Collaborative Planning – belajar dari Kang Emil

belajar dari Kang Emil: Collaborative Planning

(dalam Diskusi Kampung Wajah Kota – Gaung Bandung)

1380746_10200943450451395_318017997_n

“Jadi begini, di dalam teori kekuasaan, pemerintah itu bisa merubah sebesar 25%, jadi saya, dan jajaran saya, juga anggaran, itu hanya bisa merubah 25%. Berikutya, capital, itu bisa merubah 25%, civil soceity 25%, dan media 25%. Dulu saya mencoba membuat apa yg bisa saya lakukan dengan BCCF, Indonesia Berkebun, dsb tapi itu kekuatannya hanya 25%. Sekarang kita berada disini, ini kekuatannya 50%.”

“Jadi, untuk merubah itu ga bisa sendirian, filosofi negara mengurusi negara itu tidak bisa.”

“Prinsip perubahan itu harus disesuaikan dengan konteksnya. Harus objektif. Fair. Menggabungkan keinginan dan hasil analisis dengan kemauan masyarakat. Ini harus ketemu. Untuk mewujudkan perubahan yang besar itu modalnya dua: mimpi yang besar dan keberpihakan negara. Dari situlah lahir perubahan”

“Untuk keponakan-keponakan (sebutan utk mahasiswa arsitektur), berimajinasilah di tempat yang ingin kamu inovasikan, jangan di studio yang nyaman. Dalam 5 tahun ke depan, saya harus melakukan perubahan besar. Kuncinya apa? KOLABORASI. Contoh, mahasiswa punya banyak pasukan, saya punya banyak uang, kita kolaborasikan.”

“(Sebagai contoh kolaborasi). Kemarin saya rapat bersama kepala-kepala BUMN. Dengan semangat kolaborasi, Wifi di taman-taman kota Bandung ditanggung oleh PT Telkom. PT KAI mau menyumbangkan 10 Hektar dari 45 Hektar lahannya untuk HUtan Kota Bandung. Setiap hari senin, pelajar bebas menggunakan Bis DAMRI dengan tujuan manapun. Untuk yg bis DAMRI ini dananya bukan dari APBD, tapi dari Bank Muamalat yang ingin membantu anak-anak sekolah.”

Collaborative Planning akan saya dukung 1000%!”

“Mohon maaf saya harus undur diri, mohon doanya agar saya selalu sehat. Setelah ini harus ke agenda berikutnya. Jadi pemimpin adil itu susah (sambil tersenyum). Jam kerja saya di lapangan sampai jam 3 sore. Setelah itu dari jam 3 sore sampai jam 7 adalah jam untuk warga. Silahkan jika ingin diskusi lebih lanjut datang saja. terbuka untuk siapa saja. Masyarakat Bandung itu love to share.”

sederhana. ga sengaja terlihat kang emil lagi ngecekin twitter sembari nunggu giliran speech. mungkin cara mendekati masyarakat itu banyak jalannya, jika dulu Abu Bakar harus mengetuk pintu, Umar harus pergi di tiap malam untuk berkeliling, sekarang bisa juga mendekatkan masyarakat dengan pemimpin sedekat-dekatnya melalui teknologi yang ada.
sederhana. ga sengaja terlihat kang emil lagi ngecekin twitter sembari nunggu giliran speech. mungkin cara mendekati masyarakat itu banyak jalannya, jika dulu Abu Bakar harus mengetuk pintu, Umar harus pergi di tiap malam untuk berkeliling, sekarang bisa juga mendekatkan masyarakat dengan pemimpin sedekat-dekatnya melalui teknologi yang ada.

~ditulis ulang dengan bahasa saya sendiri, dengan poin-poin dari Kang Emil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s