlambat, Isa telah lahir. Ketika mereka kembali ke perkampungan, maka kaumnya pun mencemoohnya karena tetiba melihat Maryam telah menggendong anak. Tetapi Allah menjawabnya melalui lisan Isa sebagai mukjizat. Maryam adlah potret perempuan yang mulia. Isa pun kala masih kecil, seprti Yahya, tak bisa lepasa dari buruan Herodes, hingga Maryam membawanya menuju Mesir, dan Herodes masih mengejarnya. Maryam sungguh contoh ibu yang tangguh. Usahanya menjaga anaknya hingga dewasa dan dimuliakan Allah sebagai seorang Nabi tidaklah sia-sia. Iapun kelak disandingkan dengan pemimpin wanita syurga, bersama Khadijah, Fathimah, dan Asiyah.

Wallahu alam,

—————————————————————————-

Sahabat, tuntas sudah bagian pertama saya kisahkan. 14 orang wanita. Mampukah kita belajar dari mereka?

Jangan mengulangi dan meniru kesalahan perempuan-perempuan yang ditakdirkan mendampingi manusia-manusia pilihan; mari kita jaga lisan kita, mari taati dan dukung suami kita untuk mentaati Allah, tidak perlu membuka apa-apa yang tidak perlu ke banyak khalayak ramai. Jangan jadikan kedurhakaan pribadi kita, menjerumuskan banyak orang pula masuk ke dalamnya. Ingat kata Allah, wa laa tulquu bi-aydikum ilat tahlukah, dalam Quran Surah Al Baqarah: 195, wa laa, dan jangan, tulquu, kalian lemparkan, bi ay-diikum, tangan-tangan (diri) kalian, ilat tahlukah, dalam kebinasaan atau kehancuran.

Itulah mengapa Nabi memuliakan perempuan, “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)

Mari meneladani Sarah dalam kesabaran dan kesetiaan; meneladani Hajar dalam keridhoan dan kecerdasan, kemampuan mendidik anak dan membesarkan ummat; meneladani Rahmah dalam ketaatan pada suami, pengorbanan; meneladani Yokabed, Maryam, dan Asiyah dalam merawat anak dan meyakini pertolongan Allah; meneladani Shafurah dalam hal malu, dalam hal adab pergaulan dan interaksi; meneladani Balqis dalam menundukkan harta kekayaan kita tidak menjadikan hati kita lena mengingat Allah; meneladani Elizabeth dalam kegigihan menjaga anaknya; meneladani Maryam dalam kejujuran dan ketaatan kepadaNya.. Semoga kita bisa bertemu di syurgaNya Allah..

Dan tentunya masih banyak hikmah lain yang bisa kita ambil. Saya bukan ahli ilmu, saya pun masih belajar, semoga ada kesempatan berbagi bagian kedua dari buku ini, yakni tentang perempuan-perempuan dibalik turunnya ayat-ayat suci Al Quran.

Saya memiliki kebahagian tersendiri mampu mngenal lebih dekat perempuan-perempuan tersebut, setelah banyak belajar dari kalangan laki-laki mulia jaman dahulu 🙂 Saya teringat nasihat seorang gurunda jaman sekolah putih abu-abu yang protes pada saya, “Ta, kok belajarnya cuman ke para shahabat (yang laki-laki) saja? Yang perempuan dong!“. Setelah meneladani pemimpin-pemimpin mula, organisator-manager-penakluk peradaban, saatnya juga meneladani jemari-bahasa-laku lembut, anggun, nan menawan dari perempuan-perempuan pilihan.

yang selalu butuh Allah,

ita roihanah

11038878_10204223034398944_4929489747113994515_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s