Menjadi orang biasa

Di tengah segala hiruk pikuk keramaian dunia ini, saya kemudian merenungi diri. Saya teringat seseorang pernah mengatakan kepada saya, “Saya adalah orang biasa, dan akan tetap menjadi pribadi yang biasa. Saya lebih bahagia hidup tanpa pujian orang lain.” Di lain waktu, dalam hal jatuh cinta, seorang penulis yang sedang terkenal saat ini, sebut saja namanya Fahd Pahdepie, mengatakan dalam bukunya, “Saya hanya ingin bercerita tentang kisah jatuh cinta orang-orang biasa.” Bukan kisah mereka dengan latar belakang keluarga yang sangat baik dan mapan, bukan kisah heroik mereka yang telah dianggap hebat di khalayak ramai. Aah, kisah orang-orang biasa. Seperti kisah yang disampaikan Salim A. Fillah dalam ceramahnya suatu hari, “Seindah kisah seorang perempuan paruh baya di pinggir persawahan Gunung Kidul yang membawa bekal makanan kepada suaminya dibungkus daun pisang untuk makan siang, di pinggir tegalan dengan seutas senyum dari gigi yang ompong.” Setulus dan sesederhana itu.

Read More »

Gerobak orang-orang shalih

Gerobak orang-orang shalih

10398674_10205672845643319_3060526786882806105_n

Betapa menakjubkan melihat orang-orang shalih yang berlalu lalang di jalan kehidupan. Setiap jalan yang ia lalui, tidak ia tinggalkan kecuali dengan keharuman amalnya, indahnya taburan bunga kebaikan dan kebermanfaatan, menghibur setiap yang duka, membantu setiap yang membutuhkan, melunakkan hati yang keras, menguatkan yang rapuh dan lena. Orang shalih dengan gerobak keshalihannya itu terus mengayuh ke hadapan.

Maka, di bekas jalan-jalan orang shalih itu, melihatnya saja, kau ‘kan menemu keteladanan, bahkan dari caranya tersenyum menyapa setiap pengguna jalan. Setiap perkataan lisannya adalah doa dan prasangka baik, setiap tatapnya adalah keteduhan. Bahkan kasih sayangnya tidak hanya diungkapan di hadapan kita, tapi ia sampaikan ke langit sana. Betapa menakjubkan, karena setiap langkah, laku, dan tuturnya adalah efek aura keshalihan yang memancar dari dalam dirinya. Menitip harta dan kedudukan kepadanya tidak membuat kita khawatir, karena kita tau harta dan kedudukan akan aman di tangan orang-orang shalih. Di hadapan orang-orang shalih itu, dunia pun tunduk menaatinya.

Tidakkah kita ingin menjadi orang-orang itu, atau mengikuti jalan-jalan penuh bunga itu?
Selamat memetik keteladanan

#jumatbarakah

‘Ruang Dan Tempat’ Urban: Antara Lokalitas Dan Universalitas

Karena antara kita dan kota jang kita tinggali

Karena antara rumah dan kita sendiri, tiada lagi hubungan.

— Ajip Rosidi, cukilan puisi “Djembatan Dukuh”, 1956

Fenomena Ruang Urban Kita

Ada hal yang tidak dapat dipisahkan dalam ruang urban kita hari ini (Tardiyana, 2011), yakni yang biasa disebut dengan urban culture, yang dapat diuraikan dalam beberapa poin, yaitu work hard, play hard; café culture; consumtive society; dan aesthetic daily life. Pada kondisi kota masa kini setiap hal berjalan dengan cepat, aktivitas manusia kota sangat padat, dimana hal tersebut menyebabkan tingkat stress yang tinggi bagi penghuni kota. Kultur ‘nongkrong’ duduk berlama-lama di café membutuhkan desain café yang artistik dan menarik. Selain itu, kesibukan yang tinggi menyebabkan penduduk kota menjadi masyarakat yang konsumtif, terutama budaya perkotaan yang selalu menjadi sasaran pertama program globalisasi dunia, sehingga banyak sekali produk barang dan jasa masuk dan merambah di sudut-sudut horisontal maupun sudut vertikal perkotaan. Kehidupan sosial yang estetis menjadi tuntutan perkembangan jaman yang tidak dapat dielakkan. Arsitektur sebagai penyokong fisik perkotaan tidak bisa terlepas dari tuntutan ini juga. Perancangan ruang urban, mau-tidakmau, harus mengakomodir kebutuhan tersebut.

Read More »

Menata Ulang

Seperti itulah hidup. Barangkali kita harus mengeja banyak tanda, kita harus menjejak banyak cerita. Agar kita lebih mendewasa dalam pikir dan cara. Agar kita lebih rapi lagi menata rasa dan asa. Agar hidup ini lebih bermakna. -roihanah, 2015

25 tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk melukiskan cerita dalam kanvas kehidupan, Tetapi 25 tahun bukanlah apa-apa dalam hitungan waktu langit yang tak mampu kita eja. 25 tahun dalam hidup saya, merupakan 25 masa mencoba tumbuh dan mekar dengan segala musim kehidupan. Barangkali saya tak mampu menjelaskan detil fasenya, tetapi saya mampu belajar dari fase-fase itu. Fase-fase yang mendewasakan saya, pada waktu-waktu tak terduga. Saat yang lain masih pada anak tangga keberapa, saya harus telah sampai pada tangga keberapa. Dan tak pernah diajari untuk membanding-bandingkan, sehingga jika yang muncul perbedaan, hanya mencoba memaafkan saja, bahwa setiap cerita hidup orang berbeda. 🙂

Read More »

Jadi, bagaimana seharusnya pemahaman kita tentang pendidikan (anak)?

Dini hari ini, masih dari bilik rumah cahaya yang menghangatkan. Saya, ditemani salah satu member B-family membincangkan banyak hal tentang pengembangan kepribadian. Salah satunya adalah tentang trend pendidikan di rumah pada jaman kini. Saya menyampaikan padanya bahwa, di era timeline medsos saya dipenuhi dengan kebanggaan kawan-kawan yang fokus mendidik dari rumah [saja], entah mengapa saya belum menemukan titik ketenangan untuk meng-ikut jalur yang sama. Ada puzzle yang sepertinya belum terpenuhi dengan memilih metode itu. Barangkali ini juga karena kedangkalan ilmu saya tentang itu, ekspektasi yang belum terpenuhi berkaitan dengan metode itu dan as usual, tingkat kepuasan nalar intelektual saya tentang visi-misi pengembangan karakter yang belum terakomodasi dengan metode tersebut.

Suatu waktu di hari yang lain, sembari berselancar di laman-laman artikel mengenai urgensi, konsep, atau metode operasional tentang pendidikan di rumah; saya bertanya pada diri saya sendiri, “apakah itu cara terbaik yang sesuai dengan kondisi dan fase kehidupan masa kini (dan jika nanti akan saya pilih, maka itu harus menjadi pilihan yang mampu dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan)?“. Sampai hari ini, saya belum menemukan kecenderungan lebih untuk memilih opsi itu sebagai satu-satunya jalan pendidikan yang akan ditempuh dalam keluarga di masa depan.

Read More »

Inspirasiku agar sabar

dipindah dari catatan facebook beberapa tahun silam

Oleh: Abi Hafidz Sulthon

Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”(HR. Muslim)

Read More »